
SIARANDEPOK.COM – Di era sekarang, santri ke depannya harus kuat iman, cerdas dunianya, dan lurus niatnya. Hal tersebut disampaikan oleh Pimpinan Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Qolbun Salim SD-SMP-SMA di Kalibaru, Cilodong, K.H. Naim Mukhtar, saat menghadiri peringatan Hari Santri Kota Depok di Alun-Alun Timur Kecamatan Cilodong. Ia menegaskan bahwa pada zaman sekarang, tidak cukup bagi seorang santri hanya pintar mengaji kitab.
Menurut Naim, santri harus siap menghadapi tiga hal. Pertama, santri menjadi benteng akidah, yaitu harus paling paham mengenai halal-haram, sunah-bidah, serta hal yang boleh dan tidak boleh diikuti. Kedua, santri menjadi pemenang dunia, bukan korban dunia. Santri tidak boleh kalah bersaing, melainkan harus mampu memanfaatkan ponsel pintar untuk dakwah, berwirausaha, bekerja, dan menguasai bahasa. Jangan sampai santri hanya bisa berceramah, tetapi tidak mampu mencari nafkah yang halal.
Ketiga, santri menjadi pemimpin akhlak. Masyarakat tidak akan mengingat juara kelas berapa seorang santri, melainkan akan mengingat kesopanan, kejujuran, keandalan, dan kesederhanaannya. Sementara itu, Pondok Pesantren Qolbun Salim di Kalibaru, Cilodong, ke depannya akan mencetak santri yang qurani dan cinta Al-Qur’an, serta mandiri hingga mampu hidup tanpa bergantung pada pondok. Ketika pulang ke kampung halaman, kehadiran mereka diharapkan dapat membawa keberkahan dan kemanfaatan bagi lingkungan sekitar. Jika kriteria santri seperti ini terwujud, pesantren tidak akan pernah mati, melainkan justru semakin besar.
Naim menambahkan bahwa santri bukan sekadar mereka yang fasih melantunkan ayat, melainkan mereka yang mampu menerjemahkan ilmu menjadi akhlak dan pengetahuan menjadi pengabdian. Sebab, tidak ada artinya ribuan hafalan jika kejujuran masih diabaikan, begitu pula tingginya ilmu tidak bermakna jika kepedulian terhadap sesama justru memudar.
Hari Santri bukan hanya tentang mengenang perjuangan, melainkan juga menjadi sarana penjelas untuk mempertanyakan apakah ilmu yang dipelajari telah membawa manfaat bagi umat dan perubahan bagi negeri. Santri sejati tidak hanya pandai berbicara tentang kebaikan, melainkan juga berani memperjuangkannya dalam kehidupan nyata.
Sebagai penutup, ia berpesan agar santri terus mengaji untuk menerangi hati, berilmu untuk membenahi negeri, dan berakhlak untuk menjaga bumi.















