BBM dan Bahasa Kekuasaan: Ketika Pernyataan Menteri Menguji Psikologi Publik

- Reporter

Selasa, 23 Desember 2025 - 14:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rachma Aulia Wulansari

Di Indonesia, obrolan soal BBM bukan sekadar bahas harga, tapi soal urusan perut dan dapur yang sangat sensitif bagi siapa saja. Setiap ucapan pejabat tentang BBM, baik mengenai kualitas, distribusi, maupun kebijakan teknisnya, tidak hanya dianggap sebagai informasi biasa. Ucapan tersebut langsung menjadi penyebab munculnya reaksi dari masyarakat. Fenomena ini kembali terjadi setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuat pernyataan yang menegaskan bahwa kualitas BBM aman dan kekhawatiran publik dianggap berlebihan. Meski klarifikasi dari pemerintah memang penting, hal yang sering luput dari perhatian bukan hanya apa yang diucapkan, tetapi juga bagaimana ucapan itu diucapkan dan diterima oleh masyarakat. ika dilihat dari kacamata psikolinguistik, setiap kata yang keluar dari mulut pejabat bukan sekadar info lewat. Kata-kata itu adalah pemicu emosi yang bisa menentukan apakah rakyat akan merasa tenang atau justru semakin cemas.

Pernyataan yang bertujuan menenangkan, seperti menyatakan bahwa BBM “aman” atau mengatakan isu yang beredar “tidak benar”, secara linguistik dibuat agar dapat meredam kekhawatiran masyarakat. Namun bagi masyarakat yang sudah memiliki keraguan dan pengalaman negatif sebelumnya, ucapan semacam ini justru bisa menimbulkan efek sebaliknya. Dalam studi psikolinguistik, situasi ini dikenal sebagai ketidaksesuaian antara maksud pembicara dan pemahaman pendengar. Hal ini terjadi karena konteks psikologis masyarakat, di mana mereka tidak menerima informasi secara netral. Kita tentu masih ingat bagaimana kenaikan harga BBM di masa lalu memukul ekonomi keluarga. Pengalaman pahit inilah yang membentuk cara kita merespons setiap pernyataan baru dari pemerintah. Ketika pernyataan pemerintah terdengar terlalu sederhana atau membatasi ruang untuk meragukan, otak masyarakat justru memprosesnya sebagai tanda defensif, bukan sebagai bentuk kepekaan.

Di sinilah kerap terjadi perbedaan antara bahasa teknokratis dan pemahaman masyarakat. Kalimat yang terdengar positif dan pasti, tanpa mengakui kecemasan orang banyak, bisa disalahartikan sebagai pengabaian terhadap pengalaman mereka. Menurut teori pragmatik, makna dari ucapan tidak hanya ditentukan oleh kata-kata itu sendiri, tetapi juga oleh konteks sosial sekitarnya. Jika konteksnya adalah rasa tidak percaya, maka bahasa yang terlalu yakin justru bisa memicu perlawanan. Masalah bahan bakar murah bukan hanya soal kualitas bahan bakar itu sendiri, tetapi juga soal cara berkomunikasi. Masalahnya, saat rakyat butuh didengarkan kekhawatirannya, pemerintah justru sibuk melempar angka dan klarifikasi teknis. Kita tidak butuh sekadar data yang ‘aman’, kita butuh merasa bahwa beban kita memang dipahami. Perbedaan ini mungkin terlihat kecil, tetapi secara psikolinguistik sangat penting. Kata-kata seperti “tidak benar”, “aman”, atau “tidak perlu khawatir” mungkin terdengar tenang di lingkungan birokrasi, tetapi justru terasa mengabaikan perasaan masyarakat.

Selain itu, pernyataan dari pejabat yang diucapkan dalam forum lisan seperti konferensi pers atau wawancara biasanya dibuat secara spontan. Namun, di masa kini yang serba digital, ucapan tersebut berubah menjadi teks yang tetap ada dan bisa dikutip, dipotong, serta disebarkan lagi. Ketika ucapan itu tidak disiapkan untuk ditujukan kepada banyak orang, potensi salah paham bisa semakin besar. Dari segi psikolinguistik, komunikasi terkait kebijakan seharusnya tidak hanya memberi informasi, tetapi juga membangun hubungan emosional. Masyarakat perlu merasa dimengerti sebelum benar-benar meyakinkan. Mengakui kekhawatiran publik bukan berarti mengakui kesalahan dalam kebijakan, melainkan menunjukkan bahwa pihak yang berbicara memahami cara orang lain berpikir. Tanpa hal itu, setiap klarifikasi bisa terdengar seperti pembelaan sepihak.

Isu BBM mengajarkan satu hal penting: krisis kepercayaan sering kali bukan lahir dari kebijakan itu sendiri, melainkan dari bahasa yang mengiringinya. Pada akhirnya, saat seorang pejabat berbicara, rakyat tidak hanya menunggu angka yang akurat, tapi menunggu hati yang peduli. Karena kebijakan yang baik sering kali gagal bukan karena datanya salah, tapi karena bahasanya yang ‘mati’. Dalam konteks ini, bahasa bukan sekadar alat menjelaskan kebijakan, melainkan jembatan atau jurang antara negara dan warganya.

Penulis: Rachma Aulia Wulansari Mahasiswa UIN Jakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Berita Terkait

Wakil Wali Kota Depok Buka Kejuaraan Voli Muda: Fokus Sportivitas & Bakat
Di Kementerian Ekonomi Kreatif, Denta Berbagi Perspektif Mengenai Harmoni Seni Pertunjukan
SMP Pelita Atsiri Kabupaten Bogor Gelar Kegiatan Family Gathering Bersama Dirgantara AIA Tour Travel Depok Tahun 2026
KKMI KECAMATAN CILANDAK JAKARTA SELATAN ADAKAN KEGIATAN RIHLAH & FAMILY GATHERING BERSAMA DIRGANTARA AIA TOUR TRAVEL TAHUN 2026
Anak Muda Alumni Gontor, Dr Awaluddin Faj, M.Pd dilantik menjadi Pengurus Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Kota Depok Periode 2026-2031
LKSA PRIMAGO Depok dapat apresisasi Santunan Yatim Pada Pelantikan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) bersama Bapak Wakil Walikota Depok
Praktisi Hukum Andi Tatang Supriyadi: “Polemik Pembelian Buku Istri Walikota Depok, Jangan Asal Menuduh Korupsi Tanpa Pembuktian Hukum
Pimpin Upacara Hari Santri 2026 di Depok, Supian Suri Dorong Santri Kuasai Teknologi

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 11:55 WIB

Wawalkot Depok Minta ASN Resapi Makna Panca Prasetya KORPRI

Senin, 26 Oktober 2026 - 11:47 WIB

Aksi Bersih dan Parade Pemuda Depok Warnai Car Free Day Margonda Raya

Senin, 26 Oktober 2026 - 11:30 WIB

Berolahraga Sambil Edukasi Pemiliahan dan Pemberdayaan Sampah

Minggu, 25 Oktober 2026 - 14:52 WIB

Air Situ Pladen Diuji, DLHK Depok Tunggu Hasil Lab

Minggu, 25 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Wali Kota Depok: Seluruh Umat Beragama Punya Hak Setara Dirikan Rumah Ibadah

Minggu, 25 Oktober 2026 - 14:33 WIB

Supian Suri Apresiasi Semangat Kebersamaan di HUT ke-27 HKBP Limo

Minggu, 25 Oktober 2026 - 14:28 WIB

Dorong Sektor Usaha, Ini Misi Chandra Rahmansyah Bersama HIPPI Depok

Minggu, 25 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Supian Suri Sulap DOS Jadi Wadah Kreatif

Berita Terbaru

Apel pagi di Lapangan Balai Kota Depok pada Senin (26/10/2026) dipimpin oleh Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah. (Foto: Diskominfo Depok)

Berita Depok

Wawalkot Depok Minta ASN Resapi Makna Panca Prasetya KORPRI

Senin, 26 Okt 2026 - 11:55 WIB

Yayasan Peduli Lingkungan Sehat, PLN Peduli dan Kormi melaksanakan  Festival Bank Sampah Gelar Kary serta aksi Pemberdayaan Sampah. (Sumber foto: Istimewa)

Berita Depok

Berolahraga Sambil Edukasi Pemiliahan dan Pemberdayaan Sampah

Senin, 26 Okt 2026 - 11:30 WIB