Logat Jawa: Kesalahan Berbahasa atau Identitas Linguistik?

- Reporter

Selasa, 23 Desember 2025 - 14:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Intan Hafizatuz Zahra

Logat sering kali menjadi penanda yang paling cepat dikenali di tempat umum di Indonesia. Kajian sosiolinguistik menganggap aksen atau logat sebagai variasi bahasa yang secara alami disebabkan oleh latar belakang sosial dan geografis orang yang berbicara. Seseorang belum selesai mengucapkan satu kalimat, namun sudah lebih dulu diberi label: “Oh, orang Jawa ya? pantes medok”.

Logat Jawa sering kali muncul bukan hanya sebagai penanda linguistik, tetapi juga dijadikan objek gurauan, stereotip, bahkan pelabelan negatif. Dalam banyak situasi, penutur yang menggunakan logat Jawa, kerap dipersepsikan tidak cukup fasih, kurang profesional, atau dinilai tidak merepresentasikan “bahasa Indonesia baku”. Pertanyaannya, benarkah logat Jawa merupakan kesalahan berbahasa, atau justru bagian dari identitas linguistik yang wajar dan tak terpisahkan?

Logat Jawa dalam Persepsi Sosial

Dalam keseharian masyarakat Indonesia, bahasa Indonesia baku kerap dianggap sebagai tolok ukur yang paling ideal. Dampaknya, ragam bahasa lain termasuk logat, sering dilihat sebagai sesuatu yang “menyimpang”. Logat Jawa dengan kekhasan bunyinya, tak jarang dijadikan bahan lelucon di acara televisi, media sosial, maupun obrolan santai. Sekilas canda ini terasa sepele dan menghibur, namun jika terus diulang, ia perlahan membentuk cara pandang sosial: seolah-olah logat tertentu mencerminkan kelas sosial, tingkat pendidikan, atau kemampuan berbahasa seseorang.

Bagi penuturnya, cara pandang semacam ini tentu membawa dampak yang nyata. Sikap bahasa yang negatif terhadap variasi tertentu dapat menggerus kepercayaan diri dan secara perlahan membentuk hierarki prestise bahasa di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang Jawa yang canggung ketika berbicara di ruang formal, khawatir menjadi bahan tertawaan, atau berusaha menahan logatnya agar terdengar lebih netral. Pada kondisi ini, bahasa yang seharusnya berfungsi sebagai sarana komunikasi justru menjelma menjadi sumber kegelisahan. Di sinilah logat tidak lagi berhenti sebagai gejala linguistik, melainkan berkembang menjadi persoalan sosial.

Mengapa Logat Jawa Muncul? Perspektif Linguistik

Dari perspektif linguistik, hadirnya logat Jawa merupakan sesuatu yang sepenuhnya wajar. Hal ini sejalan dengan penjelasan dalam buku Sosiolinguistik dalam Pengajaran Bahasa Berbasis Multikultural, yang merujuk pada teori pemerolehan bahasa kedua. Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa pengaruh bahasa pertama terhadap bahasa kedua dikenal dengan istilah interferensi atau transfer bahasa. Interferensi muncul karena adanya perbedaan sistem antara bahasa pertama dan kedua

Kondisi ini relevan dengan situasi kebahasaan di Indonesia, dimana sebagian besar penutur bahasa Indonesia merupakan penutur dwibahasa bahkan multibahasa. Bagi penutur Jawa, bahasa Jawa berfungsi sebagai bahasa pertama (L1), sementara bahasa Indonesia dipelajari sebagai bahasa kedua (L2). Dalam proses pemerolehan ini, pengaruh bahasa ibu terhadap bahasa yang dipelajari hampir tidak terelakkan, sehingga memunculkan ciri-ciri fonologis khas yang dikenal sebagai logat.

Secara fonologis, bahasa Jawa memiliki sistem bunyi yang tidak sepenuhnya sama dengan bahasa Indonesia. Dalam buku Fonologi Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa perbedaan inventaris fonem antarbahasa kerap memicu terjadinya substitusi bunyi yang bersifat sistematis, bukan kebetulan. Sebagai contoh, fonem /f/ dan /v/ tidak dikenal secara asli dalam bahasa Jawa, sehingga dalam praktiknya sering digantikan dengan bunyi /p/ atau /b/. akibatnya, kata “fakta” dapat diucapkan sebagai “pakta”, atau “video” terdengar menjadi “bideo”. Pergeseran bunyi semacam ini bukanlah kesalahan yang muncul secara acak, melainkan mengikuti pola tertentu yang selaras dengan sistem bunyi yang dimiliki oleh penutur.

Lebih jauh lagi, penting untuk disadari bahwa pada dasarnya tidak ada penutur yang benar-benar “tanpa logat”. Dalam kajian linguistik deskriptif, setiap ujaran selalu merefleksikan sistem bahasa serta latar pengalaman penuturnya. Dengan kata lain, setiap orang memiliki aksen, termasuk mereka yang kerap dianggap berbicara paling baku sekalipun. Anggapan tentang “tidak berlogat” sejatinya hanyalah konstruksi sosial, yakni logat tertentu yang dianggap dominan atau memiliki prestise lebih tinggi di dalam masyarakat.

Bahasa Baku dan Realitas Kebahasaan

Bahasa Indonesia baku memang memegang peranan penting, khususnya dalam ranah pendidikan, administrasi, dan komunikasi formal. Namun demikian, keberadaan bahasa baku tidak otomatis menghapus keberagaman bentuk bahasa yang hidup di masyarakat. Dalam kajian linguistik, penting untuk membedakan secara tegas antara kesalahan berbahasa dan variasi berbahasa. Kesalahan merujuk pada pelanggaran kaidah yang dapat mengganggu pemahaman, sedangkan variasi termasuk logat, merupakan wujud penyesuaian bahasa yang dipengaruhi oleh latar belakang linguistik dan pengalaman penuturnya.

Persoalan mulai muncul ketika bahasa baku dipahami secara perspektif dan kaku, seakan-akan hanya ada satu model tutur yang dianggap benar dan pantas. Cara pandang semacam ini mengabaikan kenyataan bahwa praktik berbahasa di Indonesia bersifat majemuk dan dinamis. Bahasa Indonesia tidak hadir di ruang hampa, melainkan tumbuh, berkembang, dan terus hidup melalui pengguna para penuturnya yang berasal dari beragam latar bahasa daerah, termasuk bahasa Jawa.

*Logat sebagai Identitas, Bukan Aib*
Melihat logat Jawa sebagai bentuk kesalahan berbahasa sama artinya dengan menafikan sisi kemanusiaan dalam praktik berbahasa. Pendekatan deskriptif dalam linguistik justru mengajak kita untuk memahami bahasa sebagaimana ia digunakan oleh penuturnya, bukan sekadar menilainya berdasarkan ukuran ideal yang kaku. Logat merupakan rekam jejak perjalanan linguistik seseorang tentang bahasa pertama yang dikuasai, lingkungan sosial yang ia tumbuh, serta proses belajar yang ia jalani. Karena itu, logat bukan sesuatu yang perlu dihilangkan, melainkan dipahami dan diterima sebagai bagian dari keberagaman bahasa

Dalam ranah pendidikan bahasa, fokus utama seharusnya bukan pada upaya menghilangkan logat, melainkan menumbuhkan kesadaran akan konteks penggunaan bahasa. Penutur perlu dibekali kemampuan untuk memilih dan menyesuaikan ragam bahasa sesuai dengan situasi formal maupun informal, tanpa harus menanggalkan identitas kebahasaannya sendiri. Penguasaan bahasa baku tidak mesti dimaknai sebagai penghapusan logat secara total, melainkan sebagai kemampuan beralih ragam secara bijak dan profesional.

Logat Jawa bukanlah penanda ketidakmampuan berbahasa, melainkan cerminan kekayaan dan keberagaman linguistik Indonesia. Cara seseorang bertutur tidak selayaknya dijadikan tolok ukur untuk menilai kecerdasan maupun kapasitas dirinya. Dengan memandang logat melalui kacamata linguistik, kita diajak untuk bersikap lebih adil, terbuka, dan bijaksana dalam memahami praktik berbahasa di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, bahasa tidak semata-mata berkutat pada benar dan salah, tetapi juga menyangkut identitas dan sikap saling menerima, selama makna dapat dipahami, logat semestinya tidak menjadi hambatan, terlebih lagi alasan untuk merendahkan. Bahasa Indonesia adalah milik bersama seluruh penuturnya, hadir dan hidup melalui beragam logat yang menyertainya.

Penulis : *Intan Hafizatuz Zahrah _Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab_*

Berita Terkait

Wakil Wali Kota Depok Buka Kejuaraan Voli Muda: Fokus Sportivitas & Bakat
Di Kementerian Ekonomi Kreatif, Denta Berbagi Perspektif Mengenai Harmoni Seni Pertunjukan
SMP Pelita Atsiri Kabupaten Bogor Gelar Kegiatan Family Gathering Bersama Dirgantara AIA Tour Travel Depok Tahun 2026
KKMI KECAMATAN CILANDAK JAKARTA SELATAN ADAKAN KEGIATAN RIHLAH & FAMILY GATHERING BERSAMA DIRGANTARA AIA TOUR TRAVEL TAHUN 2026
Anak Muda Alumni Gontor, Dr Awaluddin Faj, M.Pd dilantik menjadi Pengurus Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Kota Depok Periode 2026-2031
LKSA PRIMAGO Depok dapat apresisasi Santunan Yatim Pada Pelantikan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) bersama Bapak Wakil Walikota Depok
Praktisi Hukum Andi Tatang Supriyadi: “Polemik Pembelian Buku Istri Walikota Depok, Jangan Asal Menuduh Korupsi Tanpa Pembuktian Hukum
Pimpin Upacara Hari Santri 2026 di Depok, Supian Suri Dorong Santri Kuasai Teknologi

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 11:55 WIB

Wawalkot Depok Minta ASN Resapi Makna Panca Prasetya KORPRI

Senin, 26 Oktober 2026 - 11:47 WIB

Aksi Bersih dan Parade Pemuda Depok Warnai Car Free Day Margonda Raya

Senin, 26 Oktober 2026 - 11:30 WIB

Berolahraga Sambil Edukasi Pemiliahan dan Pemberdayaan Sampah

Minggu, 25 Oktober 2026 - 14:52 WIB

Air Situ Pladen Diuji, DLHK Depok Tunggu Hasil Lab

Minggu, 25 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Wali Kota Depok: Seluruh Umat Beragama Punya Hak Setara Dirikan Rumah Ibadah

Minggu, 25 Oktober 2026 - 14:33 WIB

Supian Suri Apresiasi Semangat Kebersamaan di HUT ke-27 HKBP Limo

Minggu, 25 Oktober 2026 - 14:28 WIB

Dorong Sektor Usaha, Ini Misi Chandra Rahmansyah Bersama HIPPI Depok

Minggu, 25 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Supian Suri Sulap DOS Jadi Wadah Kreatif

Berita Terbaru

Apel pagi di Lapangan Balai Kota Depok pada Senin (26/10/2026) dipimpin oleh Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah. (Foto: Diskominfo Depok)

Berita Depok

Wawalkot Depok Minta ASN Resapi Makna Panca Prasetya KORPRI

Senin, 26 Okt 2026 - 11:55 WIB

Yayasan Peduli Lingkungan Sehat, PLN Peduli dan Kormi melaksanakan  Festival Bank Sampah Gelar Kary serta aksi Pemberdayaan Sampah. (Sumber foto: Istimewa)

Berita Depok

Berolahraga Sambil Edukasi Pemiliahan dan Pemberdayaan Sampah

Senin, 26 Okt 2026 - 11:30 WIB