Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Depok Bangun Ekosistem Transaksi Cashless dan Digitalisasi Program Pesantren

- Reporter

Rabu, 29 April 2026 - 09:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SiaranDepok — Dunia pesantren di Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, tradisi dan nilai salaf harus dijaga ketat; namun di sisi lain, manajemen operasional pesantren menuntut modernisasi agar tetap relevan dan efisien.

Di tengah gelombang perubahan ini, Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Depok muncul sebagai studi kasus menarik tentang keberanian meninggalkan sistem manual demi ekosistem digital yang terintegrasi.

Langkah ini bukan sekadar ikut-ikutan tren teknologi. Ini adalah respons strategis atas tantangan operasional “berdarah” yang selama 9 tahun terakhir menghantui bendahara dan pengasuh pesantren: hilangnya uang tunai santri dan kebocoran ekonomi pondok.

Uang Tunai Adalah Masalah Utama di Keuangan Pesantren, maka Sebelum melakukan transformasi digital, Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago menghadapi masalah klasik yang sebenarnya dialami oleh hampir 90% pesantren di Indonesia yang masih berbasis tunai. dua “penyakit” utama yang sering terjadi:

1. Masalah Keamanan & Beban Psikologis (The Lost Cash Issue)

Di lingkungan asrama yang padat, uang tunai adalah aset yang paling sulit diamankan. Santri yang notabene masih anak-anak atau remaja seringkali ceroboh. Uang terjatuh saat bermain, lupa menaruh dompet, atau bahkan insiden pencurian, adalah makanan sehari-hari.

Dampaknya bukan hanya kerugian materi bagi wali santri, tetapi juga beban psikologis bagi pengelola. Pengasuh habis waktu untuk mengurus laporan kehilangan, melakukan investigasi, dan menenangkan santri yang menangis. Energi yang seharusnya untuk pendidikan, habis untuk urusan dompet hilang. Untuk itu perlu suatu sistem atau aplikasi yang dapat menggantikan uang tunai menjadi uang elektronik.

2. Kebocoran Finansial (Economic Leakage)

Ini adalah masalah yang sering tidak disadari oleh Pimpinan Pondok. Ketika santri memegang uang tunai, mereka memiliki kebebasan penuh untuk membelanjakannya di mana saja termasuk di warung sekitar pondok.

Akibatnya, perputaran uang (velocity of money) tidak terjadi di dalam ekosistem pesantren. Unit usaha milik pondok (Koperasi/Kantin) sepi, sementara uang kiriman orang tua mengalir ke pihak luar. Tanpa sistem manajemen keuangan pesantren yang terintegrasi, potensi kemandirian ekonomi pesantren menjadi sulit dicapai.

Maka, Keputusan beralih ke sistem CARDS didasarkan pada kebutuhan akan efisiensi operasional. Sistem ini menawarkan solusi Closed Loop yang aman, di mana transaksi hanya dapat dilakukan di lingkungan pesantren menggunakan kartu santri digital.

Pimpinan Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Dr Awaluddin Faj, M.Pd menyampaikan bahwa Sistem ini dipilih karena mampu menyederhanakan proses transaksi dan menyediakan data keuangan yang tercatat secara otomatis,”

Bukan hanya cashless, tapi absensi masuk kelas, progres pendidikan dan hafalan, sanksi disiplin dan pantauan orang tua murid terhadap keuangan anak yang terpakai, sehingga ini bisa menjadi transparansi dan minimalisir kehilangan, ujar Ustadz Awaluddin Faj.

Semoga ikhtiar ini menjadi kemajuan dan kebaikan bagi seluruhnya, dan dapat mengurangi hal yang tidak diinginkan baik itu dari segi keamanan maupun penggunaan.

Informasi program Penerimaan Santri dan Santriwati Baru Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago, bisa hubungi

+62 896-2002-0062

Berita Terkait

Wali Kota Depok dan Masyarakat Meriahkan Senam Massal KORMI x Aloha Max di DOS
28.629 Lulusan SPPI Segera Kelola Koperasi Desa Merah Putih di Seluruh Indonesia
BGN Hentikan Sementara Operasional Dapur MBG Karangturi usai Ratusan Siswa Diduga Keracunan
Batik Gong Si Bolong Depok Tampil Memukau di Indonesia Fashion Week 2026
10 Pasang Finalis Abang Mpok Depok Tampilkan Bakat Lewat Lenong dan Budaya Lokal
Supian Suri Senam Bersama Ribuan Warga di DOS, Ajak Budayakan Hidup Sehat
Festival Kreasi Budaya Anak Semarakkan Hari Anak Nasional Jawa Barat 2026, Ruang Ekspresi Sekaligus Pelestarian Budaya Sunda
Supian Suri Dilantik Jadi Ketua Mabicab Pramuka Depok, Wahid Suryono Pimpin Kwarcab 2026–2031

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 15:11 WIB

Pemkot Depok Gelar Job Fair 2026 di Detos, Buka Ribuan Lowongan Kerja Mulai Lulusan SMA

Rabu, 5 Agustus 2026 - 15:06 WIB

Keberhasilan Imunisasi Kota Depok Jadi Percontohan, Delegasi Nigeria Sambangi Puskesmas Sukmajaya

Rabu, 5 Agustus 2026 - 15:01 WIB

Nakhodai DPC PAPPRI Depok, Qori Hatmalina Siap Dorong Industri Musik Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif

Selasa, 4 Agustus 2026 - 15:55 WIB

Pemkot Depok Buka Peluang Kerja Inklusif bagi Penyandang Disabilitas di Job Fair 2026

Selasa, 4 Agustus 2026 - 15:47 WIB

Pemkot Depok Jajaki Kerja Sama Pemanfaatan Studio Alam TVRI untuk Pentas Seni dan Musik

Senin, 3 Agustus 2026 - 23:37 WIB

Sambut HUT ke-81 RI, Lurah dan Warga Beji Depok Kompak Pasang Bendera Merah Putih

Senin, 3 Agustus 2026 - 23:27 WIB

Pemkot Depok Alokasikan Rp1 Miliar Lebih untuk Perbaiki Trotoar Amblas di SeCAWAN

Senin, 3 Agustus 2026 - 22:13 WIB

U-Turn Jalan Kartini Depok Ditutup Uji Coba, Ini Rute Alternatif untuk Pengendara

Berita Terbaru