BKKBN Klaim Sebagian Daerah Sudah Terapkan Pembangunan Berwawasan Kependudukan

- Reporter

Selasa, 10 September 2024 - 10:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siarandepok.com-Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Bonivasius Prasetya Ichtiarto mengklaim sebagian pemerintah daerah di Indonesia sudah menerapkan konsep pembangunan berwawasan kependudukan. Hal ini tecermin dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) yang di dalamnya turut memasukkan indikator pembangunan kependudukan yang bersumber dari grand design pembangunan kependudukan (GDPK).

“Tahun ini sudah dilaksanakan monev untuk kabupaten dan kota. Apakah GDPK itu dilaksanakan atau tidak? Cara lihatnya bagaimana? Pertama, ada yang sudah ada peraturan gubernurnya, peraturan bupatinya, atau peraturan wali kotanya,” kata Bonivasius saat ditemui di sela Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) Bidang Pengendalian Penduduk II Tahun 2024 yang berlangsung pada 9-12 September 2024 di Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Setelah itu, sambung Bonivasius, didalami lagi adanya beberapa indikator yang masuk dalam RPJMD. Menurutnya, jika sudah masuk dalam RPJMD, berarti harus dilaksanakan dalam pembangunan daerah. Dengan demikian, pembangunan daerah tersebut sudah menerapkan konsep pembangunan berwawasan kependudukan.

Dari seluruh provinsi yang dilakukan monitoring dan evaluasi, Bonivasius menilai Provinsi Jambi masuk kategori paling berhasil. Atas keberhasilan itu, BKKBN mendaulat Provinsi Jambi sebagai provinsi terbaik implementasi GDPK dalam perencanaan pembangunan pada puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-31 Tahun 2024. Provinsi lain yang dianggap menonjol antara lain Kalimantan Timur.

“Yang jelas begini, ketika merancang pembangunan daerah, subjek maupun objeknya kan manusia. Manusia itu kependudukan. Contohnya, ketika mereka merencanakan pembangunan, maka yang dilihat terlebih dahulu julah penduduknya. Berapa pertumbuhan penduduk di daerahnya? Berapa TFR-nya? Itu masuk dalam perencanaan penduduk mereka. Karena, mau tidak mau ketika bicara penduduk, maka berapa sumber daya yang harus disiapkan agar pembangunan berhasil untuk masing-masing daerah,” jelas Bonivasius saat dimintai contoh konkret implementasi pembangunan kependudukan dalam perencanaan daerah.

Disinggung mengenai daerah prioritas dalam pembangunan berwawasan kependudukan, Bonivasius menilai seluruh provinsi di Pulau Jawa merupakan prioritas. Alasannya, Pulau Jawa saat ini ditempati lebih dari setengah penduduk di Indonesia. Sementara itu, luas wilayah Pulau Jawa sebesar 129.600,71 kilometer persegi hanya 7 persen dari total luas wilayah Indonesia.

“BKKBN fokus pada provinsi di Jawa, baik Jawa Barat, Jawa Tengah, maupun Jawa Timur. Semuanya menjadi bagian tak terpisahkan tentunya. Sampai ke kabupaten dan kota. Kalau melihat hasil penghargaan pada saat Harganas kemarin, cukup banyak yang mendapatkan penghargaan karena mereka sudah menyelesaikan GDPK-nya. Kemudian, beberapa kabupaten dan kota sudah memasukkan indikator kependudukan ke dalam RPJMD maupun RKPD,” tambah Bonivasius.

Bonivasius menyoroti sejumlah isu strategis terkait kependudukan yang perlu mendapat perhatian pemerintah daerah. Sebut saja misalnya ageing population dan bonus demografi. Menurutnya, puncak bonus demografi Indonesia sebetulnya sudah terlewati. Hanya tersisa sekitar 10-15 tahun yang harus dioptimalkan.

“Itu bisa dioptimalkan ketika penyusunan GDPK-nya. Karena ketika menyusun GDPK, di sana jelas ada roadmap yang harus dicapai, program-program apa yang harus dilakukan, dan seterusnya,” ungkap Bonivasius.

Di bagian lain, Bonivasius mengaku pihaknya sudah menyiapkan sistem peringatan dini pengendalian penduduk. Sistem ini disajikan dalam bentuk dashboard, sehingga masing-masing daerah bisa melihat dengan jelas problem yang dihadapinya. Dia mencontohkan, satu daerah dengan TFR 2,1 sejatinya memiliki pendekatan pembangunan berbeda dengan daerah yang memiliki TFR 2,6.

“Setiap masalah yang ditampilkan itu ada sarannya. Itulah yang membantu mereka dalam melaksanakan pembangunan berwawasan kependudukan,” jelas Bonivasius.

Berita Terkait

Mahasiswa UI Ditemukan Tewas di Kamar Kos di Kukusan Depok
20 Warga Depok Siap Berangkat Kerja ke Jepang, Pemkot Buka Peluang untuk 1.000 Peserta
14 Bangunan Toko di Jalan Raya Limo Disorot, Diduga Tak Berizin
Pemkot Depok Mulai Rancang Pembangunan Flyover Margonda-Juanda, Ditargetkan Groundbreaking 2027
Pemkot Depok Gandeng PT BSA Olah Sampah Jadi RDF 1.000 Ton per Hari
Unindra Terima 7 Ribu Lebih Mahasiswa Baru, PKKMB Digelar Luring dan Daring
Warga Depok Berpeluang Kerja di Jepang, Pelatihan Driver Dibuka Gratis
Progres Jalan Enggram dan Jalan Pemuda Sawangan Lampaui 51 Persen

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 19:29 WIB

Cegah Tawuran, Polres Metro Depok Canangkan Bapak Asuh dan Sahabat untuk Siswa

Kamis, 3 September 2026 - 17:59 WIB

HUT Ke-27 DPRD Depok: Yeti Wulandari Tekankan Persatuan dan Integritas Anggota Dewan

Kamis, 3 September 2026 - 17:52 WIB

Mahasiswa UI Ditemukan Tewas di Kamar Kos di Kukusan Depok

Kamis, 3 September 2026 - 17:49 WIB

20 Warga Depok Siap Berangkat Kerja ke Jepang, Pemkot Buka Peluang untuk 1.000 Peserta

Kamis, 3 September 2026 - 17:45 WIB

14 Bangunan Toko di Jalan Raya Limo Disorot, Diduga Tak Berizin

Kamis, 3 September 2026 - 16:33 WIB

Pemkot Depok Gandeng PT BSA Olah Sampah Jadi RDF 1.000 Ton per Hari

Rabu, 2 September 2026 - 19:44 WIB

Atasi Masalah Sampah, PT BSA dan Pemkot Depok Bangun Fasilitas Pengolahan Modern di TPA Cipayung

Rabu, 2 September 2026 - 19:40 WIB

Peringati HUT ke-37 GOW, Wali Kota Depok Dorong Perempuan Jadi Penggerak Pengurangan Sampah

Berita Terbaru