Ngerahul 1 : Mancing Bakot

- Reporter

Sabtu, 27 April 2024 - 19:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Syamsul Yakin (Penulis Buku “MILIR”)

Sebelum ada bermacam-macam mainan, mancing bakot jadi hiburan paling menyenangkan. Walaupun saya tidak tahu untuk apa bakot dipancing. Tapi yang pasti pada saat bakot berhasil saya tarik, bahagianya tidak ketulungan.

Bakot berbeda dengan semut api-api. Bakot tidak ngantup. Kalaupun menggigit, rasanya seperti digigit kerangrang. Atau bahkan kurang. Sementara semut api-api kalaupun jogrogannya agak kecilan, tapi antupannya bikin kita sakit seharian.

Saya seringkali mancing bakot pake kembang rumput. Saya pilih kembang rumput yang ukurannya sedang supaya pas dengan lobang bakot yang tidak terlalu besar. Mungkin ukurannya rega dua atau tiga mili. Caranya, bongkot kembang rumput saya masukin sebagai empan.

Bakot tidak suka bikin lobang di sembarang tempat. Dia tidak geguleran di tanah berdebu, becek, apalagi berlumpur. Umumnya, bakot suka tinggal di lobang kering agak teduh di bawah pepohonan. Saya biasanya mancing bakot di bawah pohon cempedak atau pohon nangka.

Mancing bakot tidak seru kalau dewek-dewek. Saya seringkali ajak dua orang bocah seusia saya. Tempo-tempo kita ngadu main banyak-banyakan dapat bakot. Bakot hasil tangkapan biasanya dibiarkan saja di atas tanah. Paling-paling digurah kalau dia lari terlalu jauh. Kalau sudah bosan, kawanan bakot kita lepaskan begitu saja.

Mancing bakot biasanya bukan mainan utama, tapi mainan antara. Maksudnya, sebelum main bola sambil nunggu bocah pada kumpul, saya dan teman-teman mancing bakot dulu. Atau kadang kalau lagi nyari kayu bakar. Sambil nunggu matahari agak ademan, saya mancing bakot dulu. Bagi yang punya piaraan, kayak kambing atau sampi, sebelum ngarit mereka lebih dulu mancing bakot.

Mancing bakot lebih seru dari nangkep kedongklang. Nangkep kedongklang serunya kalau nemuin lobangnya. Lobang kedongklang biasanya ada di atas tembingan. Lobangnya bunder, cakep, dan halus. Kalau dicolek lobangnya langsung murag. Kalau sudah murag, kedongklang dengan sangat mudah ditangkap.

Anak seusia saya pada tahun 80-an, selain mancing bakot dan nyari kedongklang buat mancing lele, ada juga permainan yang juga seru, yakni nyari undur-undur. Berbeda dengan bakot dan kedongklang, undur-undur hidup di tanah berbedu. Saya biasanya nangkap undur-undur di bawah langkan, slup rumah yang terbuat dari kayu.

Saya tidak pernah nanya kepada orang tua-tua, apa gunanya bakot, kedongklang, dan undur-undur buat kesehatan. Sebab semua binatang yang diciptakan Tuhan, pasti berguna buat manusia. Kayak kiong racun, saat saya anak-anak saya sudab tahu gunanya untuk obat kebacok, kapacul, atau kena beling. Selain itu, belakangan kiong racun digunakan juga buat empan lele dumbo.

Saya juga belum sempat nanya kepada baba saya, sejak kapan mancing bakot, nyari kedongklang, dan nyari undur-undur di lakukan orang Parung Bingung. Sejak zaman baba saya, engkong saya, atau kumpi saya, Kiyai Haji Muhasim? Entahlah, itu memang tidak terlalu penting.

Entah sudah berapa dekade, saya tidak melihat bakot, kedongklang, dan undur-undur. Tidak berlebihan kalau tradisi bocah Depok zaman dulu dihidupkan lagi. Minimal, kita ngajak anak kita buat mancing bakot, mumpung masih ada kita yang bisa ngajarin caranya. Bahkan kalau perlu, dalam lomba tujuhbelasan, adakan cabang lomba mancing bakot. Anda setuju?*

Berita Terkait

Kemarau Melanda Sungai Ciliwung Depok Jadi Wisata Air
Depok Seru Semua Diharapkan Jadi Wadah Hiburan dan Edukasi bagi Warga
Cing Ikah: Al-Qur’an Harus Menjadi Kompas Keluarga Hadapi Tantangan Era Digital
Pelatihan AI GP Ansor Depok Disambut Antusias, Yuni Indriany: Anak Muda Harus Jadi Pencipta Teknologi
Pengajian Al-Hikam Jadi Ruang Refleksi Pembangunan, Rohmat Rospari: Mari Menilai Secara Utuh
Di Pengajian Al-Hikam, Wali Kota Depok Supian Suri Pastikan Tak Ada Anak Putus Sekolah
BNN Kota Depok Libatkan MUI dalam Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional 2026, Rohmat Rospari: Pencegahan Dimulai dari Keluarga
Meneguhkan Tauhid atas Rezeki: Ketika Ikhtiar Bertemu dengan Keyakinan

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 20:22 WIB

Urai Kemacetan Jalan Raya Sawangan, Jalur Depan Gang Duren Menerapkan Sistem Satu Arah

Senin, 27 Juli 2026 - 20:14 WIB

Kebut Akses Tol Cipayung, Wali Kota Depok Supian Suri Targetkan Daya Tarik Investor Meningkat

Senin, 27 Juli 2026 - 16:24 WIB

Selesaikan Masalah Warga dari Hulu, Pemkot Depok Resmikan Posyandu 6 SPM di Meruyung

Senin, 27 Juli 2026 - 16:13 WIB

Pemkot Depok Gelar Job Fair 2026 di Detos, Buka Lebih dari 1.000 Lowongan Kerja

Senin, 27 Juli 2026 - 16:06 WIB

Wawalkot Depok Minta Operasi Bersih Libatkan Warga, Bukan Cuma ASN

Senin, 27 Juli 2026 - 16:01 WIB

Urai Kemacetan Pasar Cisalak, Pemkot Depok Tata Lapak Pedagang di Bahu Jalan Raya Bogor

Senin, 27 Juli 2026 - 08:05 WIB

Cing Ikah: Al-Qur’an Harus Menjadi Kompas Keluarga Hadapi Tantangan Era Digital

Minggu, 26 Juli 2026 - 21:29 WIB

Pelatihan AI GP Ansor Depok Disambut Antusias, Yuni Indriany: Anak Muda Harus Jadi Pencipta Teknologi

Berita Terbaru

Headline

Kemarau Melanda Sungai Ciliwung Depok Jadi Wisata Air

Senin, 27 Jul 2026 - 22:12 WIB