
Oleh: Rohmat Rospari
Siarandepok.com – Di tengah ketidakpastian ekonomi, persaingan dunia kerja yang semakin ketat, dan derasnya arus informasi yang kerap menghadirkan kecemasan, satu pertanyaan mendasar muncul dalam benak banyak orang: Apakah rezeki saya akan cukup?
Kekhawatiran ini menjadi fenomena yang tidak hanya melanda masyarakat perkotaan, tetapi juga mereka yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, semakin maju peradaban, semakin tinggi pula tingkat kecemasan manusia terhadap masa depannya.
Padahal, Islam sejak empat belas abad yang lalu telah memberikan fondasi yang kokoh tentang bagaimana seorang mukmin memandang rezeki. Persoalan rezeki bukan semata-mata persoalan ekonomi, melainkan persoalan akidah dan tauhid. Seberapa besar keyakinan seseorang kepada Allah akan tercermin dari bagaimana ia memandang rezeki yang sedang atau belum ia peroleh.
Dalam kitab Al-Hikam, Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari memberikan tamparan spiritual yang sangat relevan hingga hari ini. Beliau berkata:
“Mengapa engkau bersungguh-sungguh terhadap sesuatu yang telah dijamin untukmu, sementara engkau lalai terhadap sesuatu yang dituntut darimu?”
Dalam redaksi lain dijelaskan bahwa manusia sering kali menghabiskan energi untuk mengejar sesuatu yang sebenarnya telah Allah tetapkan baginya, yaitu rezeki dunia, sementara ia justru tidak bersungguh-sungguh mengejar kehidupan akhirat yang dijanjikan kekal.
Hikmah ini bukanlah ajakan untuk meninggalkan pekerjaan atau berdiam diri menunggu datangnya rezeki. Sebaliknya, Imam Ibnu ‘Athaillah sedang meluruskan orientasi hati. Yang dikritik bukanlah usaha, melainkan kecemasan yang berlebihan hingga melupakan Allah.
Banyak orang bekerja tanpa mengenal waktu, tetapi kehilangan ketenangan. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidup sederhana, namun penuh rasa syukur dan ketenteraman karena meyakini bahwa Allah adalah Ar-Razzaq, Dzat Yang Maha Memberi Rezeki.
Keyakinan tersebut ditegaskan Allah dalam Surah Al-Mulk ayat 15:
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu dibangkitkan.”
(QS. Al-Mulk [67]: 15).
Ayat ini mengandung dua dimensi yang saling melengkapi: dimensi ikhtiar dan dimensi tauhid. Allah menggunakan kata dzalūlan, yang berarti bumi telah ditundukkan, dimudahkan, dan disediakan bagi kehidupan manusia. Gunung, lautan, tanah yang subur, hingga berbagai sumber daya alam merupakan bukti bahwa Allah telah menyiapkan “ruang kehidupan” bagi manusia.
Dalam Tafsir Al-Misbah, Prof. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa penggunaan kata ‘dzalūlan’ menunjukkan kasih sayang Allah kepada manusia. Bumi bukanlah tempat yang mustahil dihuni, melainkan lingkungan yang telah dipersiapkan agar manusia dapat bergerak, bekerja, berdagang, bertani, berlayar, dan mengembangkan peradaban.
Karena itu, perintah “famsyū fī manākibihā” (berjalanlah di segala penjurunya) bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi simbol dari kerja keras, kreativitas, mobilitas, dan kesungguhan dalam mencari karunia Allah.
Pandangan serupa juga dijelaskan para ulama tafsir klasik. Dalam karya-karya tafsir yang dinisbatkan kepada Imam Asy-Syirazi, dijelaskan bahwa perintah berjalan di muka bumi menunjukkan kewajiban manusia untuk menjemput rezeki melalui usaha yang halal, tanpa menggantungkan hidup kepada manusia lain. Allah telah menjamin adanya rezeki, tetapi manusia tetap diperintahkan menempuh sebab-sebab yang telah Allah ciptakan sebagai bagian dari sunnatullah.
Yang menarik, setelah ayat tentang ikhtiar mencari rezeki, Allah langsung melanjutkan dengan firman-Nya:
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu sehingga tiba-tiba bumi itu berguncang?” (QS. Al-Mulk [67]: 16).
Kemudian Allah berfirman lagi:
“Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana akibat mendustakan peringatan-Ku.” (QS. Al-Mulk [67]: 17).
Susunan ayat ini sangat indah. Setelah memerintahkan manusia bekerja, Allah justru mengingatkan bahwa seluruh hasil usaha tetap berada di bawah kekuasaan-Nya. Seolah Allah ingin mengatakan bahwa manusia wajib bekerja, tetapi jangan pernah menggantungkan harapan kepada pekerjaannya.
Manusia wajib berusaha, tetapi jangan pernah menyandarkan hidup kepada usahanya. Sebab yang menentukan hasil bukanlah semata-mata kecerdasan, modal, jabatan, ataupun relasi, melainkan kehendak Allah SWT.
Inilah hakikat tawakal yang sering disalahpahami. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, sebagaimana ikhtiar bukan berarti melupakan Allah. Keduanya adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.
Al-Qur’an bahkan mengajarkan bahwa setiap tujuan memiliki jalan ikhtiarnya masing-masing. Allah tidak hanya memberikan harapan, tetapi juga menunjukkan langkah-langkah praktis untuk meraihnya.
Pertama, apabila seseorang menginginkan rezeki, maka ikhtiarnya adalah “berjalan di muka bumi. Artinya, manusia harus aktif, produktif, bekerja, belajar, berdagang, bertani, berwirausaha, atau melakukan aktivitas yang halal. Islam tidak mengenal budaya berpangku tangan.
Kedua, apabila seseorang menginginkan ampunan Allah, maka Al-Qur’an menggunakan kalimat “wa sāri’ū ilā maghfiratin” (“Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu”, (QS. Ali ‘Imran: 133).
Kata “sāri’ū menunjukkan bahwa taubat tidak boleh ditunda. Semakin cepat kembali kepada Allah, semakin besar peluang memperoleh rahmat-Nya.
Ketiga, apabila seseorang ingin selalu mengingat Allah, maka jalan yang Allah ajarkan adalah memperbanyak zikir. Firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41).
Bukan zikir sesekali, melainkan zikir yang terus-menerus hingga hati menjadi tenang. Dalam kondisi ekonomi sesulit apa pun, hati yang dipenuhi zikir tidak akan mudah dikuasai rasa panik.
Keempat, apabila seseorang menginginkan kemuliaan dan keberkahan hidup, Allah memerintahkan:
“Fastabiqul khairāt” (“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.”), (QS. Al-Baqarah: 148).
Islam mengajarkan kompetisi, tetapi kompetisi dalam amal saleh, bukan dalam kesombongan atau kerakusan. Semakin besar kontribusi seseorang bagi masyarakat, semakin luas pula pintu keberkahan yang Allah bukakan baginya.
Di sinilah letak keindahan ajaran Islam. Al-Qur’an selalu memasangkan antara tujuan dan ikhtiar. Rezeki ditempuh dengan bekerja. Ampunan diraih dengan bersegera bertaubat. Kedekatan kepada Allah dibangun melalui zikir. Kemuliaan diperoleh dengan berlomba dalam kebajikan. Tidak ada hasil tanpa usaha, tetapi tidak ada pula usaha yang membuahkan hasil tanpa izin Allah.
Dalam konteks kehidupan modern, pesan ini menjadi sangat penting. Banyak orang mengalami burnout, stres, bahkan kehilangan integritas demi mengejar materi. Sebagian menghalalkan segala cara karena merasa rezekinya bergantung pada kecerdikannya sendiri. Sebaliknya, ada pula yang pasif dengan alasan tawakal, padahal Islam tidak pernah mengajarkan kemalasan.
Tauhid tentang rezeki mengajarkan keseimbangan. Seorang mukmin bekerja sebaik mungkin karena itu adalah perintah Allah. Namun, ia tetap tenang apabila hasilnya belum sesuai harapan karena ia yakin bahwa Allah tidak akan pernah salah dalam membagikan rezeki kepada hamba-Nya. Ketenangan ini bukan berasal dari besarnya saldo rekening, tetapi dari besarnya kepercayaan kepada Rabb semesta alam.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang mukmin bukanlah seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa kuat keyakinannya kepada Allah saat bekerja mencari rezeki. Sebab rezeki bukan hanya tentang apa yang masuk ke dalam genggaman tangan, tetapi juga tentang keberkahan yang memenuhi hati dan kehidupan.
Ketika tauhid diteguhkan, kecemasan akan berkurang. Ketika ikhtiar dilakukan dengan benar, pintu-pintu karunia akan terbuka. Dan ketika keduanya berpadu, seorang mukmin akan memahami bahwa bekerja adalah ibadah, rezeki adalah anugerah, dan semua perjalanan hidup pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb















