oleh

ALLAH AL-KABIR ( Yang Maha Besar )

-Agama, Pendidikan-2.517 views

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA

Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Indonesia Kota Depok

 

Konsepsi tentang Kebesaran Allah tidak memadai bagi pemahaman kita. Seorang sufi asal Turki, yakni Syekh al-Jerrahi membuat ibarat. Katanya, “Jika kita memiliki kendaraan yang kecepatannya seperti yang kita pikirkan dan bayangkan, dan jika kita mengendarainya pada jalan yang lurus, pada satu arah, menuju kedalaman langit, menempuh jarak yang tidak terukur dengan melewati jutaan matahari dalam setiap detik, dan jika kita hidup bermilyar-milyar abad, maka yang kita tempuh hanyalah segelintir alam semesta”.

Sangka kita terlalu kecil tentang alam semesta, dan akal kita tak sepadan bersanding dengan Ke-Maha-Besaran-Nya. Tetapi, mengapakah manusia selalu merasa besar, kuasa, dan tinggi?

Padahal dalam al-Qur’an, Allah telah mendeklarasikan bahwa Dialah sebagai Yang Maha Besar. Misalnya, “Yang mengetahui semua yang gaib dan yang nampak. Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi” (QS. al-Ra’d/13: 9).

Dalam QS. al-Hajj/22: 62, Allah katakan, “Kuasa Allah yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah Dialah (Tuhan) yang benar dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil. Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. “Mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar”. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS. Ghafir/9: 12). Pun ayat 34 dalam surat al-Nisaa/4, yakni, “Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

Secara bahasa, al-Kabir berarti lawan dari kata kecil. Menurut Laleh Bakhtiar, penulis buku The Sense of Unity: The Sufi Tradition in Persian Architecture, al-Kabir sebagai sifat Allah adalah ungkapan kesempurnaan zat yang ditandai minimal oleh dua hal. Pertama, Keabadian-Nya, baik masa lalu maupun masa depan. Dialah awal yang tanpa permulaan dan akhir yang tanpa akhir. Dia kekal abadi. Selain Allah selalu melalui proses berkurang, mengalami kepunahan dan dimakan usia.

Kedua, Keberadaan Allah merupakan sumber terpancarnya eksistensi semua makhluk. Bisa dimengerti kalau ayat-ayat tentang al-Kabir (Yang Maha Besar) diikuti dengan al-Aliy dan al-Muta’aliy. Sebab semesta raya tunduk karena Kebesaran-Nya dan manusia dalam makro kosmos bersujud kepada-Nya karena ketinggian-Nya.

Dalam sejarah, raja Namrud, seorang penguasa angkuh yang hidup sezaman dengan Nabi Ibrahim, pernah menantang kebesaran Allah. Sebagai raja, Namrud merasa memiliki hak proregatif sehingga bisa berbuat sesuka hatinya. Ibrahim sebagai simbol perlawanan terhadap penguasa zalim pada waktu itu mengingatkan bahwa kebesaran manusia hanyalah serpihan kecil dari Kebesaran Allah.

Inilah dialog mereka, seperti diabadikan al-Qur’an surat al-Baqarah/2: 258: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan. Ketika Ibrahim mengatakan, Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan, orang itu berkata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan’. Ibrahim berkata: ’Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat’. Lalu terbungkamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim”.

Kisah keangkuhan Namrud itu terus saja bermetamorfosis hingga kini. Apalagi, secara psiko-sosiologis, mereka yang kecil itu bangga bisa menjadi besar dan dianggap besar. Rasa bangga itu muncul sebagai persepsi bahwa kebesarannya vis-à-vis dengan kekecilan sesamanya. Ketika bersama mereka yang besar, ia larut bersama kebesaran itu. Ditingkahi dengan gerak tubuh dan aksen orang-orang besar, ia mengubur dalam-dalam dirinya yang kerdil.

Tak hanya itu, mereka yang kerdil saat dianggap kecil dan ditelantarkan serta-merta meronta dan minta agar diperlakukan secara proporsional. Layaknya seperti mereka yang memiliki kebesaran, ketinggian, dan kemuliaan. Jadi, bagi orang-orang kerdil, persepsi bahwa mereka memiliki kebesaran selalu saja bergelanyut berat di dada mereka. Memang dalam setiap kurun, kebesaran selalu saja dikejar-kejar oleh mereka yang kecil. Namun sejarah selalu menulis mereka luput mendapatkannya.

Al-Qur’an menegaskan hal itu dengan ungkapan: “Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil. Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS. al-Hajj/22: 62). Lekat relevansi kebenaran dengan kebesaran atau kemuliaan. Perilaku batil dan menantang Allah hanya akan mendekatkan seseorang kepada kejatuhan dan kehancuran.

Jadi jalan apa saja yang ditempuh oleh seseorang atau sekelompok orang secara benar akan menghasilkan kebesaran dalam berbagai segi. Seperti kebesaran dan keagungan sebuah nama, sebuah bangsa; kebesaran dan kesuksesan membangun kemakmuran bagi rakyat semesta; kebesaran kreatifitas pikir yang berujung pada terciptanya sebuah mahakarya dalam bidang sains dan teknologi yang bermanfaat bagi manusia; termasuk kebesaran hati semua pemimpin bangsa untuk bisa dan biasa menerima saran dan kritik konstruktif dari setiap komponen anak negeri.

Secara lebih praktis, perwujudan keinginan menjadi besar secara benar terdapat formulanya dalam al-Qur’an. Pertama, hendaklah manusia meninggalkan perilaku merasa besar dan layak dianggap besar. Allah berfirman, “Dia (Allah) menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. al-Najm/53: 32).

Dengan kata lain, semakin manusia merasa bahwa dirinya di sisi Allah adalah makhluk yang kecil, sangat tergantung kepada kebesaran Allah, maka Allah justru akan menganugerahkan kebesaran-Nya. Ketika seseorang merasa besar dan mengejar kebesaran tanpa membesarkan Allah, maka yang didapat adalah keterpurukan dan kehinaan. Kehidupannya semakin sempit dan ia tak beroleh kebesaan apa-apa.

Kedua, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mengagungkan nama Allah, baik secara lisan maupun mengaplikasikannya dalam kehidupan. Itu artinya pengakuan bahwa Allah Maha Besar tidak cukup hanya mengucapkan kalimat takbir, tetapi harus meresap dan terasa Kebesaran Allah itu. Dalam surat al-Muddatsir/74: 1-3), Allah katakan, “Hai orang yang berselimut, bangunlah lalu beri peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah”.

Dalam surat lain, “Dia tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan yang memerlukan penolong. Agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya” (QS. al-Syuura/42: 111). Kedua nash ini secara jelas menyatakan bahwa prosesi pengagungan Allah dimulai dari bangun tidur, saat ibadah, maupun dalam membangun kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.

Hanya saja perlu dikemukakan, bahwa petunjuk Allah kepada manusia untuk mengagungkan asma-Nya semata-mata karena Allah mencintai hamba-Nya. Prestise Allah tetap Maha Besar diagungkan ataupun tidak diagungkan oleh para makhluk. Sebab apapun yang disebut besar bila dinisbatkan kepada Allah serta-merta menjadi kecil, tak berarti. Allah memberi petunjuk meraih jalan kebesaran dengan memerintahkan untuk membesarkan-Nya.

Allah memperingatkan, “Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggamannya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya” (QS. al-Zumar/: 67).

Dalam shalat berpuluh kali dalam sehari kita membesarkan Allah. Semoga saja kalimat suci yang kita kumandangkan mampu menghancurkan karang kesombongan, merasa diri besar, dan senantiasa ingin dianggap besar.

Secara filosofis, takbir dalam shalat memberikan makna bahwa pendakian spiritual dimulai dengan membongkar kebesaran makhluk dan menggantinya dengan kebesaran Allah. Bila kita konsisten menjalani setiap etape dalam shalat dan senantiasa membesarkan Allah, maka akhir dari semuanya adalah kebahagiaan dan keselamatan.

Inilah simbolisasi shalat yang kerap diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Jadi, Abd al-Kabir adalah pribadi yang memegang teguh perjanjian dengan Allah, selalu membesarkan Allah, senantiasa merasa bahagia, dan rela menjalani nestapa untuk bederma kepada sesama.

Kini kita tinggal melakoni peran kita di pentas alam maya pada ini. Allah adalah sang sutradara tunggalnya. Bisakah hati dan pikiran kita merasakan getaran kebesaran-Nya yang ditandai dengan cinta sekaligus takut kepada-Nya? Semoga bisa*.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru