
SIARANDEPOK.COM – Kisah hubungan pribadi yang berujung perseteruan menjadi sorotan. Seorang perempuan berinisial S, warga Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, mengungkap pengalamannya menjalin hubungan dengan seorang pria yang disebut merupakan Ketua RW di lingkungan tempat tinggalnya.
Diketahui, kedua-duanya sudah memiliki keluarga. Namun, kini S sudah bercerai dengan suaminya.
Hubungan bermula saat S merespons komunikasi sederhana dari Ketua RW melalui WhatsApp pada Oktober 2023.
Namun, kedekatan yang awalnya hanya sebatas percakapan biasa itu disebut berkembang menjadi hubungan spesial hingga akhirnya memicu konflik.
Dalam keterangannya, S menceritakan bahwa komunikasi mereka awalnya berkaitan dengan urusan sembako dan minyak gratis di kantor RW. Percakapan kemudian berlanjut dengan saling bertukar cerita mengenai kehidupan pribadi masing-masing.
Hubungan keduanya disebut semakin dekat setelah pria tersebut mengajaknya pergi jalan-jalan ke kawasan Puncak untuk makan bersama.
“Awalnya kita itu WA-an. Terus dia nanya-nanya, anaknya berapa, kita saling jawab. Terus awalnya aku bikin status minum kelapa muda, dia bilang kali-kali bisa minum bareng,” ungkap S kepada awak media, Minggu (1/11/2026).
S mengaku, kedekatan tersebut terus berlanjut hingga dirinya merasa nyaman.
Bahkan, dia menyebut pria tersebut sempat menjanjikan pernikahan dan berjanji akan menafkahinya.
Namun, di balik hubungan yang dijalaninya, S mengaku mengalami tekanan karena kerap dicurigai dan dibatasi aktivitasnya.
S menyebut dirinya tidak leluasa bepergian, menghadiri arisan, hingga bertemu teman-temannya.
Menurut pengakuan S, kecemburuan kerap menjadi pemicu pertengkaran di antara mereka. Kondisi tersebut juga disebut turut memengaruhi hubungannya dengan sang suami saat itu.
S mengungkapkan dirinya mengurus perceraian pada Agustus 2026. Dia mengaku keputusan tersebut diambil setelah rumah tangganya mengalami persoalan.
Di sisi lain, S mengaku telah beberapa kali meminta agar hubungan mereka diperjelas melalui pernikahan. Namun, menurut ceritanya, pria tersebut selalu meminta agar hubungan mereka dijalani terlebih dahulu tanpa kepastian.
“Katanya setelah jadi RW kita jalanin aja dulu. Saya sudah dijanjikan mau dinikahi, tetapi sampai sekarang tidak ada kejelasan,” tutur dia.
Persoalan kemudian semakin memanas ketika komunikasi keduanya mulai dipenuhi pertengkaran.
S mengaku kesal karena merasa tidak mendapatkan kejujuran dan kepastian mengenai janji pernikahan tersebut.
Puncaknya terjadi sekitar 19 atau 20 Oktober 2026. S mengakui dirinya sempat melempar telur dan pot ke arah rumah pria tersebut karena emosi.
Dia bilang, tindakan itu dilakukan dalam kondisi marah setelah kembali terlibat pertengkaran.
Peristiwa tersebut kemudian memicu persoalan baru. Berdasarkan penuturan S, pihak keluarga pria itu mengetahui kejadian tersebut dan melaporkannya.
Situasi bahkan disebut sempat melibatkan petugas kepolisian yang datang ke lokasi pada malam hari.
S juga mengaku mendapat perkataan tidak menyenangkan dari salah satu anggota keluarga pria tersebut di hadapan warga.
Dia merasa posisinya semakin sulit karena persoalan yang menurutnya memiliki latar belakang panjang justru menjadi pembicaraan masyarakat sekitar tanpa diketahui secara utuh.
Tak hanya soal hubungan pribadi, S turut mengungkapkan bahwa dirinya sebelumnya menerima uang sebesar Rp150 ribu setiap hari dari pria tersebut. Namun, dia mengaku pemberian itu terhenti setelah konflik pada Oktober 2026 terjadi.
“Sekarang sudah dua minggu tidak dikasih. Saya mau makan apa? Saya juga minta kejelasan, sebenarnya mau menikahi saya atau tidak,” ungkap dia.
S kemudian menegaskan, dirinya kini hanya menginginkan kejelasan mengenai hubungan yang selama ini dijalaninya, termasuk janji pernikahan dan tanggung jawab yang menurutnya pernah disampaikan.
Sementara itu, seorang teman S berinisial R mengaku mengetahui adanya persoalan tersebut setelah beberapa kali mendengar S berbicara melalui telepon.
R menyebut, S memang kerap datang ke rumahnya dan beberapa kali terdengar sedang terlibat percakapan yang diwarnai pertengkaran.
Meski demikian, dia mengaku tidak mengetahui secara utuh persoalan yang terjadi sejak awal.
Dia baru mengetahui sebagian cerita setelah S mulai menceritakan masalah tersebut kepadanya.
Hingga kini, pengakuan S masih menjadi satu sisi dari persoalan yang berkembang. Pihak yang disebut sebagai Ketua RW pun belum memberikan tanggapan resmi atas dugaan yang dilontarkan S.
Keterangan dari pihak pria yang disebut dalam cerita tersebut, termasuk mengenai dugaan janji pernikahan dan pemberian nafkah, masih diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang berimbang.
Kejelasan dari seluruh pihak menjadi penting agar persoalan tersebut dapat dipahami secara utuh. (*)















