
Oleh: Rohmat Rospari
Siarandepok.com – Di era digital saat ini, ukuran keberhasilan seseorang sering kali diukur dari seberapa besar penghasilannya, seberapa mewah rumahnya, kendaraan yang dimiliki, hingga banyaknya pengikut di media sosial. Tidak sedikit orang bekerja siang dan malam demi mengejar kemewahan, namun justru kehilangan ketenangan hidup.
Padahal, lebih dari empat belas abad yang lalu, Al-Qur’an telah mengingatkan manusia agar tidak terperdaya oleh kehidupan dunia.
Allah SWT berfirman:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan (la’ib), senda gurau (lahw), perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam harta dan anak…” (QS. Al-Hadid: 20).
Ayat ini bukan berarti Islam memerintahkan umatnya membenci dunia. Sebaliknya, Allah mengingatkan agar manusia memahami hakikat dunia. Dunia hanyalah tempat singgah yang penuh ujian. Kesenangannya bersifat sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah tujuan yang kekal.
Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa salah satu cara agar tidak terlena oleh gemerlap dunia adalah dengan memiliki sifat zuhud.
Sayangnya, hingga hari ini masih banyak orang memahami zuhud secara keliru.
Ada yang mengira zuhud berarti harus hidup miskin. Ada pula yang menganggap orang zuhud harus berpakaian lusuh, meninggalkan pekerjaan, menjauhi perdagangan, atau menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk beribadah di masjid.
Pemahaman seperti ini tidak sepenuhnya tepat.
Imam Ahmad bin Hanbal menjelaskan bahwa zuhud bukanlah mengharamkan yang halal dan bukan pula menyia-nyiakan harta. Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa hakikat zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat dan menjadikan hati lebih percaya kepada apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang berada di tangan manusia. Demikian pula Imam an-Nawawi menerangkan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan.
Dengan kata lain, zuhud adalah kondisi hati, bukan sekadar penampilan lahir.
Lalu bagaimana menerapkan zuhud di tengah kehidupan modern?
Para ulama memberikan beberapa tuntunan sederhana.
Pertama, tidak berangan-angan panjang terhadap dunia. Rasulullah SAW mengingatkan agar manusia tidak terlena dengan angan-angan yang panjang, karena panjang angan sering membuat seseorang lupa bahwa kematian bisa datang kapan saja. Seorang Muslim tetap boleh memiliki cita-cita, namun cita-cita itu harus dibingkai dengan kesadaran bahwa semua berada dalam kehendak Allah SWT.
Kedua, ridha terhadap rezeki yang Allah berikan. Ridha bukan berarti berhenti berusaha, tetapi menerima dengan lapang dada apa yang telah Allah tetapkan setelah ikhtiar dilakukan. Orang yang ridha akan hidup lebih tenang, tidak mudah iri, dan tidak menjadikan kekayaan orang lain sebagai ukuran kebahagiaan dirinya.
Ketiga, tetap bekerja dan berusaha mencari rezeki yang halal. Inilah sisi zuhud yang sering disalahpahami. Islam tidak pernah melarang umatnya menjadi kaya. Bahkan, kekayaan yang diperoleh dengan cara yang halal dan dimanfaatkan untuk kebaikan merupakan nikmat yang besar.
Teladan indah dapat dilihat dari kehidupan Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama besar, ahli hadis, ahli fikih, sekaligus pedagang yang sukses. Meskipun beliau dikenal sebagai sosok yang zuhud, beliau tetap aktif berdagang.
Mengapa demikian?
Pertama, beliau ingin menjaga kehormatan dirinya agar tidak bergantung kepada belas kasihan orang lain. Rasulullah SAW sendiri mengajarkan bahwa tangan yang memberi lebih baik daripada tangan yang meminta.
Kedua, beliau ingin menunjukkan bahwa seorang Muslim harus menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan memiliki kemuliaan. Kemandirian ekonomi membuat seorang Muslim lebih leluasa berdakwah tanpa harus bergantung kepada manusia.
Ketiga, beliau memahami bahwa banyak ibadah membutuhkan kemampuan finansial. Menunaikan haji, umrah, berkurban, memperbanyak sedekah, berinfak, membantu fakir miskin, membangun masjid, mendukung pendidikan Islam, hingga menolong korban bencana, semuanya memerlukan harta yang diperoleh melalui usaha yang halal.
Karena itulah, bekerja keras bukanlah lawan dari zuhud. Justru bekerja dengan niat ibadah, memperoleh rezeki yang halal, lalu menggunakan harta untuk kemaslahatan umat merupakan salah satu bentuk pengamalan zuhud yang benar.
Zuhud bukan berarti membenci harta, melainkan tidak diperbudak oleh harta. Seorang yang zuhud tetap dapat memiliki rumah yang layak, kendaraan yang baik, usaha yang berkembang, bahkan kekayaan yang melimpah. Namun semua itu tidak menjadikan hatinya sombong, rakus, ataupun lupa kepada Allah SWT.
Harta berada di tangannya, bukan menguasai hatinya.
Inilah zuhud yang relevan bagi umat Islam masa kini. Di tengah kehidupan modern yang penuh persaingan, seorang Muslim tetap diperintahkan bekerja keras, berprestasi, membangun usaha, dan menjadi pribadi yang produktif. Namun pada saat yang sama, ia menjaga hatinya agar tidak terikat oleh dunia yang sifatnya sementara.
Sebab hakikat kekayaan bukanlah banyaknya harta yang dimiliki, melainkan rasa cukup (qana’ah) yang Allah tanamkan di dalam hati. Orang yang memiliki hati yang qana’ah akan lebih mudah bersyukur, lebih tenang menjalani kehidupan, dan lebih ringan menginfakkan hartanya di jalan Allah.
Maka, zuhud bukanlah ajakan untuk hidup miskin. Zuhud adalah ajakan untuk hidup sederhana, ridha terhadap ketetapan Allah, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan menjadikan dunia sebagai sarana menuju kebahagiaan akhirat.
Sebagaimana doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).
Doa ini menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan dunia dan akhirat. Seorang Muslim justru diperintahkan meraih kebaikan di keduanya. Dunia menjadi ladang amal, sedangkan akhirat menjadi tempat menuai hasilnya. Itulah makna zuhud yang sesungguhnya: dunia tidak ditinggalkan, tetapi ditempatkan pada posisi yang semestinya.















