



SiaranDepok — Mahasiswa doktor Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Haykal Hafizul Arifin, mengungkapkan bahwa ekstremisme tidak semata-mata lahir dari paparan paham radikal, tetapi berkaitan erat dengan kondisi psikologis individu yang disebut sebagai disintegrasi psikologis.
Temuan tersebut dipaparkan Haykal dalam sidang terbuka promosi doktor yang digelar pada Rabu (7/1/2026) di Aula Gedung D Fakultas Psikologi UI, Depok. Dalam disertasinya berjudul “Disintegrasi Psikologis pada Mindset Ekstremis”, Haykal menjelaskan bahwa kekerasan kerap dipilih sebagai jalan cepat untuk meredakan konflik batin yang mendalam.
“Bagi individu yang jiwanya mengalami ketidakutuhan, kekerasan dianggap sebagai solusi paling pasti untuk memulihkan kondisi psikologisnya,” ujar Haykal dalam keterangannya, Selasa (13/1/2026).
Melalui lima studi empiris, Haykal menemukan bahwa individu dengan ketidakstabilan emosi, kehilangan makna hidup, serta kekacauan pola pikir lebih rentan mengambil langkah ekstrem dan drastis dalam menyelesaikan masalah. Kondisi tersebut, menurutnya, membuka ruang masuknya narasi ekstremisme yang menawarkan kepastian dan tujuan instan.
Penelitian ini diperkuat dengan pengembangan Militant Extremist Mindset Scale, sebuah alat ukur baru yang dinilai akurat dalam memetakan pola pikir ekstremis. Skala ini telah diuji baik pada masyarakat umum maupun narapidana kasus terorisme.
Salah satu temuan penting lainnya adalah peran perasaan berdosa dalam konteks keagamaan. Haykal menjelaskan bahwa individu yang merasa gagal memenuhi standar moral agama sering mengalami konflik psikologis berat. Ketika perasaan tersebut tidak dikelola secara sehat, ideologi ekstrem dapat menawarkan kekerasan sebagai bentuk “penebusan dosa” atau pengorbanan diri.
“Paparan ideologi ekstrem tidak otomatis menghasilkan radikalisasi. Dampaknya sangat bergantung pada kondisi kesehatan mental seseorang,” tegasnya.
Berdasarkan hasil riset tersebut, Haykal menilai bahwa upaya pencegahan ekstremisme dan deradikalisasi tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan represif atau kontra-ideologi. Ia menekankan pentingnya pemulihan keseimbangan psikologis, pengelolaan emosi, serta penyediaan jalur pemaknaan hidup yang tidak berbasis kekerasan.
Dalam konteks keagamaan, pendekatan yang menekankan pengampunan dan pertobatan autentik dinilai berpotensi menjadi strategi efektif dalam mencegah ekstremisme sekaligus mendukung proses reintegrasi sosial.
Sidang promosi doktor tersebut dipromotori oleh Prof. Dr. Mirra Noor Milla, Prof. Dr. Bagus Takwin, dan Ali Mashuri, Ph.D. (Asep)













