Mencermati Perburuan Kursi, Koalisi VS Oposisi

- Reporter

Selasa, 30 Juli 2019 - 22:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ismail )*

Kubu koalisi tampak seperti kebakaran Jenggot, ketka kemenangan Capres yang diusungnya Joko Widodo, menyisakan kegalauan, ketenangan dan kepastian mereka terhadap jatah kursi kabinet yang terusik oleh fenomena kedekatan Presiden Jokowi dengan mantan rivalnya Prabowo Subianto. Bahkan Prabowo juga telah menjalin kedekatan pula dengan ketua Umum PDI-P Megawati Soekarno Putri.
Pertemuan antara Megawati dan Prabowo juga berlangsung akrab dan dikenal sebagai diplomasi nasi goreng, karena dalam kesempatan tersebut Megawati membuat nasi goreng racikannya yang juga menjadi favorit Gus Dur.
Kedekatan antara keduanya tentu tidak harus membuat kita merasa kaget, karena faktanya Megawati pernah berpasangan dengan Prabowo ketika Pilpres 2019, hal ini menunjukkan bahwa politik merupakan sesuatu yang dinamis, dimana terkadang lawan bisa menjadi kawan.
Meski begitu, pertemuan tersebut mengindikasikan tidak tertutup akan adanya “koalisi plus – plus” dalam susunan kabinet periode 2019 – 2024.
Di lain pihak kubu koalisi minus PDI-P juga sudah pasang kuda2 dengan mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh ketua dan sekretaris masing – masing di markas Partai Nasdem, dimana partai koalisi tersebut seakan menyiratkan keberatan dengan penambahan peserta koalisi, kecuali partai Nasdem yang terang – terangan menyatakan bahwa penambahan partai koalisi tidak diperlukan, menurut Nasdem kekuatan koalisi sudah lebih dari cukup, sangat terlihat tidak sepahamnya partai Nasdem terlihat juga dari dua kali markas partai Nasdem dijadikan tuan rumah pertemuan, anehnya pertemuan yang kedua justru dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menjadi lawan politik ketika Pilgub DKI.


Dari pertemuan tersebut sangat terlihat kecemburuan Partai Nasdem, terhadap partai Gerindra yang semakin mendekat pada Jokowi dan PDIP, sebenarnya peta politik yang berubah itu suatu keniscayaan, yang tadinya lawan bisa menjadi kawan dan hal itu lumrah terjadi.
Misalnya dalam konteks Pilkada baik bupati atau gubernur, dukungan partai tentu tidak linier dengan koalisi pusat, tergantung kesepakatan parpol tingkat daerah, bahkan koalisi itupun tidaklah permanen. Karena setiap 5 tahun akan ada pemilu kembali, sehingga sangat dimungkinkan peta politik akan berubah.
Contohnya Gubernur Banten Wahidin, ketika Pilgub lawannya adalah Ratu Atut, pada pilkada tahun lalu mereka bersatu berkoalisi dengan Andika Hazrumy (Anaknya Ratu Atut) melawan Rano Karno dari PDI-P, demikianlah politik, oleh karena itu tidak perlu adanya kecemburuan atau bahkan show of force kepada mitra koalisi yang lain termasuk kepada Presiden terpilih.
Yang kita khawatirkan kecemburuan yang sudah terlanjut diperlihatkan secara eksplisit ternyata tidak diikuti oleh kawan koalisi yang lain, bagaimanapun kepentingan masing – masing partai akan dikedepankan, yaitu kepentingan meraih kursi, kesetiakawanan akan menjadi ‘usang’ tatkala kekuasaan yang menjadi incaran para politisi.
Tentu alangkah lebih baik juga tetap solid mendukung Presiden terpilih sekaligus menjadi koalisi yang solid dan mendukung penuh kebijakan pemerintah yang akan berjalan 5 tahun kedepan.
Daripada ditinggalkan teman, kemudian tidak mendapat kursi di kabinet, justru kursinya dialihkan kepada lawan dan berubah jadi oposisi, tentu hal tersebut akan sangat disayangkan.
Partai koalisi tentunya harus sadar bahwa pemilihan kabinet merupakan hak preroogatif Presiden sepenuhnya, meski demikian bukan tidak mungkin Presiden akan meminta saran kepada partai pengusungnya, siapa yang kelak akan membantunya dalam kabinet Indonesia Kerja.
Meski nantinya sudah masuk dalam kabinet, bukan berarti posisi tersebut membuatnya bisa duduk dengan nyaman, karena reshuffle kabinet juga sangat mungkin terjadi, seperti ketika Anies Baswedan dicopot dari jabatannya sebagai Menteri Pendidikan,
Para politisi harus sadar bahwa tidak ada lawan atau kawan abadi dalam ranah politik, yang ada adalah kepentingan yang abadi, dalam ranah pilpres 2019 PAN dan PKS merupakan partai koalisi pengusung Prabowo, namun akan berbeda jika nantinya ada Pilbup atau Pilgub.
Contohnya, Ganjar Pranowo tidak mendapatkan dukungan dari PAN dan PKB, namun dalam ranah Pilpres, PKB seakan getol mendukung Jokowi karena adanya ulama kharismatik yang mendampingi Jokowi yaitu KH Ma’ruf Amin. Hal tersebut menunjukkan bahwa menjadi politisi tidak boleh kaku.
Partai koalisi tentu memiliki tugas yang lebih besar daripada harap – harap cemas mendapatkan kursi, yaitu tetap mendukung dan mengawal arah kebijakan presiden.

)* Penulis adalah pengamat sosial politik

Berita Terkait

Uji Keyakinan, Kuil di India Wajibkan Pengunjung Minum Campuran Urin Sapi
Dilema Trump: Ingin Akhiri Perang Iran, Tapi Teheran Menolak Takluk
Iran Menggila! Tembaki dan Sita Kapal yang Coba Keluar Selat Hormuz
Tok! Trump Perpanjang Gencatan Senjata AS-Iran Tanpa Batas Waktu
Update Konflik: Iran Beri Syarat “All-in” ke Amerika Serikat
Trump Dilaporkan “Tantrum” Akibat Pilot AS Hilang di Iran, Ajudan Sampai Blokir Akses ke Ruang Situasi
Trump Harap Hizbullah Bertindak Sopan saat Gencatan Senjata di Lebanon
Lagi! Senat AS Gagal Batasi Wewenang Perang Donald Trump Terhadap Iran

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 15:15 WIB

Buku Panduan Cara Unik Promosi Sekolah Karya Dr Awaluddin Faj, M.Pd

Rabu, 29 April 2026 - 15:12 WIB

Best Seller Buku Panduan Masuk Pondok Modern Darussalam Gontor

Rabu, 29 April 2026 - 09:45 WIB

Kecamatan Pancoran Mas bersama FKUB dan Kemenag Kota Depok Gelar Harmonisasi Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat 

Rabu, 29 April 2026 - 09:43 WIB

Warga Sampaikan Keluhan Air, Lurah Pondok Cina Jembatani dengan PT Tirta Asasta Depok (Perseroda)

Rabu, 29 April 2026 - 09:41 WIB

Wawalkot Depok Hadiri Pelantikan PGPI, Dorong Penguatan Pelayanan Umat

Rabu, 29 April 2026 - 09:19 WIB

Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Depok Bangun Ekosistem Transaksi Cashless dan Digitalisasi Program Pesantren

Selasa, 28 April 2026 - 15:23 WIB

SMK Keluarga Widuri Gelar Tour Wisata Edukasi Bromo, Malang Jogja Tahun 2026 Bersama Dirgantara IAI Tour Travel Depok

Selasa, 28 April 2026 - 15:20 WIB

Jabar Perkuat Kolaborasi Lintas Lembaga untuk Perlindungan Perempuan dan Anak

Berita Terbaru

Berita Pilihan

Buku Panduan Cara Unik Promosi Sekolah Karya Dr Awaluddin Faj, M.Pd

Rabu, 29 Apr 2026 - 15:15 WIB

Berita Pilihan

Best Seller Buku Panduan Masuk Pondok Modern Darussalam Gontor

Rabu, 29 Apr 2026 - 15:12 WIB