Ramadhan Bulan Rekonsiliasi

- Reporter

Kamis, 8 Juni 2017 - 09:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hikmah Puasa Hari Ke-13

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA
Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Indonesia Kota Depok
dan Dosen Pascasarjana FIDKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ramadhan tahun ini bagi bangsa Indonesia menyimpan makna tersendiri. Setelah lebih dari setahun lamanya, semua komponen bangsa menguras tenaga, pikiran dan energi untuk meletakkan dan mempraktekkan elektoral pilkada untuk sebuah pemerintahan yang demokratis.

Maka kini, bersamaan dengan datangnya bulan kemuliaan, Indonesia mampu mengembalikan harga dirinya sebagai sebuah bangsa. Bukan hanya karena telah berhasil mempunyai pemimpin baru di berbagai daerah yang dipilih dengan mekanisme pemilu yang benar. Tetapi, lebih dari itu masyarakat Indonesia kini semakin dewasa; menerima secara ikhlas semua hasil tahapan pilkada.

Kita menaruh harapan, kehadiran Ramadhan tahun ini sedapat mungkin dijadikan sebagai momentum rekonsiliasi, konsolidasi, dan kerjasama semua masyarakat yang kemarin bersaing dan terbelah-belah.

Pekerjaan yang lebih penting di depan mata bukan lagi memenangkan tokoh idola atau partai tertentu. Tetapi, kesamaan langkah dan kesatuan tekad kita untuk menjadikan bangsa ini lebih baik, berkeadilan, penuh kesentosaan dan kemakmuran. Perahu negeri ini sudah saatnya dipimpin oleh mereka yang mengerti bahasa angin hingga bisa menghindari badai; mengerti kapan layar ditutup dan dikembangkan.

Ramadhan adalah bulan rekonsiliasi, momentum bagi pihak-pihak yang selama ini terpetak-petak kembali menjalin pola hubungan yang didasarkan cinta dan silaturahmi. Saat ini mengedepankan semangat kebencian dan permusuhan serta dendam hanya akan merugikan diri sendiri.

Karena itu sudah saatnya kita meninggalkan model soridaritas organis. Model hubungan antarsesama, yang menurut Emile Durkheim, hanya didasarkan pada kesamaan kepentingan, tarik-ulur, berjarak, dan didasarkan atas untung-rugi.

Saat ini kebaikan dan perbaikan adalah cita-cita kita semua. Sedangkan semua perbuatan dan sikap yang akan menjungkirbalikkan negeri ini pada keadaan yang hina, sengsara, dan menimbulkan malapetaka kita hadapi bersama-sama. Saatnya kita campakkan sikap terlalu mudah menuduh, memonis, memojokkan, menghina, menjatuhkan, bersikukuh, merasa benar sendiri, dan sok kuasa.

Kita tentunya ingin negeri ini menjadi sebuah negeri yang “baldatun thayyibatun wa rabbun gafuur”. Atau negeri yang gemah ripah, repeh, rapih, toto tenterem kertoraharjo, seperti yang diungkap al-Qur’an: “Kalau saja penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, sungguh akan Kami bukakan pintu keberkahan dari langit dan dari bumi” (QS. al-A’raf/7: 196).

Lagi-lagi, prasyarat untuk menggapai keberkahan, kesentosaan, dan kemakmuran di negeri ini berpangkal-tolak pada iman dan takwa, di mana puasa sebagai terapinya.

Saudaraku, sekali lagi, kinilah saatnya kita menata kembali puing-puing harapan kita. Kita mulai dari diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, sampai pada tingkat negara dan bangsa tercinta untuk sama-sama melakukan kebaikan dan perbaikan, menanamkan kasih sayang, persaudaraan, saling menghargai dan melindungi serta berpegang teguh pada kendali moral, ajaran agama, dan undang-undang negara.

Ke depan ujian yang menghadang bukan lantas mengecil atau menghilang. Sebagai manusia beriman kita tetap akan diuji Allah untuk menentukan kualitas penghambaan kita kepada-Nya.

Al-Qur’an memberi penegasan: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta” (QS. al-Ankabut/29: 2-3).

Kebesaran hati kita untuk melakukan konsolidasi dan rekonsiliasi pun diuji. Diperlukan kejernihan hati dan ketajaman pikiran dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang tidak menguntungkan yang bakal terjadi. Jangan sampai kita keliru memilih kawan seiring dalam membangun kebaikan, sebelum khalayak mengakui kredibilitasnya.

Alih-alih menjadikan masyarakat dan negeri ini berkembang dan mendapat penghidupan yang lebih baik, yang terjadi justru kembali ke titik nol dan tersungkur ke tempat yang rendah.

Sebagai Muslim yang beriman, sepatutnya kita memperhatikan pesan Allah yang berbunyi: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu” (QS. al-Hujurat/49: 6).

Sungguh, bila kita berpedoman kepada ajaran al-Qur’an di atas, sebenarnya negeri ini tidak perlu terlalu lama menderita. Karena masing-masing kita punya sikap dan cita-cita yang sama, yakni rekonsiliasi, konsolidasi, dan bekerja sama.

Semoga melalui momentum puasa tahun ini kita baru ditakdirkan untuk menjadi bangsa yang bersatu, bangsa yang bisa dan biasa menerima perbedaan, bangsa yang cerdas karena menjadikan perbedaan sebagai rahmat (kasih sayang) Allah.⁠⁠⁠⁠

Berita Terkait

Fatijja Qur’an Gelar Kegiatan Fatijja Talk 9.0 Bahas Rahasia Membangun Sekolah Islam yang Diingat dan Dipercaya Bersama Dr Awaluddin Faj, M.Pd Konsultan Sekolah Islam Alumni Gontor
KIAS Travel Ajak PPIU Naik Kelas Lewat Skema Umrah Escrow
Persatuan Unit-Unit Sukamaju Gelar Donor Darah, Gebyar UMKM, dan Cek Kesehatan Gratis, Wujud Nyata Kolaborasi untuk Masyarakat
Telah Dibuka! Penerimaan Santri Baru Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Tahun Ajaran 2026-2027
Awali Tahun Baru Islam, MUI Kecamatan Pancoran Mas Gelar Subuh Keliling di Masjid Taman Firdaus Depok Jaya
Usai Musim Haji, KIAS Travel Adakan Umroh Awal Musim 1447 H:Catat Tanggalnya!
Telah Dibuka Pendaftaran Bimbel Persiapan Masuk Ma’had Al-Azhar Cairo Tahun 2025 Bersama Bimbel Primago
SMP Tirtajaya Gelar Isra Mi’raj, Sambut Kemenangan Palestina Dengan Imani Sejarah Isra’ Mi’raj

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 11:24 WIB

BKKBN dan Komisi IX DPR Gaungkan Program Bangga Kencana

Kamis, 5 November 2026 - 09:53 WIB

Wajah Baru Stasiun Depok Baru: Lebih Modern dan Terintegrasi!

Kamis, 5 November 2026 - 08:46 WIB

Tingkatkan Pelayanan Penumpang, Penataan Stasiun Depok Baru Ditargetkan Rampung Akhir Desember

Rabu, 4 November 2026 - 19:01 WIB

Guntur Gani Prakoso Resmi Pimpin Kasi Intel Kejari Depok

Rabu, 4 November 2026 - 18:59 WIB

Ratusan Dapur Makan Gratis di Depok Kini Diawasi Ketat!

Rabu, 4 November 2026 - 18:53 WIB

DPUPR Depok Gercep Angkut Sterofoam hingga Batang Pohon di Kali Cabang Barat

Rabu, 4 November 2026 - 18:50 WIB

Sering Lewat GDC? Perhatikan Perubahan Besar di 5 Titik Ini!

Rabu, 4 November 2026 - 14:03 WIB

Hijaukan Kota, Depok Tanam Ratusan Pohon Sepanjang Oktober

Berita Terbaru

Kegiatan Sosialisasi dan Fasilitasi Program Bangga Kencana di
Gedung Harmas Kecamatan Beji, Senin (2/112026). (Sumber foto: Istimewa)

Berita Depok

BKKBN dan Komisi IX DPR Gaungkan Program Bangga Kencana

Kamis, 5 Nov 2026 - 11:24 WIB

Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, meninjau Stasiun Depok Baru bersama Kepala BTP Kelas I Jakarta, Denny Michels Adlan (kedua dari kanan). (Foto: Siaran Depok/AN Rafi)

Berita Depok

Wajah Baru Stasiun Depok Baru: Lebih Modern dan Terintegrasi!

Kamis, 5 Nov 2026 - 09:53 WIB

Pelantikan dan serah terima jabatan (Sertijab) dipimpin langsung oleh Kepala Kejari (Kajari) Depok, Arif Budiman, di Aula Kejari Depok, Selasa (03/11/26). (Foto: Dokumentasi Kejari Depok)

Berita Depok

Guntur Gani Prakoso Resmi Pimpin Kasi Intel Kejari Depok

Rabu, 4 Nov 2026 - 19:01 WIB

Rapat koordinasi terkait pengawasan dan peningkatan kualitas SPPG diselenggarakan oleh Satgas Percepatan MBG di Aula Edelweis Lantai 5 Balai Kota Depok pada Rabu (04/11/26). (Foto: Diskominfo)

Berita Depok

Ratusan Dapur Makan Gratis di Depok Kini Diawasi Ketat!

Rabu, 4 Nov 2026 - 18:59 WIB