
Siarandepok.com – Sungai Ciliwung merupakan sungai yang paling terkenal di Kota Bogor. Sungai ini juga kerap dijadikan tempat untuk syuting film. Walaupun begitu, sungai Ciliwung kini terkenal bukan karena kebersihannya, tapi karena kotor.
Namun warga Kota Bogor, Jawa Barat tak usah khawatir, karena tak lama lagi warga akan dapat mengonsumsi air dari aliran Sungai Ciliwung. Diperkirakan bulan depan, seiring rampungnya Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) baru di Katulampa Kota Bogor.
“Sampai sekarang pasokan air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan Kota Bogor hanya dari Sungai Cisadane. Nanti SPAM Katulampa ini secara perdana pasokan air bakunya berasal dari Sungai Ciliwung,” kata Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Pakuan, Deni Surya Sanjaya, di Bogor, Kamis (11/4).
Kini, pihak pelaksana tengah menyempurnakan pipa distribusi utama yang pemasangannya tersisa beberapa meter lagi. Sedangkan alat Water Treatment Plant (WTP) dan intake sudah lebih dulu dirampungkan.
Deni memprediksi secara keseluruhan proyeknya selesai sebelum memasuki Bulan Ramadan. Sehingga ia berharap bisa menambah pasokan air baku PDAM Tirta Pakuan yang selama ini hanya mengandalkan Sungai Cisadane.
Sementara itu, Direktur Teknik (Dirtek) PDAM Tirta Pakuan, Ade Syaban Maulana menerangkan, pasokan air dari Sungai Ciliwung ini memiliki debit air 300 liter per detik. Berdasarkan hitungannya, pasokan air baku baru ini bisa menambah pelayanan air ke 21.000 pelanggan.
Ade memaparkan, secara keseluruhan proyek pembangunan SPAM Katulampa ini sudah menghabiskan anggaran sekitar Rp 139 miliar.
Jika dirinci, pembiayaannya dimulai untuk pembangunan intake yang berlokasi di Cibanon, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor pada tahun 2012 senilai Rp24 miliar. Kemudian pada tahun 2012 sampai tahun 2014 pembebasan lahan SPAM senilai Rp10 miliar.
Selanjutnya, pada tahun 2016 pembangunan WTP senilai Rp60 miliar, juga pengadaan pipa distribusi utama senilai Rp35 miliar. Terakhir, pada tahun 2017 pembangunan reservoir senilai Rp10 miliar.
Penulis: Inggiet Yoes
Editor: Muhammad Rafi Hanif













