
SIARANDEPOK.COM – Pusat Inkubasi Bisnis (Pinbas) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok resmi menggarap lahan produktif seluas 14,7 hektare di wilayah Tapos. Mengutip dari berita.depok.go.id, kawasan ini disiapkan secara khusus untuk menggenjot sektor pertanian, peternakan, serta memperkuat kemandirian ekonomi umat berbasis ekosistem koperasi.
Direktur Utama Pinbas MUI Kota Depok, H. Acep Azhari, menjelaskan bahwa lahan milik warga bernama Awan Kurniawan tersebut diintegrasikan ke dalam berbagai lini usaha produktif. Selain peternakan kambing sebagai program utama, pihaknya turut mengadopsi pengalaman sukses dari wilayah lain berupa budidaya sayuran, cabai, hingga perikanan sistem bioflok. Ia menyatakan, “Peternakan kambing menjadi salah satu usaha utama yang dikembangkan di kawasan tersebut. Selain itu, pengalaman dari dua lokasi Pinbas sebelumnya mencakup pengembangan cabai, sayuran, dan budidaya perikanan dengan sistem bioflok.”
Di luar sektor agrikultur dan peternakan, ekspansi bisnis ini juga merambah lini produk home care yang telah mengantongi legalitas hukum resmi. Langkah diversifikasi tersebut diambil guna memperluas pangsa pasar sekaligus menghadirkan produk berkualitas yang dikelola secara profesional oleh kalangan wirausaha binaan.
Guna memastikan roda bisnis berjalan optimal, Pinbas MUI Kota Depok membangun sistem inkubasi terpadu yang mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), pendampingan intensif, hingga jaminan akses permodalan. Penguatan finansial ini ditopang langsung lewat Koperasi Syariah Karya Maslahat Pinbas. Acep menambahkan, “Tidak hanya menginkubasi SDM dan perkembangan usaha, kami juga membangun ekosistem permodalan melalui Koperasi Syariah Karya Maslahat Pinbas. Selain itu, ada ekosistem duplikasi usaha agar model bisnis yang sudah berjalan dapat dikembangkan di tempat baru.”
Aspek teknis seperti ketersediaan bibit unggul, manajemen air, hingga kepastian rantai pasok pasar menjadi perhatian utama agar produktivitas kawasan ini berkelanjutan. Program tersebut diyakini mampu mendongkrak ketersediaan pangan daerah apabila dieksekusi secara terukur dan konsisten. “Dalam perspektif ketahanan pangan, kegiatan tersebut berpotensi membantu memperkuat ketersediaan produk pangan. Namun, kontribusi nyatanya perlu dilihat melalui hasil produksi, kesinambungan pasokan, dan kemampuan usaha memenuhi kebutuhan pasar,” ungkap sosok yang akrab disapa Jiacep.
Rencana strategis pengembangan lahan seluas 14,7 hektare ini sebelumnya telah digaungkan dalam agenda Aktivasi Pinbas di Tapos yang melibatkan unsur pemerintah daerah dan tokoh masyarakat. Acep berharap kolaborasi lintas sektor ini mampu membuka ruang kemitraan yang luas sehingga memberikan multiplier effect positif bagi perekonomian warga sekitar.














