



Siarandepok.com – Pemerintah Kota Depok terus berupaya meningkatkan pengelolaan sampah melalui pengoperasian Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Jalan Jawa yang berlokasi di Kecamatan Beji. Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang selama ini dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung dengan menerapkan metode Refuse Derived Fuel (RDF).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Reni Siti Nuraeni, menyampaikan hal tersebut saat peresmian dan mulai beroperasinya TPS 3R Jalan Jawa. Ia menjelaskan bahwa setelah melalui tahap uji coba, fasilitas tersebut kini resmi digunakan untuk mengolah sampah dengan teknologi RDF sebagai bagian dari komitmen Pemerintah Kota Depok dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.
Revitalisasi TPS 3R Jalan Jawa merupakan wujud kerja sama antara Pemerintah Kota Depok dan WWF Indonesia melalui program pengurangan sampah plastik yang telah berjalan sejak tahun 2021. Program ini bertujuan untuk menekan pencemaran sampah plastik di lingkungan sekaligus memperkuat tata kelola dan infrastruktur pengelolaan sampah.
Menurut Reni, fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 8 hingga 10 ton sampah per hari apabila dioperasikan secara optimal. Sampah yang masuk merupakan sampah campuran yang kemudian akan dipilah terlebih dahulu menjadi sampah organik dan anorganik sebelum memasuki proses pengolahan lebih lanjut.
Dengan beroperasinya TPS 3R berbasis RDF ini, sampah dari wilayah Beji sebanyak 8 hingga 10 ton per hari tidak lagi perlu dikirim ke TPA Cipayung. Karena itu, masyarakat diimbau untuk mulai membiasakan pemilahan sampah dari rumah guna meningkatkan efektivitas pengelolaan.
Reni juga menjelaskan bahwa RDF bukan satu-satunya metode yang diterapkan dalam pengolahan sampah di Kota Depok. Pemerintah kota juga menggunakan metode lain di beberapa fasilitas pengelolaan sampah, seperti yang diterapkan di UPS Merdeka, Sukmajaya.
Ke depan, Pemerintah Kota Depok berharap fasilitas serupa dapat dikembangkan di berbagai wilayah lainnya sehingga pengelolaan sampah tidak terpusat di satu lokasi saja. Selain mengurangi timbunan sampah, hasil pengolahan berupa bahan bakar alternatif dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri maupun pembangkit listrik skala kecil, sehingga memiliki nilai ekonomi.
“Kami berharap masyarakat semakin memahami bahwa sampah tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat diolah menjadi sumber energi dan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan,” ujar Reni.
Sementara itu, Wali Kota Depok Supian Suri menyampaikan apresiasi kepada WWF Indonesia atas kolaborasi yang telah terjalin dengan Pemerintah Kota Depok dalam menghadirkan TPS 3R Jalan Jawa. Menurutnya, fasilitas tersebut merupakan salah satu langkah nyata dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus menciptakan nilai tambah dari proses pengolahannya.
Supian menjelaskan bahwa TPS 3R mampu mengelola hingga 8 sampai 10 ton sampah setiap hari. Namun, keberhasilan pengelolaan tersebut sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.
Ia menambahkan bahwa proses pengolahan sampah di fasilitas tersebut menghasilkan RDF yang memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan oleh perusahaan atau pihak yang membutuhkan sebagai bahan bakar alternatif.
Meski demikian, Supian menegaskan bahwa keberadaan TPS 3R bukanlah solusi akhir dalam pengelolaan sampah di Kota Depok. Dukungan seluruh elemen masyarakat tetap diperlukan, terutama dalam membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.
“Semangat pengelolaan sampah harus terus ditingkatkan, dimulai dari langkah sederhana, yaitu melakukan pemilahan sampah dari hulu atau dari sumbernya,” pungkasnya.













