SiaranDepok — Sanggar Ayodya Pala kembali menghadirkan karya terbaru di awal tahun 2026 melalui Tari Kembang Merona, sebuah tari kreasi baru yang memadukan unsur budaya Cokek Betawi dengan sentuhan estetika kontemporer.
Pencipta Tari Kembang Merona, Yulli Fajar, mengatakan tarian ini diciptakan untuk memperkaya khazanah karya seni di Sanggar Ayodya Pala. Proses penciptaannya memakan waktu sekitar satu tahun.
“Tari Kembang Merona mulai kami garap sejak 2025. Prosesnya panjang, dari tahap awal hingga beberapa kali revisi,” ujar Yulli, Minggu (18/1/2026).
Menurutnya, pada awal penggarapan tarian ini sempat diberi nama Nona Nyentrik. Namun, seiring evaluasi terhadap gerak dan kostum yang dinilai belum sesuai dengan konsep, dilakukan perubahan hingga akhirnya diberi nama Tari Kembang Merona dan rampung pada awal 2026.
“Ini merupakan tari kreasi baru yang berpijak dari kesenian Cokek Betawi,” jelasnya.
Cokek sendiri dikenal sebagai tarian yang memiliki pengaruh budaya Tionghoa, sehingga Tari Kembang Merona menghadirkan perpaduan harmonis antara unsur Chinese dan Betawi.
Tarian ini menggambarkan sosok gadis yang tengah berada pada fase kasmaran, dianalogikan seperti bunga yang sedang mekar sempurna—indah, harum, dan menawan.
“Maknanya adalah manusia yang telah mencapai potensi maksimal atau kedewasaan diri yang utuh,” tutur Yulli.
Visualisasi tarian diwujudkan melalui pengembangan gerak-gerak tari Betawi yang diperkaya unsur keindahan, keberanian, dan semangat hidup.
Kostum didominasi warna merah dengan penggunaan saputangan merah sebagai simbol kemandirian perempuan, pesona kecantikan, kekuatan diri, serta kebahagiaan yang terpancar.
Ke depan, Tari Kembang Merona diharapkan dapat diperkenalkan ke seluruh lapisan masyarakat Kota Depok dan menjadi bagian dari perbendaharaan tari daerah.
Selain Tari Kembang Merona, Sanggar Ayodya Pala juga memiliki karya lainnya seperti Tari Goyang Ngamprok dan Tari Godeg Ayu yang kerap ditampilkan dalam program Susur Budaya.
Kedua tarian tersebut merupakan hasil pencapaian sanggar yang didirikan oleh Etin Budi Agustinah pada tahun 1980.
Tari Goyang Ngamprok, karya Wahyu Kartadinata Suroso, berakar dari budaya Betawi dengan pijakan pada tari Cokek melalui pengembangan gerak kewer.
Tarian ini menggambarkan kehidupan remaja yang penuh kebersamaan, canda, konflik, dan nilai saling memaafkan.
Sementara itu, Tari Godeg Ayu merupakan tari kreasi baru yang terinspirasi dari kesenian Topeng Cisalak, Depok, Jawa Barat.
Dikoreografikan oleh Wulandari, tarian ini mengisahkan dinamika kehidupan seorang gadis yang memasuki usia dewasa, mulai dari pencarian jati diri, keceriaan masa muda, hingga semangat meraih cita-cita yang kerap diwarnai problematika kehidupan.
Sebagai wadah seni yang aktif melestarikan budaya, Sanggar Ayodya Pala juga berperan mengenalkan seni tradisi Indonesia hingga ke mancanegara.
“Alhamdulillah, Ayodya Pala kerap dipercaya mewakili Indonesia ke luar negeri,” ujar Yulli.
Ia menegaskan bahwa menari merupakan wujud kecintaan terhadap budaya bangsa.
“Kami, para penari tradisional, insya Allah akan terus mengepakkan sayap untuk memperkenalkan budaya Indonesia,” pungkasnya. (Asep)










