Dari Perang Dunia II ke Konflik Iran–Israel: Evolusi Strategi Militer Dunia

- Reporter

Selasa, 23 September 2025 - 11:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siarandepok.com Sejarah perang selalu mencerminkan perkembangan zaman. Dari dentuman tank dan infanteri pada Perang Dunia II hingga dengungan drone dan serangan siber dalam konflik Iran–Israel, strategi militer telah bertransformasi dari konvensional menjadi simulasi modern berbasis teknologi. Namun, di balik kemajuan taktik dan persenjataan, rakyat sipil tetap menjadi korban utama.

Tulisan ini juga berangkat dari refleksi pribadi. Saya teringat kenangan masa kecil bersama ayah, seorang tentara mahasiswa PRRI sekaligus ajudan Syarifuddin Prawiranegara, yang pernah bergerilya di hutan Sumatera. Kami kerap menonton film Perang Dunia II produksi Hollywood yang selalu mengagungkan kehebatan Amerika. Padahal, fakta sejarah mencatat Tentara Merah Rusia adalah pihak pertama yang masuk Berlin dan memaksa Jerman menyerah tanpa syarat. Dari situlah minat saya terhadap strategi militer tumbuh, dan mendorong saya menelusuri evolusi taktik perang: dari era Blitzkrieg, D-Day, hingga Island Hopping di Perang Dunia II, lalu membandingkannya dengan konflik Iran–Israel pada 2024–2025.

Blitzkrieg: Kecepatan yang Menggemparkan Dunia

Pada 1 September 1939, Jerman menyerbu Polandia dengan strategi Blitzkrieg atau “perang kilat.” Konsep ini menggabungkan serangan udara Luftwaffe, tank Panzer, dan infanteri bergerak cepat. Dalam 35 hari, Polandia berhasil ditaklukkan, dengan Warsawa jatuh pada 27 September 1939.

Menurut catatan Imperial War Museum, Jerman mengerahkan 1,5 juta tentara, 2.000 tank, dan ratusan pesawat tempur. Keunggulan Blitzkrieg terletak pada koordinasi udara-darat yang presisi. Krakow, Lodz, hingga Gdansk jatuh dalam tempo singkat.

Tahun berikutnya, strategi yang sama berhasil menaklukkan Prancis, Belgia, dan Belanda. Bahkan, Jerman mampu menembus Tembok Maginot Prancis yang terkenal kokoh, dengan melewati hutan Ardennes. Namun, keampuhan Blitzkrieg mulai melemah ketika Sekutu belajar membaca pola serangan ini dan menyusun pertahanan yang lebih efektif.

D-Day: Kolaborasi Monumental

Jika Blitzkrieg melambangkan kecepatan, maka pendaratan Normandia pada 6 Juni 1944 adalah simbol kekuatan kolaborasi internasional. Operasi Overlord, dipimpin Jenderal Dwight D. Eisenhower, melibatkan 156.000 tentara Sekutu dari Amerika, Inggris, Kanada, dan negara lain.

Menurut National WWII Museum, operasi ini didukung lebih dari 7.000 kapal perang dan pendarat serta 11.000 pesawat. Untuk mengatasi garis pantai Normandia yang dijaga ketat, Sekutu bahkan menenggelamkan kapal tua sebagai pelabuhan buatan (Mulberry Harbours).

Korban jiwa di pihak Sekutu cukup besar, dengan sekitar 4.400 tentara tewas pada hari pertama. Meski demikian, pendaratan ini berhasil membuka jalan bagi pembebasan Eropa Barat. Paris jatuh ke tangan Sekutu pada Agustus 1944, dan Jerman semakin terdesak. D-Day membuktikan bahwa perang besar membutuhkan sinergi lintas negara, logistik canggih, dan tekad kolektif.

Island Hopping: Efisiensi di Pasifik

Di teater Pasifik, Amerika menghadapi Jepang yang menguasai ribuan pulau. Jenderal Douglas MacArthur merancang strategi Island Hopping atau “lompat katak,” yang menargetkan hanya pulau strategis sambil melewati benteng Jepang yang kuat.

Guadalcanal (1942), Tarawa (1943), dan Filipina menjadi titik kunci. Menurut National Geographic, strategi ini memutus jalur logistik Jepang tanpa harus merebut semua pulau.

Pada 1945, setelah pertempuran sengit di Iwo Jima dan Okinawa, Sekutu mendekati daratan Jepang. Puncaknya, Amerika menjatuhkan bom atom di Hiroshima (6 Agustus) dan Nagasaki (9 Agustus). Menurut Hiroshima Peace Memorial Museum, sekitar 140.000–200.000 orang tewas, sebagian besar warga sipil. Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat, menandai berakhirnya Perang Dunia II di Asia.

Perang Modern: Teknologi sebagai Kunci

Delapan dekade kemudian, wajah perang berubah drastis. Konflik Iran–Israel pada April 2024 menjadi contoh nyata. Iran meluncurkan lebih dari 300 drone dan rudal balistik sebagai respons atas dugaan serangan Israel terhadap konsulatnya di Damaskus.

Israel menggunakan sistem pertahanan canggih—Iron Dome, Arrow, dan David’s Sling—untuk mencegat serangan tersebut. Menurut laporan IDF, 99% proyektil berhasil digagalkan. Meski demikian, ketegangan terus meningkat.

Pada 2025, Israel melancarkan serangan besar ke fasilitas nuklir dan infrastruktur Iran. Media internasional melaporkan bahwa Amerika Serikat memberikan dukungan finansial ratusan juta dolar untuk memperkuat sistem pertahanan Israel. Iran pun semakin mendekat ke Rusia dan China untuk mencari dukungan militer, termasuk jet tempur dan sistem pertahanan udara.

Di era ini, perang tak hanya di medan darat dan udara, tapi juga di dunia maya. The Washington Post mencatat bahwa serangan siber kini bisa melumpuhkan infrastruktur negara sama efektifnya dengan rudal. Perang modern adalah kombinasi drone, satelit, rudal presisi, dan operasi digital.

Dampak Kemanusiaan: Pelajaran Abadi

Dari Blitzkrieg hingga drone, teknologi militer terus berevolusi. Namun, penderitaan rakyat sipil tak pernah berkurang. Perang Dunia II menewaskan sekitar 50 juta orang, termasuk 20 juta warga sipil (Encyclopaedia Britannica).

Kini, konflik Iran–Israel memperlihatkan pola serupa. Menurut UN OCHA, hingga 2025 krisis di Timur Tengah telah menciptakan lebih dari 1,2 juta pengungsi. Serangan udara dan rudal memperparah penderitaan warga sipil di kawasan yang sudah rentan.

Negara-negara tanpa teknologi militer mutakhir sering kali terjebak menjadi medan tempur yang tak mereka pilih, menanggung beban paling besar dari konflik antar kekuatan besar.

Diplomasi sebagai Jalan Damai

Sejarah menunjukkan bahwa negara yang lemah dalam pertahanan dan diplomasi rentan menjadi korban. Namun, perlombaan senjata tanpa henti juga membawa risiko kehancuran global. Mahatma Gandhi pernah mengingatkan, “Dunia ini cukup untuk kebutuhan semua orang, tetapi tidak untuk keserakahan satu orang.”

Teknologi seharusnya diarahkan untuk diplomasi dan kesejahteraan, bukan semata-mata untuk peperangan. Upaya negosiasi, seperti langkah Amerika Serikat pada 2025 untuk membuka kembali perundingan damai antara Israel dan pemerintahan transisi Suriah, menunjukkan bahwa ruang dialog masih mungkin.

Investasi pada teknologi damai—kecerdasan buatan untuk kesehatan, satelit untuk mitigasi bencana, energi berkelanjutan—adalah jalan keluar yang lebih menjanjikan bagi dunia yang terus dibayangi konflik.

Penulis : Novita Sari

Berita Terkait

Ini dia 3 Kampus Islam Terbaik dan Terbesar di Kabupaten Ponorogo, Ada Kampus yang berbasis Pesantren
Pesantren Anak Sholeh (PAS) Baitul Qur’an Ponorogo Gelar Seminar Nasional Character Building Membangun Daya Juang dan Spirit Ruh Mudarris Bersama Primago Consulting Depok
Perkuat Branding & Promosi Kampus, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Gandeng Primago Consulting Depok
PT AMBPI Perkuat Kedekatan dengan Pelanggan melalui Amazing Build Fest 2 di MARGOCITY
PT AMBPI Perkuat Kedekatan dengan Pelanggan melalui AMazing Build Fest #2 di MARGOCITY
Donasi Buku “Sejuta Buku Sejuta Impian”, LKSA Primago melalui Gerakan Ayo Peduli Sesama Dukung Literasi Siswa SDN Cibereum 1 Bogor
Tim Marawis Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Depok Tampil dan Hadiri Kegiatan Maulid Nabi di Majelis Ta’lim Al Muhajirin Depok
Wakil Wali Kota Depok Buka Kejuaraan Voli Muda: Fokus Sportivitas & Bakat

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:53 WIB

RT004/RW009 Sukatani Pastikan Sinergitas dengan Pemkot Depok Guna Mengejar Ketertinggalan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:05 WIB

Peringati Maulid Nabi dan Hari Santri 2026, Chandra Rahmansyah Ajak Warga Sukmajaya Teladani Akhlak Rasulullah dan Perkuat Karakter Generasi Muda

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Warga Rawageni Depok Sulap Dana RW Rp300 Juta Jadi Mobil Jenazah

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Futsal Depok Bidik Juara Grup A Porprov Jabar 2026 Usai Amankan Tiga Poin Perdana

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Wajah Baru Margonda: DPUPR Depok Gencarkan Aksi Bersih-Bersih Trotoar

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:25 WIB

Zebra Cross Jalan ARH Memudar, Dishub Depok Koordinasi dengan Pusat

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:21 WIB

Usul Enam Jalan Nasional Jadi Jalan Kota, Pemkot Depok Target Pemeliharaan Lebih Fleksibel

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:35 WIB

BKKBN dan Komisi IX DPR RI Komitmen Wujudkan Keluarga Berkualitas

Berita Terbaru

Melalui alokasi program Dana RW senilai Rp300 juta dari Pemkot Depok, pengurus RW 01 Rawageni, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung meralisasikannya untuk pengadaan sarana mobil jenazah. (Foto: Dok. Narasumber)

Berita Depok

Warga Rawageni Depok Sulap Dana RW Rp300 Juta Jadi Mobil Jenazah

Jumat, 30 Okt 2026 - 20:35 WIB