Kanti Utami dan Ketahanan Keluarga

- Reporter

Selasa, 22 Maret 2022 - 18:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Khairunnas

Sehari yang lalu masyarakat Indonesia dihebohkan oleh peristiwa tragis yang merenggut jiwa seorang bocah. Peristiwa yang terjadi di Kabupaten Brebes itu menyentak kesadaran kita, betapa rapuhnya keluarga Indonesia. Keluarga yang semestinya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak justru berubah menjadi malapekata. Keluarga yang mestinya menjadi tempat anak tumbuh kembang dan merajut harapan justru berubah jadi nestapa.

Peristiwa horor yang terjadi di Brebes itu tidak hanya merenggut nyawa seorang bocah, tetapi juga ada dua korban lainnya. Beruntung keduanya masih sempat diselamatkan, dan kini sedang mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Ketiganya adalah kakak beradik dan masih berusia bocah, yang mestinya mendapat pengasuhan dan kasih sayang dari orang tuanya.

Orang tua yang mestinya jadi tempat perlindungan anak justru jadi penyebab nasib tragis bocah-bocah malang ini. Ketiganya adalah korban kekerasan dari ibunya sendiri.

Tragis memang, sang ibu menggorok leher ketiga anaknya sendiri. Entah setan apa yang merasukinya hingga tega melakukan perbuatan biadab tersebut. Entah beban apa yang sedang dipikulnya hingga tega membunuh darah dagingnya sendiri.

Peristiwa yang tidak bisa diterima akal sehat ini memantik keprihatinan berbagai pihak. Penegak hukum pun telah bergerak untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Namun ada banyak pertanyaan yang mesti kita jawab, apakah gerangan yang terjadi sebenarnya, sehingga seorang ibu tega melakukan hal itu.

Pepatah “Kasih anak sepanjang jalan, kasih ibu sepanjang masa” tidak berlaku dalam peristiwa ini. Apakah nilai-nilai luhur ini sudah memudar dalam masyarakat kita? Saya rasa tidak. Peristiwa di Brebes itu hanya salah satu dari pengecualian keagungan sosok seorang ibu.

Kanti Utami, sosok ibu pelaku pembunuhan itu, bukanlah sosok yang umum ada dalam keseharian kita. Sepanjang yang kita lihat dan rasakan ibu adalah sosok yang penyanyang dan penuh welas asih. Ibu selalu menjadi pelindung utama bagi anak-anaknya. Banyak kisah yang sudah kita dengar, betapa kehadiran seorang ibu telah berhasil mengantarkan anak-anaknya menuju keberhasilan.

Sosok Kanti adalah anomali dari mayoritas ibu di dunia. Apa yang telah dia lakukan harus menjadi pelajaran buat kita semua. Sosok-sosok seperti Kanti harus sudah tidak ada lagi di dunia.

Tulisan ini mencoba mengkaji pangkal masalah kenapa peristiwa tersebut terjadi, agar tidak terjadi lagi di masa depan. Menurut pengakuannya kepada pihak kepolisian, Kanti melakukan itu untuk menyelamatkan anaknya dari kesulitan hidup. Mereka lebih baik mati dari pada mengalami kesusahan seperti yang saya alami jawab Kanti ketika ditanya aparat penegak hukum.

Jawaban ini menjadi pertanyaan bagi kita, apa sebenarnya yang terjadi dengan Kanti? Setelah ditanya lebih jauh, maka terbukalah sebenarnya apa gerangan yang terjadi dengan Kanti.

Ada beban hidup yang sudah tidak lagi sanggup dihadapi oleh Kanti, sehingga dia depresi dan stres. Kondisi inilah kemudian yang menyebabkan peristiwa tragis itu terjadi. Kanti tidak mampu lagi berpikir secara jernih, sehingga melakukan tindakan yang irasional.

Pemicu utama Kanti mengalami depresi adalah beban ekonomi dan hubungannya yang kurang harmonis dengan suaminya. Sejak di-PHK dari pekerjaannya di Jakarta, dia memutuskan untuk pulang kampung, dan menumpang pada bibinya. Sementara suaminya tetap tinggal di Jakarta, namun dengan pekerjaan yang tidak menentu, kadang bekerja kadang tidak.

Keterbatasan ekonomi inilah yang menjadi pemicu utama Kanti mengalami stres berat hingga membunuh anaknya. Menghidupi tiga anak tanpa sumber penghasilan yang jelas tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Jika kita tidak memiliki kesabaran ekstra, sudah pasti bisa berujung malapetaka.

Peristiwa Brebes merupakan salah satu bentuk ujian dari ketahanan sebuah keluarga. Rumah tangga dirajut untuk mewujudkan impian dua insan berlainan jenis. Membesarkan anak, mendidiknya, memiliki rumah yang layak, dan punya penghasilan yang cukup, merupakan impian setiap pasangan. Namun faktanya, tidak semua keluarga dapat mewujudkan hal tersebut. Selalu saja ada permasalahan yang dihadapi pasangan dalam mewujudkan impian tersebut, sehingga sering berujung perceraian, bahkan menyebabkan peristiwa tragis seperti yang dilakukan Kanti.

Kerapuhan rumah tangga ini, harus menjadi pelajaran bagi setiap pasangan, baik yang telah menikah maupun yang akan menikah. Keluarga harus dibangun dengan pondasi yang kokoh, ketika keduanya benar-benar telah siap untuk mengharungi bahtera rumah tangga, suka maupun duka.

Menyiapkan pasangan yang tangguh kini menjadi salah satu program yang sedang digerakkan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Bekerjasama dengan Kementerian Agama, BKKBN telah meluncurkan program pendampingan, konseling dan edukasi bagi calon pengantin. Dengan harapan, mereka lebih siap ketika mengharungi kehidupan rumah tangga.

Pendampingan bagi calon pengantin, seyogyanya tidak hanya dari sisi kesehatan. Tetapi perlu juga pemahaman tentang kesiapan secara ekonomi dan mental psikologi.

Kehidupan setelah menikah tentu berbeda ketika kita masih sendiri. Ada tanggung jawab yang harus kita jalankan ketika sudah berumah tangga. Setelah menikah, apalagi jika sudah memiliki anak, maka semakin banyak pula tanggung jawab yang harus kita laksanakan.

Menyiapkan calon pengantin agar matang dan tangguh dalam mengharungi bahtera rumah tangga menjadi program prioritas nasional untuk menyelamatkan masa depan generasi bangsa. Sebab, berhasil atau tidaknya pembangunan generasi masa depan bangsa, tergantung pada ketahanan dan ketangguhan keluarga, tempat dimana anak-anak Indonesia tumbuh.

Memperkuat ketahanan keluarga adalah langkah strategis yang telah diambil pemerintah. Namun program ini harus melibatkan lintas sektor agar keluarga yang benar-benar tangguh dapat diwujudkan. Selain itu, program yang dilaksanakan jangan hanya bersifat seremonial, tetapi juga harus menyentuh persoalan utama.

Pemerintah harus menyiapkan wadah bagi setiap keluarga untuk mencari solusi masalah rumah tangga. Selain itu wadah ini juga harus menjadi sarana untuk memulihkan diri dari beban stres pasangan suami istri. Oleh karena itu, saya mengusulkan adanya Rumah Konseling Keluarga, sebagai tempat konsultasi bagi setiap keluarga untuk mencari solusi rumah tangga.

Melalui Rumah Konseling Keluarga, kita bisa memerkuat ketahanan keluarga Indonesia. Dengan demikian, kita berharap tidak akan ada lagi Kanti-Kanti yang lain. Semoga…

Berita Terkait

PRIMAGEN kenalkan Tes Minat Bakat di Event Pramono SPEKIX 2026 di JCC Senayan Jakarta, Dorong Anak Disabilitas Mapping Talent Mapping Sejak Dini
Dana RW Rp300 Juta Bukan Sekadar Bangun Jalan! RW 10 Kelurahan RJB Pancoran Mas Kota Depok Depok Pilih Mobil Siaga, Ini Alasannya
PRIMAGEN dan FORKESI Hadirkan Tes Pemetaan Minat Bakat Anak Spesial di SPEKIX 2026
Rasakan Banyak Manfaat, Warga Sukatani Tapos Ingin Wisata Keberagaman terus Berlanjut
Calon Ketua Umum HIPPI Kota Depok Beserta Calon Pengurus Memperkuat Konsolidasi Bersama Ketua DPD HIPPI Jawa Barat Sebelum Pelantikan
Tak Berizin, 43 Bangli di Jalan Raya Bogor Cimanggis Ratakan Tanah oleh Satpol PP Depok
SMP Insan Kamil Cikarang Gelar Parenting Bagi Orang Tentang “Membaca Hasil Potensi Anak Melalui Test PRIMAGEN” Bersama Dr Awaluddin Faj, M.Pd
Aksi Plogging Mahasiswa UI dan RRD di CFD Margonda, Olahraga Sambil Rawat Lingkungan

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:28 WIB

Peringati Hari Pangan Sedunia 2026, Pemkot Depok Bagikan 1 Ton Beras di Jatijajar

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:26 WIB

DLHK Depok Dorong Warga Kemirimuka Aktif Pilah Sampah dan Manfaatkan Bank Sampah

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:24 WIB

Nggak Perlu Jauh! Warga Pondok Cina Bisa Urus Adminduk Langsung Dekat Rumah!

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:21 WIB

Ratusan Pelajar SD Depok Sabet Juara LLP 2026, Lima Siswa Tembus Kancah Nasional dan Provinsi

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:19 WIB

Akhir Damai Konflik Warga Jatijajar, Akses Perumahan Zenit Parc Kembali Normal

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:14 WIB

Situ Pladen Bersolek, Warga Terima Bantuan 1.500 Bibit Ikan untuk Ekowisata

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:11 WIB

Wawalkot Depok Lepas Lima Pelajar Kuliah ke Tiongkok, Beri Pesan Bangun Daerah

Selasa, 13 Oktober 2026 - 13:40 WIB

Wali Kota Depok Targetkan Bebas SILPA 2026, Perangkat Daerah Diminta Tancap Gas

Berita Terbaru