oleh

Milir (Bagian 1)

Oleh: Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Milir itu lawan mudik. Orang Parung Bingung Depok sejak abad lalu sudah melakukannya. Milir pada masa itu berarti berdagang pulang pergi atau menetap sementara waktu, kami menyebutnya tugur.

Berbeda dengan orang dari kampung Sawangan yang banyak milir dan tugur di Paseban Jatinegara, orang kampung Parung Bingung tugur dan bahkan bermigrasi ke Pasar Cikini.

Di Pasar Cikini sejumlah keluarga asal Parung Bingung berdagang buah, nasi, dan juga kopi. Sedangkan di Pasar Kaget Manggarai umumunya mereka berdagang palawija dan sayur-sayuran.

Bagi orang Parung Bingung yang milir dan tugur, Pasar Rumput adalah alternatif menjajakan dagangan apabila pembeli di Pasar Kaget Manggarai sepi. Mereka berjalan kaki dan memikul dagangan.

Yang menarik, generasi muda Parung Bingung hingga tahun 1990-an, masih ada yang mengikuti jejak langkah para pendahulunya. Saya dan adik saya pernah milir dan tugur berjualan kulit ketupat.

Itu kami lakukan menjelang hari raya Idul Fitri. Pertama-tama saya bersama rombongan pedagang dari Parung Bingung berdagang di Pasar Kaget Manggarai, dekat Bendungan Manggarai.

Sehari berikutnya, kami berpindah dengan menelusuri rel kereta api menuju Pasar Cikini. Di pasar ini harga satu kulit ketupat bisa saya jual 35 rupiah hingga 50 rupiah per buah, satu harga yang mahal saat itu.

(Sumber Photo : Republika)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru