Lawan Politik Kehabisan “Gorengan”, WAHABI Isu Politik Klasik Untuk Menjatuhkan Lawan.

- Reporter

Kamis, 5 November 2020 - 00:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

siarandepok.com-Menyikapi persoalan tuduhan WAHABI kepada calon walikota Depok nomor urut 2 Mohammad Idris, Pimpinan Pondok Pesantren Syaid Yusuf, Rangkapan Jaya Baru, Pancoran Mas, KH. Syahroni, menyesalkan kepada pihak yang telah memfitnah dengan dasar yang tidak jelas.

“Kalau ada orang bilang PKS atau Mohammad Idris itu Wahabi, itu salah besar, gak nyambung, itu fitnah. Orangnya tidak mengerti tentang mazhab-mazhab Islam Ahlussunah waljamaah,”jawabnya.

Dikatakannya, kenapa setiap menghadapi tahun politik isu agama yang dimainkan, terlebih masalah aliran, khususnya WAHABI untuk menjatuhkan lawan.

“Kami melihat dari mata kepala kami sendiri, banyak orang bilang wahabi itu anti maulid tapi Kiai Idris malah menggelar program sejuta maulid. Kedua, ada yang bilang wahabi itu anti ziarah kubur, namun Kiai Idris ziarah kubur. Yang ketiga, ada juga yang mengatakan Kiai Idris amaliahnya tidak qunut, tapi beliau melakukan qunut,” kata Syahroni, Selasa (3/11/2020).

Sementara, calon Walikota Depok, Mohammad Idris menyikapi tudingan dirinya yang dikaitkan dengan Wahabi, terlepas dari politik, ini adalah persoalan Agama, menurutnya, perkataan yang di lontarkan terkait dengan isu wahabi orang tersebut belum memahami tentang agama.

“Terlepas dari prespektif politik, namun saya melihatnya dari prespektif agama, bahwa yang melontarkan ini biasanya ustadz yang sering ngaji dan berilmu, kalau orang berilmu menyampaikan ilmunya salah, ini bahaya. Bukan sekedar tuduhan kepentingan politik, namun bisa jadi fitnah, ini yang merusak nilai dan prinsip-prinsip agama dalam berpolitik,” ungkapnya.

Dirinya (Idris,red) tidak merasa khawatir dengan isu yang di mainkan untuk menjatuhkan lawan, menurutnya, ini adalah isu klasik yang sudah dimainkan sejak 2005, jelas tidak terbukti.

“Ini kan isu klasik, sejak awal 2005 juga sudah ada isu lawan wahabi, tapi itu kan enggak terbukti. Cobalah, para ustad yang menjadi teladan di masyarakat tampilkan politik dan cara-cara yang santun, bukan sekadar santun tapi juga mengikuti etika agama, ini kan fitnah, fitnah besar ini,” jelasnya.

Sementara, Idris meminta bukti tudahan wahabi yang ditujukan kepada dirinya, sebab dirinya tau betul kehidupan Wahabi di Arab Saudi.

“Buktinya apa..? saya ini 15 tahun di Arab. Harus tahu dulu makna dan esensi wahabi itu apa, kalau wahabi yang dipersoalkan hanya maulid atau tidak, qunut tidak qunut, ini kan masalah khilafiah yang di Indonesia dari dulu sudah ada antara Al Irsyad, Persis, Muhammadiyah maupun NU. Namun sekarang sudah berkurang dari sisi kesadaran para ulama-ulamanya, kalau ulamanya sudah bagus jangan sampai mengacaukan lagi suasana ukhuwah yang sudah terjalin di tingkat ulama sudah baik,”paparnya.

Sementara, jika wahabi ditujukan kepada tokoh pergerakan yang dinamakan Muhammad bin Abdul Wahab.

“Yang mendirikan dan melakukan itu Muhammad Abdul Wahab itu bapaknya. Dari sini saja sudah salah kaprah menyebutnya, harusnya bukan wahabi, harusnya muhamadi. Ini kan menuduh bapaknya Muhammad yang bernama Abdul Wahab jelas enggak benar, padahal mereka sendiri tidak tahu sejarahnya Abdul Wahab seperti apa,” jelasnya.

Yang dikenal pada saat itu, sambugnya, adalah gerakannya melawan masyarakat yang telah mendewakan seperti kuburan, pepohonan dan tempat-tempat keramat yang menurut mereka hal ini tidak bisa ditolerir.

“Tawasul itu beda lagi permasalahannya dengan ta’abud, ini yang harus dipahami.Terkait Ahlusunnah Waljamaah, ini siapa?,” ucapnya.

“Kalau istilah Aswaja adalah NU, tapi kalau Ahlusunnah Waljamaah nya tidak bisa diklaim untuk NU. Muhammadiyah juga Ahlusunnah Waljamaah, begitu juga Persis, Al Irsyad atau Mathla’ul Anwar mereka juga Ahlusunnah Waljamaah, jika dalam konteks hadist mereka itu masuk kesana,” pungkasnya.

Berita Terkait

Wali kota Madiun Maidi Di Tangkap KPK Kasus Fee Proyek dan Dana CSR
Dewan Kebudayaan Kota Depok (DKD) Ucapkan Selamat kepada Supian-Chandra, Dilantik Wali-Wakil Wali Kota Depok 2025-2030
Pastikan Anak di Depok Bersekolah Hingga Kuliah, Chandra Rahmansyah Minta Relawan Rangkul Semua Pihak
“Ini Kata Alumni Gontor dan Simpatisan Pendukung Supian-Chandra tentang 6 Faktor Kesuksesan SS-CR Jadi Walikota Depok”
“Kenang perjuangan yang berliku, relawan GASS D1 adakan tasyakuran kemenangan Supian-Chandra”
Hore…Anggaran Ziarah Gratis atau Wisata Keberagaman Rp 25 Juta/RW
Tunggu Keputusan Pemerintah, KPU Prediksi Pelantikan Supian-Chandra di Maret
Langsung Tancap Gas, Supian-Chandra Temui Ketua MPR dan Wapres untuk Bangun Depok

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:21 WIB

Yuk Mengaji Gratis! Yayasan Insan Gemar Mengaji Nusantara Siapkan Generasi Qur’ani dari Depok untuk Indonesia

Rabu, 20 Mei 2026 - 23:52 WIB

Ini Makna Hari Kebangkitan Nasional Dimata Wali Kota Depok, Supian Suri

Rabu, 20 Mei 2026 - 23:40 WIB

Kepala DP3AKB Provinsi Jawa Barat, Siska Gerfianti: Keluarga Kuat Kunci Jabar Istimewa

Rabu, 20 Mei 2026 - 23:23 WIB

SMP Sumbangsih Pasar Minggu Jakarta Selatan Gelar Karya Wisata ke Cirebon Tahun 2026 bersama Dirgantara AIA Tour Travel

Selasa, 19 Mei 2026 - 09:38 WIB

Tiga Jabatan Kepala Dinas di Depok Tak Lagi Dilelang, Pemkot Terapkan Sistem Manajemen Talenta

Senin, 18 Mei 2026 - 11:55 WIB

SMP Budhi Warman Goes To Yogyakarta Tahun 2026 bersama Dirgantara AIA Tour Travel

Senin, 18 Mei 2026 - 08:04 WIB

Komunitas GASS D1 Gelar Family Gathering Sekaligus Tasyakuran Berdirinya Yayasan Baru

Minggu, 17 Mei 2026 - 22:24 WIB

Drama Contest Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago : Sarana Berlatih Bahasa dan Seni Peran Santri & Santriwati

Berita Terbaru