Siarandepok.com – Kelinci adalah salah satu hewan pilihan untuk dipelihara. Namun sayangnya, seringkali saat membeli kelinci yang dijual hidupnya tidak bertahan lama. Hal ini tentu dapat membuat sedih pemiliknya lantaran hanya bisa bersama dalam waktu singkat. Lantas apa yang membuat kelinci yang dijual cepat mati ketika dipelihara?
Berikut beberapa mitos yang salah tentang kelinci yang menyebabkan kelinci cepat mati.
1. Kelinci Berusia Pendek
Sejatinya kelinci berusia panjang. Usia kelinci yang di rawat dengan baik dan benar dapat mencapai usia 10 tahun bahkan lebih.
“Kelinci cepat mati setelah seminggu atau dua minggu dibeli karena sebenarnya pada saat dijual umurnya belum cukup. Kelinci itu baru bisa dijual paling cepat dua bulan. Kalau kurang dari itu kelinci rentan banget terhadap penyakit,” ungkap Zainal Arifin dari komunitas Indonesian Rabbit Society.
2. Kelinci Tidak Butuh Minum
banyak pedagang kelinci yang tidak berpengalaman menyebutkan bahwa kelinci tidak butuh minum padahal kelinci sangat butuh minum. Selayaknya makhluk hidup, kelinci juga membutuhkan air bersih untuk minum.
3. Kelinci Hanya Makan Sayur
Masyarakat pada umumnya mengetahui bahwa makanan kelinci adalah sayur dan wortel. Namun sebenarnya makanan utama yang baik untuk kesehatan kelinci adalah rumput (timothy hay atau alfalfa hay) dan pellet. Kelinci yang mengonsumsi sayur dan wortel berlebihan akan menyebabkan kembung atau diare pada kelinci.
4. Kelinci Harus Dimandikan
Kelinci tidak perlu dimandikan karena kelinci merupakan hewan yang bersih. Kelinci sangat memperhatikan kebersihan bulunya dan bisa memandikan dirinya sendiri dengan cara menjilati badannya.
5. Kelinci Merupakan Peliharaan Untuk Anak-Anak
Kelinci tidak cocok dipelihara oleh anak- anak. Banyak orang tua yang membelikan kelinci sebagai hadiah kepada anaknya. Memelihara kelinci tidak semudah memelihara kucing atau anjing. Jika hanya anak saja yang memelihara kelinci, anak-anak cenderung sembarangan memberi makan atau mengangkat kelinci. Anak-anak belum mengetahui apa yang berbahaya bagi kelinci dan belum memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap kelangsungan hidup kelinci tersebut. Kecuali dibarengi orang tua yang berperan penuh dalam merawat kelinci.
Penulis : Muthia Dewi Safira
Sumber foto : Muthia Dewi Safira











