oleh

Berpihak Kepada Kebenaran

-Agama, Ramadhan-377 views

Hikmah Puasa Hari Ke-19

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA
Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Indonesia Kota Depok
dan Dosen Pascasarjana FIDKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lebih dari separuh Ramadhan telah kita jalani. Kita sendiri yang bisa menilai dan merasakan seperti apakah pengaruh positif yang terjadi sejauh ini. Dalam keseharian, masihkah kita berperilaku layaknya orang yang tidak berpuasa? Perilaku kita selama menjalani ibadah puasa ini, masihkah memutar-balikkan keadaan, melakukan akrobatik politik, berkhianat, dan tanpa malu berlaku sok pintar dan berkuasa di hadapan publik?

Agar kita berpihak kepada kebenaran, penting kiranya kita perhatikan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Nabi SAW bersabda: “Suatu masa akan tiba di mana kebohongan dalam waktu sangat panjang menimpa manusia. Pendusta dianggap orang benar, orang benar dianggap pendusta, pengkhianat dianggap orang amanah, orang amanah dianggap pengkhianat, dan ruwaibidhah akan berbicara pada saat itu”. Seseorang bertanya, “Siapakah ruwaibidhah itu?” Nabi SAW menjawab, “Seorang yang bodoh tapi berbicara tentang urusan umat”.

Hadits ini mengoreksi kualitas keberagamaan kita selama ini. Pertama, puasa kita harus mampu membedakan antara pendusta dengan orang benar. Kita jangan sampai tertipu oleh penampilan yang mentereng atau manis kata-katanya. Sebenarnya kalau kita selama ini masih tertipu oleh para pendusta itu lantaran kita sendiri masih suka berdusta. Minimal, selama ini kita masih memandang orang dari
penampilannya, atau bahasa bibirnya yang penuh janji. Saatnya kita berpihak kepada kebaikan sehingga pendusta tidak kita katakan orang benar dan orang benar tidak kita anggap pendusta.

Kedua, puasa kita hendaknya mampu menggusur sikap inkonsistensi. Kita mulai dari diri sendiri. Ketika kita membela pengkhianat sebagai seorang yang amanah untuk meraih keuntungan pribadi, sebenarnya kita tengah menjungkirbalikkan kebenaran dan menghancurkan tatanan dunia ini. Kita harus berani berpihak kepada mereka yang amanah, kendati kita adalah orang yang bakal menanggung kerugian. Semestinya, kita tidak menjadikan kebaikan dan keburukan orang untuk tujuan dan ambisi pribadi kita. Dan kita juga jangan sampai mempengaruhi orang agar sesuai dengan yang kita maksudkan. Apalagi menggiring mereka yang amanah menjadi para pengkhianat.

Ketiga, di bulan suci ini mari kita koreksi diri. Sungguh malu rasanya, bila yang dimaksud sebagai ruwaibidhah adalah kita sendiri. Betapa tidak, selama ini kita sudah terlalu sering berbicara di muka umum tentang urusan publik. Lalu mengkritik rakyat, menolak kebijakan pemerintah, dan menghakimi agama sebagai penghambat kebebasan berpikir. Bahkan sering kita berkata lantang untuk mengobarkan semangat juang, padahal diri kita kerdil dan nyali kita kecil. Pengetahuan kita dangkal. Sedangkan yang kita utarakan hanya memperkeruh keadaan, membuat publik gusar, dan sama sekali tidak bermanfaat. Semoga puasa menyadarkan kita akan bahaya ruwaibidhah ini.

Sejatinya, berpihak kepada kebenaran harus ditanamkan di tengah keluarga, kepada anak-anak kita. Rasulullah SAW yang mengajarkan hal hal itu. Abu Daud dan Baihaqi meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Pada suatu hari, ibuku memanggilku, dan Rasulullah SAW sedang bertamu di rumah kami. Berkatalah ibuku, ‘wahai Abdullah, ke sinilah, nanti aku beri’. Maka berkatalah Rasulullah SAW kepada ibuku, ‘Apa yang hendak engkau berikan kepadanya?’ Ibuku menjawab’ ‘Saya hendak memberikan kurma kepadanya’. Rasulullah SAW berkata, ‘Jika engkau tidak memberikan sesuatu kepadanya, maka tertulislah engkau sebagai pendusta”.

Belum terlambat bila kita memulai untuk melakukan pembelaan kepada kebenaran. Bila Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa Ramadhan adalah “madrasah” yang disediakan Allah, maka kita punya harapan untuk menjadi pribadi yang berpihak kepada kebenaran, selepas Ramadhan tahun ini *⁠⁠⁠⁠

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru