Kembali Kepada Turos

- Reporter

Kamis, 21 Maret 2019 - 02:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Erdy Nasrul *

Akhir-akhir ini pembicaraan di media sosial menyentuh persoalan dakwah. Di antaranya adalah tentang perubahan kata dalam bahasa Arab atau tashrif. Pembicaraan ini muncul untuk merespons adanya seorang pendakwah yang tidak tepat mengubah kata Arab.

Sebelumnya juga ada pendakwah muda yang kurang tepat menafsirkan surah ad-Dhuha sehingga mendapatkan kritikan organisasi pelajar. Sang ustaz meminta maaf dan mengakui kekhilafannya.

Dua peristiwa ini menandakan dangkalnya pemahaman tentang Islam. Mereka memahami ajaran tersebut pada permukaan saja. Kurang mendalam.

Tren teknologi sekarang ini menjadikan banyak orang cepat belajar. Dengan mengakses portal informasi tentang Islam, seseorang sudah mendapatkan sekilas wawasan tentang ajaran tersebut. Bisa juga dilakukan dengan menonton video pendakwah yang tersebar di jagat maya. Terkesan mudah, seakan belajar Islam cukup secara daring

Ghirah keislaman mereka sangat besar. Namun, modal itu saja tak cukup. Harus ditambah dengan kesungguhan dalam menuntut ilmu seperti yang dilakukan para ulama dahulu. Mengaji tafsir misalkan, tidak cukup hanya dengan membuka terjemahan Alquran. Tak cukup sekadar nonton video penceramah.

Harus ada upaya membuka kitab-kitab ulama yang otoritatif. Ingin mengetahui tafsir misalkan, maka harus membuka kitab-kitab seperti Tafsir al-Maraghi, Tafsir Mishbah, dan Tafsir al-Azhar. Ingin memahami fikih, maka harus membuka Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusydi, al – Umm yang ditulis Imam Syafi’i, dan Fiqhus Sunnah yang disusun Sayyid Sabiq. Banyak lagi kitab-kitab lainnya yang menjelaskan khazanah keilmuan Islam secara mendalam.

Membaca kitab-kitab klasik seperti tadi mungkin bertentangan dengan gaya millenial sekarang ini yang mengutamakan praktis, simple, dan cepat. Namun mengupas pemikiran cendekiawan dunia tetap harus dilakukan dengan mendalam. Butuh waktu ekstra.

Karena dengan begitu, pemahaman akan lebih mendalam. Poin demi poin. Detil. Ketika pemahaman tadi dijadikan materi dakwah, maka isi pembicaraan akan mendalam, berbobot, dan tentu saja tidak ‘asal bunyi’.

Kitab klasik atau turos adalah buku-buku warisan ulama. Penyusunannya menghabiskan waktu panjang. Rujukannya adalah hasil pembelajaran sang alim kepada guru-gurunya dan juga berbagai referensi klasik. Ada juga yang ditambahkan dengan pengalaman personal dan spiritual, seperti al-Munqidz Minad Dhalal dan Ihya Ulumiddin karya Hujjatul Islam Imam al-Ghazali.

Ini merupakan kecanggihan ulama. Pengetahuan intuitif yang mereka dapatkan bisa menjadi asas pengetahuan yang mereka tulis dalam karya monumental. Sejak ratusan tahun lalu buku-buku tersebut tetap menjadi rujukan. Muslim membacanya sebagai rujukan ilmu akhlak, ekonomi, politik, tasawuf, teologi, tafsir, dan banyak lagi.

Karya mereka tidak hanya dibaca orang sekitarnya. Muslim di berbagai belahan dunia ikut mengkaji karangan mereka. Sebut saja //Asrarul Arifin// Hamzah Fanshuri, dibaca oleh Muslim di India, Mesir, dan lainnya. Orientalis seperti Gerardus Willebrordus Joannes Drewes juga ikut mengkajinya.

Ulama kita dahulu mengkaji Islam secara perlahan agar menghasilkan pemahaman yang komprehensif. Bahkan sebelum mempelajari kitab, mereka terlebih dahulu menyucikan diri dari hadas dan dosa. Hal itu dilakukan dengan berwudhu, mandi hadas, dan tobat. Tujuannya agar Allah mudah memberikan pemahaman ilmu pengetahuan. Dasarnya adalah perkataan Imam Syafi’i, bahwa ilmu adalah cahaya Allah yang tidak diturunkan kepada pendosa.

Tak hanya membaca, seseorang juga harus mempunyai guru agar tidak salah paham. Ketika mendapatkan permasalahan pelik, seseorang dapat mengadu kepada gurunya. Jadi tidak menafsirkan sendiri.

Di sini ada akhlak yang harus dijaga. Murid harus merendah diri di hadapan sang guru. Tak ada cerita seorang murid bersikap arogan, sok tahu, apalagi melawan guru. Kalau itu yang terjadi, maka berarti si murid telah menutup hatinya dan tak mau menerima ilmu. Allah tak akan memberikan cahayanya kepada orang-orang tadi.

Salah satu teladan murid adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari. Dia rela menyeburkan dirinya kedalam kubangan kotoran manusia demi mencari cincin istri gurunya saat menimba ilmu di Bangkalan. Luar biasa.

Setelah itu sang guru, Syaikhuna Kholil, begitu senang. KH Hasyim Asy’ari didoakan agar menjadi orang besar. KH Hasyim juga serius menimba ilmu pengetahuan, sehingga dia mendapatkan ridha sang guru.

Berbekal ridha tadi, sang alim mendapatkan cahaya ilahi. Dakwahnya berbobot, membangkitkan semangat perjuangan yang antipenjajahan. Namanya selalu dikenang sebagai sosok pendakwah penuh kearifan.

Saatnya kita kembali membaca turos, kitab jadul penuh hikmah. Juga menjaga akhlak terhadap guru yang mengajarkan ilmu, seperti yang dilakukan KH Hasyim Asy’ari.

Pembelajaran turos saat ini harus digalakkan kembali. Bisa melalui kajian yang komprehensif. Turos dikaji. Pemahamannya diperkaya dengan konteks kekinian, sehingga mudah diserap oleh generasi millenial. Insya Allah cara demikian akan menuntun kepada pemahaman Islam yang tidak asal-asalan.

(Penulis adalah Alumni Gontor dan Wartawan Republika)

Berita Terkait

WORKSHOP EXCLUSIVE CARA UNIK PROMOSI SEKOLAH BERSAMA PRIMAGO CONSULTING TAHUN 2026
Gelar Sekolah Ayah Bunda Spesial, Ini bentuk Apresiasi Warga pada Wali Kota Depok Supian Suri
Selain Infrastruktur dan Pendidikan, Ini Prioritas Wali Kota Depok Supian Suri tahun 2027
Ribuan Pelajar SD Ramaikan Depok Kids Run Festival 2026 di Depok Open Space
Gandeng Primago Consulting, Pesantren Al-Bahjah Rumuskan Blueprint Strategis Penguatan & Pengembangan Lembaga
Tetap Optimis Walau Minim Antusias Warga, Aksi Korve Kebersihan Di RT 004/RW 009 Sukatani.
Ini dia 3 Kampus Islam Terbaik dan Terbesar di Kabupaten Ponorogo, Ada Kampus yang berbasis Pesantren
Pesantren Anak Sholeh (PAS) Baitul Qur’an Ponorogo Gelar Seminar Nasional Character Building Membangun Daya Juang dan Spirit Ruh Mudarris Bersama Primago Consulting Depok

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 17:35 WIB

Depok Fashion Forward 2026: Wajah Baru Kreatif Lokal

Kamis, 5 November 2026 - 17:31 WIB

Kabar Baik! Perbaikan SeCawan Depok Dimulai Pekan Ini

Kamis, 5 November 2026 - 17:23 WIB

Pemkot Depok Kembali Gelar Uji Emisi Kendaraan Gratis

Kamis, 5 November 2026 - 17:17 WIB

Sayonara Kabel Semrawut! Ini Langkah Cepat Depok Menata Kota

Kamis, 5 November 2026 - 11:24 WIB

BKKBN dan Komisi IX DPR Gaungkan Program Bangga Kencana

Kamis, 5 November 2026 - 08:46 WIB

Tingkatkan Pelayanan Penumpang, Penataan Stasiun Depok Baru Ditargetkan Rampung Akhir Desember

Rabu, 4 November 2026 - 19:01 WIB

Guntur Gani Prakoso Resmi Pimpin Kasi Intel Kejari Depok

Rabu, 4 November 2026 - 18:59 WIB

Ratusan Dapur Makan Gratis di Depok Kini Diawasi Ketat!

Berita Terbaru

Depok Fashion Forward sekaligus Dekranasda Goes to Mall resmi dibuka di Margo City, Kamis (05/11/26). (Sumber foto: Siaran Depok/AN Rafi)

Berita Depok

Depok Fashion Forward 2026: Wajah Baru Kreatif Lokal

Kamis, 5 Nov 2026 - 17:35 WIB

Petugas dari DPUPR dan Polres Metro Depok menggelar inspeksi langsung ke lokasi di Jalan Raya Sawangan, persis di area depan Sungai Elok Cantik dan Menawan (SeCawan), Kecamatan Pancoran Mas, pada Kamis (05/11/26). (Foto: Diskominfo)

Berita Depok

Kabar Baik! Perbaikan SeCawan Depok Dimulai Pekan Ini

Kamis, 5 Nov 2026 - 17:31 WIB

Pelaksanaan uji emisi kendaraan bermotor di Halaman Kantor PBB, Balai Kota Depok, Kamis (05/11/26). (Sumber foto: Diskominfo Depok)

Berita Depok

Pemkot Depok Kembali Gelar Uji Emisi Kendaraan Gratis

Kamis, 5 Nov 2026 - 17:23 WIB

Penertiban kabel udara digelar oleh Dinas PUPR di kawasan Jalan Pemuda serta Jalan Kartini, Kecamatan Pancoran Mas, Selasa (14/04/26). (Foto: Diskominfo)

Berita Depok

Sayonara Kabel Semrawut! Ini Langkah Cepat Depok Menata Kota

Kamis, 5 Nov 2026 - 17:17 WIB

Kegiatan Sosialisasi dan Fasilitasi Program Bangga Kencana di
Gedung Harmas Kecamatan Beji, Senin (2/112026). (Sumber foto: Istimewa)

Berita Depok

BKKBN dan Komisi IX DPR Gaungkan Program Bangga Kencana

Kamis, 5 Nov 2026 - 11:24 WIB