



SiaranDepok — Pertemuan beberapa pejabat kementerian dan lembaga (K/L) digelar di Wisma Danantara, Jakarta, pada Sabtu (31/1) kemarin, menyusul mundurnya empat petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Hadir dalam pertemuan tersebut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan CEO Danantara Rosan Roeslani.
Airlangga menyampaikan kondisi makro ekonomi Indonesia yang kuat dengan pertumbuhan 5,04% pada kuartal-III 2025. Tingkat inflasi per Desember 2025 sebesar 2,92%, dan inflasi Januari 2026 akan diumumkan dalam waktu dekat.
Pemerintah bergerak cepat membuat kebijakan penting agar pasar modal Indonesia dinilai baik oleh investor. Salah satunya adalah menertibkan saham-saham gorengan yang dinilai manipulatif. “Penertiban praktik spekulatif, pemerintah tidak mentolerir saham gorengan manipulatif yang merusak kredibilitas pasar modal,” tegas Airlangga.
Upaya lain yang akan dijalankan pemerintah adalah demutualisasi BEI, yaitu perubahan status BEI dari organisasi berbasis keanggotaan menjadi entitas berbentuk perusahaan yang dapat dimiliki oleh publik. Ini sejalan dengan permintaan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Airlangga menegaskan langkah ini diperlukan agar Pasar Modal RI kembali dipercaya investor. Dengan upaya ini, arus modal asing diharapkan akan kembali dan datang sehingga ujungnya pasar modal RI bisa berkontribusi menyumbang pertumbuhan ekonomi serta lapangan pekerjaan.
Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan Kementerian Keuangan, OJK, dan BEI untuk memastikan kegiatan operasional bursa berjalan normal dengan kepemimpinan transisi. (Asep)













