Masuk Desil 6, Keluarga Buruh Jakarta Berharap Anaknya Tetap Bisa Terima KJMU

- Reporter

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah orang tua mahasiswa saat mendatangi Sekretariat SIGAP Jakarta di Sekretariat SBSI'92, Jakarta Timur. (Sumber foto: Istimewa)

Sejumlah orang tua mahasiswa saat mendatangi Sekretariat SIGAP Jakarta di Sekretariat SBSI'92, Jakarta Timur. (Sumber foto: Istimewa)

SIARANDEPOK.COM – Sejumlah anak dari keluarga buruh di Jakarta terancam kehilangan bantuan pendidikan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU). Penyebabnya, keluarga mereka kini masuk kategori desil 6 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Padahal, para orang tua mengaku masih kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan tidak tetap. Biaya kuliah anak pun masih menjadi beban yang cukup berat.

Keluhan ini disampaikan sejumlah orang tua mahasiswa saat mendatangi Sekretariat SIGAP Jakarta di Sekretariat SBSI’92, Sabtu (22/8/2026).

Ketua Umum Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI)’ 92 sekaligus Presidium SIGAP Jakarta, Sunarti, mengatakan keluarga yang terdampak antara lain bekerja sebagai tukang ojek, tukang jahit hingga pekerja serabutan.

“Mereka itu keluarga buruh harian lepas. Pendapatannya minim, sementara anak-anak mereka sudah diterima di perguruan tinggi,” ujar Sunarti dalam keterangannya, Minggu (23/8/2026).

Menurut dia, KJMU selama ini sangat membantu keluarga kurang mampu membiayai pendidikan anak.

Namun, lanjutnya, setelah masuk desil 6, sebagian mahasiswa tidak lagi mendapatkan bantuan tersebut.

Selain itu, Sunarti bilang, SIGAP Jakarta menemukan sekitar 150 keluarga yang sebelumnya menerima KJMU kini terancam kehilangan bantuan. Jumlah tersebut disebut baru berasal dari keluarga yang telah terdata.

Sementara itu, Budi dari Forum Pejuang KJMU mengatakan persoalan ini perlu segera ditangani karena berdampak langsung terhadap mahasiswa.

Bahkan, SIGAP Jakarta menyebut sudah ada dua mahasiswa yang drop out dan satu mahasiswa mengambil cuti akademik setelah kehilangan bantuan KJMU.

Kelompok buruh mempertanyakan penggunaan desil sebagai dasar menentukan penerima KJMU.

Mereka tidak mempersoalkan pemerintah menggunakan data untuk menentukan penerima bantuan. Namun, mereka meminta pemerintah melihat kembali kondisi keluarga secara langsung ketika data tersebut tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

“Apakah seleksi penerima manfaatnya sungguh-sungguh efektif?” kata Presidium SIGAP Jakarta, Achmad Ismail atau Ais dalam keterangannya.

Ais menerangkan, masuk dalam kategori desil tertentu belum tentu berarti sebuah keluarga mampu membayar biaya kuliah anak secara mandiri.

Terlebih, sambung dia, banyak keluarga buruh yang penghasilannya tidak tetap dan harus membagi pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari, utang, serta biaya pendidikan.

Tak hanya itu, SIGAP Jakarta juga menyoroti anggaran KJMU 2026 yang mereka sebut turun dari sekitar Rp399 miliar menjadi Rp349 miliar.

Mereka meminta Pemprov DKI Jakarta menjelaskan perubahan anggaran tersebut sekaligus memastikan mahasiswa dari keluarga yang benar-benar membutuhkan tidak kehilangan bantuan.

Program KJMU sendiri akan memasuki penyaluran tahap II pada September 2026.

Para orang tua mahasiswa berharap masih ada ruang untuk melakukan verifikasi dan memperbaiki data penerima sebelum penyaluran dilakukan.

Lebih jauh Sunarti menyebutkan, pihaknya juga berencana menyampaikan persoalan tersebut kepada Gubernur DKI Jakarta dan DPRD DKI Jakarta.

Bagi para orang tua, persoalannya sederhana. Mereka tidak ingin anak yang sudah susah payah masuk perguruan tinggi harus berhenti kuliah hanya karena keluarganya tercatat dalam kategori desil 6.

Di akhir, Sunarti berharap pemerintah tidak hanya melihat angka dalam sistem, tetapi juga kondisi keluarga yang sebenarnya. (*)

Berita Terkait

Suara Anak Depok, Arah Kebijakan Kota
Ini Dia Kinerja Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Tahun 2026
PRIMAGEN kenalkan Tes Minat Bakat di Event Pramono SPEKIX 2026 di JCC Senayan Jakarta, Dorong Anak Disabilitas Mapping Talent Mapping Sejak Dini
Dana RW Rp300 Juta Bukan Sekadar Bangun Jalan! RW 10 Kelurahan RJB Pancoran Mas Kota Depok Depok Pilih Mobil Siaga, Ini Alasannya
PRIMAGEN dan FORKESI Hadirkan Tes Pemetaan Minat Bakat Anak Spesial di SPEKIX 2026
Rasakan Banyak Manfaat, Warga Sukatani Tapos Ingin Wisata Keberagaman terus Berlanjut
Calon Ketua Umum HIPPI Kota Depok Beserta Calon Pengurus Memperkuat Konsolidasi Bersama Ketua DPD HIPPI Jawa Barat Sebelum Pelantikan
Tak Berizin, 43 Bangli di Jalan Raya Bogor Cimanggis Ratakan Tanah oleh Satpol PP Depok

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:27 WIB

Kemiri Muka Masuk 6 Besar Depok, Realisasi PBB-P2 Capai 99,82%

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:25 WIB

Jangan Lewatkan! 264 Peserta Siap Unjuk Gigi di Depok Padel Cup 2026

Jumat, 16 Oktober 2026 - 18:20 WIB

Babat Bangunan Liar di Tugu, Satpol PP Depok Pulihkan Fungsi Drainase

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:48 WIB

Serua Peduli: Sedekah Telur, Cegah Stunting!

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:44 WIB

Ngedeprok Lebih Asik, Wajah Baru Depok Open Space 3 Resmi Dibuka

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:41 WIB

Bagi-Bagi 85 Teko, Trik Kelurahan Serua Bikin RT-RW Makin Guyub!

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:38 WIB

Green Policing di Depok: Saat Polisi & Warga Turun Tangan Bikin Asri Lingkungan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 09:46 WIB

Capai 93%, Perbaikan Tiga Jalan Utama di Sawangan Rampung Akhir Tahun

Berita Terbaru

Lurah Kemiri Muka, Bahrul Ulum (kedua dari kanan). (Foto: Dokumentasi Narasumber)

Berita Depok

Kemiri Muka Masuk 6 Besar Depok, Realisasi PBB-P2 Capai 99,82%

Sabtu, 17 Okt 2026 - 09:27 WIB

Lurah Serua, Ikhwan membagikan paket makanan bergizi kepada warga dalam program Setel Kuping. (Foto: Dokumentasi Narasumber)

Berita Depok

Serua Peduli: Sedekah Telur, Cegah Stunting!

Jumat, 16 Okt 2026 - 14:48 WIB