
SIARAN DEPOK –

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui LPPM Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berkolaborasi dengan Sanggar Tari Larasati untuk menghadirkan Tari Laras Depokyan, sebuah karya seni anyar yang dirancang menjadi simbol identitas budaya Kota Depok. Program yang dipimpin oleh Prof. Dinny Devi Triana ini didanai melalui hibah Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) dalam skema Pengabdian kepada Masyarakat (P2M). Inisiatif ini berfokus pada penggalian potensi seni lokal guna menjawab tantangan geografis Depok yang berada di persimpangan budaya Betawi dan Sunda—posisi yang selama ini membuat karakter budaya khas kota tersebut cukup sulit dirumuskan.
Ketua Sanggar Tari Larasati, Kurniawan, menyampaikan bahwa tarian ini mengeksplorasi akulturasi kedua budaya tersebut agar Depok memiliki seni pertunjukan berkarakter kuat. Selain difungsikan sebagai seni panggung, Tari Laras Depokyan diproyeksikan masuk ke dalam kurikulum muatan lokal di sekolah dan materi pembinaan di sanggar-sanggar tari setempat. Karya ini bahkan direncanakan menjadi salah satu cabang kompetisi dalam agenda Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya SMP Kota Depok. Lewat strategi kurasi dan dokumentasi digital, tarian monumental ini juga ditargetkan mampu menembus panggung internasional sekaligus memperkaya ragam kebudayaan di kawasan Jabodetabek.
Rangkaian penyusunan tarian ini telah berjalan sejak Maret 2026, diawali dengan konsolidasi perencanaan daring dan sosialisasi kepada MGMP Seni Budaya SMP pada bulan April. Proses perancangan koreografi, penataan busana, hingga sesi latihan intensif rampung digelar pada rentang Juni hingga Agustus 2026. Selanjutnya, tim penyusun dijadwalkan melangsungkan audiensi bersama Lembaga Kebudayaan Depok (LKD) pada September 2026 guna memperoleh pengakuan resmi atas kekhasan tarian ini, sebelum akhirnya dipentaskan secara perdana kepada publik pada Oktober 2026.
Prof. Dinny Devi Triana berharap Tari Laras Depokyan dapat diserap dengan mudah oleh masyarakat luas dan meluas ke berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SMP hingga SMA. Perpaduan harmonis antara karakter Betawi dan Sunda dalam tarian ini diharapkan tak sekadar menjadi kreasi seni baru, tetapi juga mampu memantulkan karakter masyarakat serta mengukuhkan identitas kebudayaan Kota Depok secara berkelanjutan.















