
SIARANDEPOK.COM — Kota Depok resmi ditunjuk sebagai satu dari empat daerah di Indonesia yang menjadi percontohan (pilot project) program Akselerasi Sirkularitas Pengelolaan Sampah Organik Tahun 2026. Program ini mengusung pola pemilahan sampah langsung dari sumbernya guna menekan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Melansir dari berita.depok.go.id, Kota Depok bersanding dengan tiga wilayah lainnya dalam proyek percontohan ini, yakni Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, dan DKI Jakarta. Pemilihan Depok didasari oleh laju pertumbuhan kota serta peningkatan jumlah penduduk yang berbanding lurus dengan tingginya produksi sampah harian.
Asisten Deputi Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Rofi Alhanif, menilai Depok sangat strategis karena lokasinya yang berdekatan dengan ibu kota. Menurutnya, kesiapan warga Depok dalam mengubah pola perilaku menuju pemilahan sampah yang lebih bertanggung jawab menjadi modal penting bagi keberhasilan program ini.
Selain penerapan konsep ekonomi sirkular, Kota Depok juga didorong untuk mengimplementasikan teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Kehadiran PSEL dinilai Rofi sangat efektif dan signifikan dalam memangkas beban timbulan sampah harian yang selama ini memadati tempat pembuangan.
Dalam ekosistem ekonomi sirkular, sampah organik basah dapat diolah kembali menjadi produk berdaya guna seperti pakan maggot, kompos, hingga biochar. Langkah ini tidak hanya mendatangkan nilai ekonomis bagi masyarakat, tetapi juga berdampak positif dalam mendukung ketahanan sektor pangan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Rofi usai menghadiri Workshop Akselerasi Sirkularitas Pengelolaan Sampah Organik Pilot Project 2026 di Hotel Margo Depok, Selasa (06/10/2026). Ia optimistis Kota Depok mampu menjadi percontohan nasional yang sukses dalam mengelola sampah berbasis lingkungan dan ekonomi.














