SiaranDepok.com — Kabar duka datang dari Ngada, NTT, yang menyentak perhatian publik. Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia setelah melakukan tindakan mengakhiri hidup di sebuah pohon cengkih. Tragedi ini menjadi viral setelah ditemukannya sepucuk surat perpisahan menyentuh hati yang ditulis tangan oleh korban dalam bahasa daerah Bajawa.
Dalam surat tersebut, YBR mengungkapkan kekecewaan mendalam kepada ibunya karena permintaannya tidak terpenuhi. Ia sempat menyebut sang ibu “pelit” dan meminta ibunya untuk tidak menangis atau mencarinya setelah ia tiada. Kalimat-kalimat sederhana namun emosional ini menggambarkan beban mental yang dirasakan bocah tersebut sebelum memutuskan mengakhiri hidupnya.
Pemicu utama peristiwa tragis ini diduga kuat karena masalah ekonomi. Malam sebelum kejadian, YBR meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pulpen demi keperluan sekolah. Namun, sang ibu yang harus menghidupi lima anak seorang diri setelah berpisah dari suaminya, terpaksa menolak permintaan tersebut karena kondisi keuangan yang sangat sulit.
Kejadian ini memicu respons cepat dari Pemerintah Pusat. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyatakan keprihatinan mendalam dan menegaskan bahwa kasus ini harus menjadi atensi bersama. Ia menekankan perlunya penguatan data keluarga tidak mampu agar pendampingan serta bantuan sosial dapat tersalurkan dengan lebih tepat sasaran guna mencegah kejadian serupa terulang.
Sementara itu, pihak kepolisian dan pemerintah daerah setempat mengonfirmasi bahwa korban sehari-harinya tinggal bersama neneknya. Pada pagi hari kejadian, YBR yang seharusnya berangkat sekolah justru kembali ke kebun milik neneknya dan ditemukan oleh warga yang sedang mengurus ternak. Lokasi kejadian kini telah ditangani oleh petugas untuk penyelidikan lebih lanjut.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental anak dan kepekaan terhadap kesulitan ekonomi di lingkungan sekitar. Dukungan psikologis bagi keluarga yang ditinggalkan kini menjadi prioritas, sembari pemerintah mengevaluasi sistem perlindungan anak dan bantuan bagi warga yang berada di bawah garis kemiskinan. (Asep)










