Bahasa Ibu: Tersisih di Rumah Sendiri

- Reporter

Rabu, 24 Desember 2025 - 20:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aisyah Runa Latief

Siarandepok.com – Pernah tidak sih kalian sadar, di rumah sekarang kita lebih sering berbicara pakai Bahasa Indonesia daripada bahasa daerah? Padahal orang tua kita jelas masih bisa, kakek nenek juga masih fasih. Tapi entah kenapa, untuk berbicara sehari-hari sepertinya kita lebih milih bahasa yang “aman” aja.

Sebenarnya bahasa ibu bukan hanya soal bahasa pertama yang kita pelajari waktu kecil. Lebih dari itu, bahasa ibu adalah wadah untuk keluarga kita mengungkapnak kasih sayang, kemarahan, candaan, bahkan nasehat. Lewat bahasa itulah semua nilai-nilai dan kenangan keluarga turun temurun tanpa kita sadari. Maka dari itu ketika bahasa ibu mulai jarang dipakai, yang hilang bukan hanya kosakatanya saja, tapi juga kehangatan dan kedekatan emosional yang unik itu sendiri.

Lalu kenapa ini bisa terjadi? Ya karena di masyarakat kita, ada bahasa-bahasa tertentu yang dianggap lebih keren, lebih berpendidikan, lebih menjanjikan masa depan cerah. Bahasa Indonesia jadi pilihan paling aman buat semua situasi, sementara bahasa asing dipandang sebagai tiket menuju pendidikan tinggi dan karier gemilang.

Kalau ditilik dari sudut pandang sosiolinguistik (ilmu yang mempelajari hubungan bahasa dan masyarakat), pilihan bahasa itu tidak pernah netral. Ada hierarki, ada bahasa yang dianggap prestise, ada yang biasa saja, bahkan ada yang dipandang sebelah mata. Waktu bahasa ibu mulai ditinggalkan di rumah sendiri, sebenarnya sedang terjadi pergeseran nilai: bahasa itu sudah tidak dianggap penting lagi untuk kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini makin dikuatkan dengan sistem pendidikan dan ruang publik. Di sekolah, bahasa daerah hanya jadi mata pelajaran pelengkap saja. Dipelajari sebagai teori, bukan digunakan dalam praktik. Jadinya anak-anak tumbuh dengan kemampuan pasif: mengerti kalau diperdengarkan , tapi gugup kalau harus berbicara sendiri. Banyak yang merasa canggung, takut salah grammar, atau khawatir terdengat aneh di telinga orang. Yang lebih ironis lagi, rumah yang seharusnya jadi tempat paling nyaman buat pakai bahasa ibu justru ikut membatasinya. Bahasa daerah Cuma muncul dalam momen-momen tertentu aja. Misalnya saat lagi bercanda berlebihan atau saat emosi lagi meledak-ledak. Selebihnya? Ya pakai bahasa yang dianggap lebih modern dan rapi.

Dampaknya apa? bhasa ibu melemah pelan-pelan, dari generasi ke generasi. Kalau sudah tidak dipakai lagi buat bercerita, menasihati, atau nyampein perasaan, bahasa itu kehilangan fungsi sosialnya. Bahasa ibu hanya menjadi simbol identitas di atas kertas, bukan lagi bahasa yang hidup.

Padahal sebenarnya merawat bahasa ibu itu tidak perlu sempurna. Tidak harus selalu susunannya benar atau baku . Bahasa ibu bisa kok hidup berdampingan dengan bahasa lain tanpa ada yang merasa terancam. Cukup dipakai untuk mengobrol santai, cerita keluarga, atau humor sehari-hari. Itu sudah cukup buat bikin bahasa itu sendiri tetap hidup. Soalnya bahasa itu bertahan bukan karena diajarkan di kelas, tapi karena dibutuhkan dan dipakai dalam kehidupan nyata. Selama bahasa ibu masih diberi tempat di rumah, dia akan tetap jadi bagian dari keseharian kita, bukan Cuma warisan yang dipajang di museum.

Pada akhirnya, bahasa ibu tidak tersingkir karena kalah saing dengan bahasa lain. Dia tersingkir karena kita yang tidak memilih untuk menggunakannya. Dan pilihan bahasa di rumah itu keputusan kecil yang efeknya sangat panjang: apakah kita hanya mau mewariskan kata-kata, atau juga mewariskan cara kita merasa dan menjadi diri sendiri?.

Berita Terkait

Pemkot Depok Targetkan UGK 93 Bidang Tanah Parung Bingung Rampung Desember 2026
143 SPPG di Depok Sudah Kantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi
Pemkot Depok Usulkan 9 Hektare Lahan untuk Pertanian Pangan
DLHK Depok Benahi Fasilitas Alun-alun Barat, Pagar Retak Jadi Perhatian
DLHK Pastikan Kualitas Udara Depok Aman Sepekan Pascapaparan Abu Vulkanik
Penduduk Depok Tembus 2,05 Juta Jiwa, Perekaman KTP-el Capai 99,60 Persen
Chandra Rahmansyah Hadiri Hari Tenun Nasional 2026 di UI, Dorong Pelestarian Budaya
Satpol PP Depok Amankan 1.972 Botol Miras Ilegal

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 13:30 WIB

Pemkot Depok Targetkan UGK 93 Bidang Tanah Parung Bingung Rampung Desember 2026

Rabu, 16 September 2026 - 13:20 WIB

143 SPPG di Depok Sudah Kantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi

Rabu, 16 September 2026 - 13:02 WIB

Pemkot Depok Usulkan 9 Hektare Lahan untuk Pertanian Pangan

Rabu, 16 September 2026 - 13:00 WIB

DLHK Depok Benahi Fasilitas Alun-alun Barat, Pagar Retak Jadi Perhatian

Selasa, 15 September 2026 - 20:37 WIB

DLHK Pastikan Kualitas Udara Depok Aman Sepekan Pascapaparan Abu Vulkanik

Selasa, 15 September 2026 - 20:32 WIB

Chandra Rahmansyah Hadiri Hari Tenun Nasional 2026 di UI, Dorong Pelestarian Budaya

Selasa, 15 September 2026 - 20:30 WIB

Satpol PP Depok Amankan 1.972 Botol Miras Ilegal

Selasa, 15 September 2026 - 20:27 WIB

Bagian dari Pendidikan, Santriwati Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Nobar Film ISTIMEWA di Bogor Trade Mall

Berita Terbaru