Oleh: Nabiilah An-Nasywaa
Pernahkah kamu merasa ketika ingin berbicara dengan seseorang bahwa yang terucap dari mulut tidak sepenuhnya mewakili apa yang ada di dalam pikiran?.
Dalam kehidupan sehari – hari kita sering merasakan hal seperti itu, saat presentasi di depan kelas, wawancara kerja, dan berbicara dengan seseorang kamu bermaksud untuk menyampaikan dengan jelas dan struktur, tetapi kata kata yang diucapkan oleh kamu terdengar gugup dan terbata – bata.
Ternyata hal itu wajar sekali dan tampak seperti hal yang sepele, tetapi dalam perspektif psikolingustik terdapat ilmu yang memperlajari hubungan anatara pikiran dan bahasa.
Ketidaksinkronan antara pikiran dan bahasa menjadi topik yang sangat menarik untuk dibahas.
Permasalahan ini sering muncul pada tahap awal, ketika pikiran sedang menyusun pesan yang ingin disampikam. Ketika kamu merasa, gugup, cemas, marah, atau terlalu bersemangat, pikiran kamu akan menjadi tidak beraturan dan penuh.
Oleh sebab ittu, pesan yang ingin disampaikan belum sepenuhnya sempurna, tetapi sudah terlanjut diucapkan. Inilah yang menyebabkan ucapan kita terdengar tidak jelas, terbata – bata dan berbeda dari apa yang sebenarnya ingin disampaikan.
Dalam kajian psikolinguistik, ketidaksinkronan antara pikiran dan ucapan bukanlah sesuatu yang menunjukkan ketidakjujuran, melainkan hasil dari proses psikolinguistik yang kompleks dimana pikirn, emosi, dan bahasa berinteraksi dalam sebuah ruang kognitif yang sering kali tidak stabil.
Psikolingustik juga menempatkan bahasa sebagai jalan menuju pikiran. Bahasa dipandang sebagai alat untuk memngungkapkan persepsi, pikiran , gagasan, ide dan juga emosi.
Menurut hipoteses Sapir-Whorf mengatakan bahwa struktur bahasa menentukan bagaimana seseorang mempersepsikan tentang dunia.
Ketika seseorang berpikir, otaknya akan mengolah ide – ide melalui jaringan konsep yang cepat dan tidak berurutan. Sementara itu, mengucapkan kata – kata membutuhkan struktur bahasa yang beruturan dan juga teratur.
Oleh karena itu, perbedaan ini menyebabkan beberapa bagian dari pikiran tidak bisa diungkapkan secara utuh dan terbelit – belit. Menurut Willian Levelt, terdapat tahapan proses linguistik manusia yaitu, Pertama konseptualisasi yaitu pembentukkan gagasan apa yang akan disampaikan biasanya pada tahap ini dipengaruhi oleh emosi, situasi sosial, dan pikirannya.
Dalam proses menentukan pesan apa yang ingin disampaikan sering terjadi kegagalan dalam menyusun konsep yang menyebabakan pesan menjadi berantaka bahkan sebelum menjadi sebuah bahasa, akibatnya sering kali ucapan yang keluar tidak sejalan apa yang sebenarnya ingin disampaikan.
Kedua formulasi yaitu proses mengubah gagasan menjadi bentuk bahasa seperti fonologi, memilih kata, dan sintaksis.
Dalam kajian psikolingusitik kesalahan berbahasa seperti salah ucap atau typo dalam pengucapan, atau penggunakaan kata dan struktur yang tidak tepat sering terjadi karena adanya beban kognitif yang sangat tinggi. Ketika sedang mengalami banyak pikiran dan otak kita terbagi pada beberapa hal, otak kita sering kali keliru dalam memilih kata.
Maka sebab itu, penutur sering kali mengatakan sesuatu yang langsung dikoreksi.
Ketiga artikulasi yaitu menyampaikan ucapan, artikulasi juga berperan penting dalam ketidaksinkronan berdasarkan kondisi psikologis seseorang seperti, stress, frustasi dan kecapean.
Walaupun ide atau pesan yang sudah terbentuk rapih dalam pikiran, tetapi terdapat gangguan pada aspek emosionalnya dapat menyebabkan ucapan menjadi terbata – bata dan tidak jelas.
Fenomena ini sering dialami oleh mahasiswa ketika sedang presentasi dikelas. Dari ketiga tahap tersebut, ketidaksinkronan bisa terjadi antara pikiran dan upacan pada salah satu tahapan.
Kesalahan dalam berbicara sangat dipengaruhi oleh tekanan emosional. Semua orang pasti pernah merasakan gugup saat berbicara di depan banyak orang. Dalam keadaan seperti ini, pikiran tau apa yang seharusnya dikatakan, tetapi ketika diucapkan terbata – bata.
Kelelahan dan stress dapat mengganggu penyelarasan antara otak dan organ untuk berbicara. Keterbatasan pada semantik juga dapat menyebabkan ketidaksinkronan. Meskipun pikiran seseorang dapat menghasilkan konsep yang sangat terstruktur, namun bahasa yang tersedia seringkali tidak cukup dan tidak terucap untuk menyampaikan semua sudut pandang tesebut.
Seperti fenomena ketika seseorang sedang presentasi di depan kelas ataupun sedang wawancara kerja, orang akan memilih frasa yang terbata – bata daripada frasa yang tepat dan sesuai dengan apa yang dimaksud, karena dia sedang mengalami sebuah tekanan dalam diri dan pikirannya yang komplek sehingga apa yang dia ucapkan tidak sejalan dengan apa yang dipikirkan.
Fenomena tersebut sangat wajar sekali terjadi di kehidupan sehari – hari, karena pada dasanya kesalahan tersebut tidak menunjukkan bahwa ketidakmampuan seseorang dalam berbicara, melainkan ia sedang menunjukkan adanya proses pembuatan bahasa yang melibatkan banyak sistem yang bekerja secara bersamaan.
Kesalahan dalam pengucapan juga menunjukkan bahwa bahasa dibuat dengan cepat dan kompleks sehingga kesalahan sulit seperti itu sulit dihindari.
Berdasarkan fenomena tersebut, dapat kita pahami bahwa ketidaksinkronan anatara pikiran dan ucapan adalah bagian yang normal dari sebuah proses berpikir dan berbahasa. Pikiran manusia sangatlah rumit dan kompleks untuk diuataran menjadi kata – kata.
Setiap kata hanyalah gambaran dari konsep luas yang ada dalam pikiran seseorang. Kesadaran psikolinguistik dapat membantu kita lebih sabar dalam berkomunikasi, agar kita tidak mudah menilai orang yang salah bicara atau gagal mengekpresikan pesannya dengan kesan yang buruk.
Maka dari itu, adanya ketidaksinkronan antara pikiran dan ucapan dalam komunikasi manusia. Bahasa tidak selalu dapat menyampaikan seluruh isi pikiran seseorang dengan benar. Dengan memahami hal ini, kita dapat menjadi lebih bijak dalam berbicara, lebih sabar dalam mendengar, dan lebih memahami bahwa proses mental yang dilalui oleh stiap orang berbeda – beda dan kompleks di balik setiap ujaran.
Dengan begitu, ketidaksinkronan bukanlah cacat, melainkan bukti bahwasannya manusia adalah makhluk yang memiliki pemikiran yang luas daripada kata kata. Yang terkadang kita lupa, bahwa tidak semua yang kita dipikirkan bisa dituangkan dalam kata kata. Bahasa dan pikiran terlalu sederhana. Bahasa hanyalah bayangan dari sebuah pikiran, sama halnya dengan bayangan ia bisa kabur, menyimpang, atau bahkan hilang arah tergantung pada cahaya yang menyinarinya seperi: emoasi, situasi, dan niat.
Pada akhirnya memang seperti itu, kejujuran manusia tersembunyi dalam keseimbangan antara pikiran dan perkataan, bukan dalam kesempurnaa.










