Urgensi “Chemistry” dalam dunia Kerja/Organisasi

- Reporter

Senin, 21 Agustus 2023 - 13:38

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dr. Muhammad Fahmi, ST, MSi

Penulis Buku Cita-Citaku Jadi Presiden

Ternyata ada penjelasan ilmiahnya tentang frekuensi yang sama dalam membangun hubungan kerja sama. Kalimat itu penulis dapatkan  dari Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Depok N. Lienda Ratna Nurdianny, SH, MHum di sela-sela acara final salah satu lomba dalam rangka memperingati HUT ke 78 Kemerdekaan RI di salah satu Kawasan mal di cibubur. Kepala Bakesbangpol atau BCL (panggilan akrab penulis) langsung memperlihatkan sebuah video di mana seorang pria sedang melakukan pengujian getaran/Gerakan dengan memukul salah satu garpu tala dari dua garpu tala yang berdiri berdampingan. Ketika garpu tala dipukul yang memiliki frekuensi yang berbeda dengan garpu tala di sampingnya maka garpu tala di sampingnya tidak  bergetar. Namun ketika garpu tala yang dipukul sama frekuensinya, maka garpu tala yang disamping ikut bergetar dan benda disampingnya jadi ikut bergerak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pesan dalam video tersebut lanjut BCL, sungguh bermakna dalam jika ditransfer dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam dunia kerja. Istilah frekuansi yang sama  bisa diartikan dengan istilah yang popular yaitu chemistry(perasaan yang saling terhubung). “ Dalam sebuah hubungan kerja selalu di awali dari pengertian, saling memahami dan memiliki perasaan/frekunsi yang sama.  Kita hanya bisa menggerakkan orang yang satu frekuensi dan hanya yang sefrekuensi yang mampu menangkap resonansi untuk selanjutnya jadi getaran atau Gerakan,” urai BCL yang juga pernah menjabat Camat Pancoran Mas dan Kasat Pol PP Depok.

Oleh karenanya menurut BCL, chemistry memang tidak mudah untuk dikonsepsikan secara operasional, karena menyangkut keterpaduan aspek emosional, psikologis, dan fisik yang berlangsung dalam praksis secara bersamaan. “Setidaknya, chemistry hanya bisa disinonimkan dengan perkataan saling berempati, beradaptasi, bersinergi, berkolaborasi, bekerjasama, bergotong royong, kekompakan, keselarasan, berbagi, saling memahami antar orang dalam sebuah sistem untuk mencapai maksud dan tujuan Bersama,” Jelas BCL yang kini dipercaya sebagai Ketua Panitia HUT ke 78 Kemerdekaan RI tingkat Kota Depok tahun 2023.

Istilah Chemistry inilah yang menggelitik penulis. Seingat penulis chemistry itu merupakan kata atau istilah yang banyak bersinggungan dengan ilmu kimia (teringat ketika penulis masih duduk di bangku STM). Dalam perkembangannya, nampaknya istilah chemistry bukan hanya sebuah istilah ilmu kimia. Namun dalam perspektif lain  ternyata chemistry menyangkut hubungan orang per orang, bahkan dalam sekelompok orang pun yang bekerja bersama juga ternyata yang namanya chemistry tidak bisa untuk diabaikan. Dikarenakan sifatnya sangat personal dan ‘penggerak utamanya’ berpusat di jaringan otak (pikiran) setiap manusia itulah sehingga boleh jadi istilah kimia tersebut lantas diadopsi yang kemudian digunakan untuk menyebutnya: chemistry.

Menurut pakar terapi hubungan antar manusia dari Los Angeles, Gary Brown, bahwa chemistry merupakan sebuah reaksi di dalam otak manusia, dan reaksi tersebut menyebabkan ketertarikan yang intens terhadap seseorang, antara orang per orang atau antara seorang dengan beberapa orang tertentu dalam satu ikatan/kesatuan.

Dijelaskan juga, chemistry sebagai sebuah ketertarikan antara molekul-molekul kimia dengan zat lainnya di dalam otak sehingga membentuk suatu reaksi. Ketika dopamin dalam otak manusia aktif, maka saat itulah chemistry terbangun dan dapat dirasakan.

Bila diterjemahkan lebih jauh, chemistry ini merupakan suatu proses simultan yang kompleks. Di dalamnya melibatkan beberapa aspek seperti emosional, psikologis, juga fisik, sehingga untuk memadukan semua aspek tersebut tidaklah gampang, memerlukan multi talenta bagi pelakunya, tidak setiap orang mampu melakukannya.

Tentu saja, membincang persoalan chemistry, memang banyak materi yang bisa dipelajari, beragam literatur mulai ilmu sosial, budaya, ekonomi/bisnis, sosiologi, psikologi bahkan dalam ilmu komunikasi dengan segala varibel penyertanya telah banyak membahas tentang interaksi antar manusia ini. Namun seringkali dalam implementasi di lapangan tidaklah semulus seperti diformulasikan atau dikonsepsikan.

Walaupun hal ini jarang atau tidak pernah dibahas dalam penilaian atau evaluasi, jarang disentuh dalam indikator kinerja setiap aktivitas organisasi, namun aspek yang disebut chemistry kiranya dapat dipertimbangkan.

Bilamana kerja tim bisa berjalan disertai kemampuan chemistry yang dimiliki oleh personal yang terlibat di dalamnya, di sinilah ditemui suatu kelancaran dan kenyamanan (smooth) sehingga pada gilirannya akan membuahkan kepuasan (satisfaction) dalam suatu tim/kelompok kerja.

Bagi mereka yang beraktivitas dan selalu berinteraksi dengan orang lain, utamanya dalam bekerja bersama-sama, dalam sebuah team work, grup, kelompok kerja, maka chemistry bisa menjadikan salah satu ‘”indikator terselubung” yang ikut memperlancar (to smooth) capaian kinerja sesuai tujuan yang diharapkan. Hal ini bisa dianggap penting mengingat tim itu sendiri merupakan sebuah sistem yang terdiri beberapa personal, saling berinteraksi sesuai fungsi dan peran masing-masing, sehingga memerlukan interaksi yang sempurna dan solid guna membuahkan hasil optimal.

Dapat pula dicontohkan, betapa pun setiap institusi sudah memiliki visi, misi, tujuan, sasaran, dan program serta mekanisme kerja yang terpampang secara rinci, namun dalam pelaksanaannya seringkali masih menemui banyak kendala. Bahkan terkesan hanya formalitas belaka, sehingga tak banyak berkontribusi nyata dalam membangun chemistry.

Ketiadaan chemistry akan mengurangi lengkapnya kinerja teamwork dalam mencapai tujuannya. Harus banyak mengeluarkan waktu dan energi untuk membenahi komponen agar semakin memperlancar berlangsungnya sistem yang sedang berjalan. Persoalan yang sering dihadapi dalam sebuah organisasi atau dalam sebuah teamwork,  ternyata untuk membangun chemistry ini tidak cukup dilakukan hanya melalui pendekatan normatif (rapat pembekalan/coaching dan try-out, apalagi hanya berdasarkan literatur).

Bagaimanapun menurut guru besar Manajemen kinerja Prof Wibowo, chemistry ini tidak bisa diabaikan, tidak bisa dianggap sepele. Karena secara langsung atau tidak, ikut memengaruhi kinerja teamwork, untuk mencapai tujuan dan kepuasan (satisfaction) terhadap apa yang diharapkan bersama.

Setidaknya lanjut Prof Wibowo, ini merupakan salah satu seni kepemimpinan, seni berorganisasi, atau seni dalam teamwork untuk menyamakan mindset yang di dalamnya melibatkan sambung nalar, sikap/perilaku, sekaligus sambung rasa (sambung empati, sambung intuisi, sambung motivasi, sambung persepsi dan sejenisnya) antarpersonal yang terlibat dalam suatu sistem.

Ada beberapa penyebab chemistry dalam tim kerja tidak bisa terbangun diantaranya; (1) Baru bertemu atau baru kenal dengan teman satu tim, (2) kurangnya komunikasi dengan rekan yang baru dikenal, (3) belum banyak mengenal karakter rekan satu tim, (4) sudah kenal cukup lama, tapi memiliki karakter yang sulit disatukan, (5) sudah kenal cukup lama, tapi masing-masing memiliki pola pikir dan ego yang sulit untuk diturunkan, bahkan pernah terjadi konflik akibat perbedaan yang sulit untuk diselesaikan dan dipahami oleh masing-masing, atau (6) pernah bekerja dalam satu tim, pernah mencoba memahami karakter teman satu tim, tapi pada akhirnya sulit untuk bisa memahaminya, sehingga lebih senang jika tidak lagi bersama dalam satu tim.

Tim kerja yang tidak ada chemistry di dalamnya biasanya bekerja hanya atas tuntutan dari pimpinan, sama-sama kerja bukan bekerja sama, kerja masing-masing, tanpa saling mengganggu, tidak ada yang berani atau mau memberikan saran, masukan, atau kritik karena dikhawatirkan takut menyebabkan pihak lain tersinggung. Prinsipnya selesaikan saja tugas dan urusan masing-masing tidak perlu ikut campur urusan orang lain.

Membangun chemistry sebenarnya hal yang gampang-gampang susah. Diperlukan “frekuensi” yang sama antar personil yang ada dalam tim tersebut. Diperlukan keinginan untuk sama-sama berbaur dan menyatukan emosi positif antara yang satu dengan yang lainnya. Diperlukan stimulus dan respon yang membuat nyaman bagi semuanya.

Orang yang sudah saling memiliki chemistry cenderung akan saling ketergantungan. Mereka akan merasa kehilangan jika temannya tidak aktif dalam tim atau tidak lagi bersama dalam satu tim. Mereka akan saling mencari dan menanyakan keberadaan masing-masing. Awalnya, mungkin mereka ada dalam satu tim karena pragmatisme atau atas kepentingan pekerjaan saja, tetapi seiring dengan waktu, mereka menemukan kecocokan dan saling mengenal karakter masing-masing.

Kematangan emosi dan kedewasaan karakter juga akan sangat membantu dalam membangun chemistry. Chemistry dalam sebuah tim akan berdampak terhadap soliditas,  keharmonisan dalam tim.  Ketika chemistry terbentuk, maka setiap orang yang ada dalam kelompok akan bekerja dengan penuh semangat, suka cita, senang, saling melengkapi, dan saling menguatkan antara yang satu dengan yang lainnya.

Dampak dari chemistry yang kuat antar anggota tim diantaranya adalah tujuan dari organisasi akan tercapai dengan optimal. Keberhasilan lembaga akan dirasakan sebagai keberhasilan bersama dan dirayakan oleh bersama karena setiap orang dalam tim merasa ikut berkontribusi mencapai tujuan. Oleh karena itu, semua orang yang ada dalam tim harus bisa memiliki komitmen, saling menghormati, dan saling menghargai agar chemistry itu akan terjaga.

<

Berita Terkait

Seminar Online Primago 2024 “Kata Siapa Alumni Pesantren Tidak Bisa Menjadi Dokter?
Kerja Keras Sang Ayah Banting tulang Demi Anak Bisa Kuliah
Seminar Online Primago 2024 “Anak Masuk Pesantren, Perlukah Orang Tua Belajar Bahasa Arab”
Amazing….Pemkab Bandung Borong 13 Penghargaan di peringatan HARGANAS Ke-31 Jawa Barat
Fun Walk With Family tutup Rangkaian Harganas ke-31 Tingkat Jawa Barat
Peringati HARGANAS, BKKBN Jawa Barat Sukses Gelar Anugerah Bangga Kencana dan Penggalangan Komitmen Mitra
Smpit Pesantren Nururrahman Adakan Workshop Penyusunan Perangkat Bahan Ajar Bersama Dr Awalludin & Irma Nurul Fatimah S.T
Awalnya Tak Mau Nyalon Bupati Nganjuk di Pilkada 2024, Gus Ibin Akhirnya dapat Restu Sang Bunda Maju

Berita Terkait

Selasa, 23 Juli 2024 - 16:54

Seminar Online Primago 2024 “Kata Siapa Alumni Pesantren Tidak Bisa Menjadi Dokter?

Selasa, 23 Juli 2024 - 14:41

Kerja Keras Sang Ayah Banting tulang Demi Anak Bisa Kuliah

Senin, 22 Juli 2024 - 20:53

Seminar Online Primago 2024 “Anak Masuk Pesantren, Perlukah Orang Tua Belajar Bahasa Arab”

Senin, 22 Juli 2024 - 20:50

Amazing….Pemkab Bandung Borong 13 Penghargaan di peringatan HARGANAS Ke-31 Jawa Barat

Senin, 22 Juli 2024 - 20:44

Fun Walk With Family tutup Rangkaian Harganas ke-31 Tingkat Jawa Barat

Sabtu, 20 Juli 2024 - 20:01

Smpit Pesantren Nururrahman Adakan Workshop Penyusunan Perangkat Bahan Ajar Bersama Dr Awalludin & Irma Nurul Fatimah S.T

Sabtu, 20 Juli 2024 - 19:46

Awalnya Tak Mau Nyalon Bupati Nganjuk di Pilkada 2024, Gus Ibin Akhirnya dapat Restu Sang Bunda Maju

Sabtu, 20 Juli 2024 - 15:44

Inspirasi Berpolitik dari Sang Guru

Berita Terbaru