oleh

Pendiri Grup Bisnis Triputra yang juga mantan CEO PT Astra International, Tbk., Theodore Permadi Rachmat , menerima penghargaan Paramadina Award 2022.

Siarandepok.com – Pendiri Grup Bisnis Triputra yang juga mantan CEO PT Astra International, Tbk., Theodore Permadi Rachmat yang akrab disapa TP Rachmat, menerima penghargaan Paramadina Award 2022. Rektor Universitas Paramadina, Prof. Dr. Didik J. Rachbini memberikan langsung penghargaan prestisius tersebut disaksikan Senat Guru Besar dalam acara Wisuda Sarjana dan Magister perguruan tinggi itu Sabtu (4/6/22) pagi.

Dalam kesempatan tersebut TP Rachmat menyampaikan sambutannya yang berjudul : “Indonesia Raya, Seribu Tahun Lamanya” yang intinya menyongsong Seratus Tahun Indonesia Raya Merdeka 2045 dengan menyoroti kesiapan kualitas manusianya sebagai faktor penentu dan pembeda.

Sebelumnya di awal sambutannya TP Rachmat memberikan pujian dan penghargaan khusus kepada dua Guru Bangsa, yaitu Buya Prof. Syafii Maarif dan Dr. Nurcholis Madjid yang juga pendiri Universitas Paramadina.

Katanya, terlepas dari faktor keunggulan alam, jumlah penduduknya yang banyak, serta letak geografisnya yang strategis, ada satu aspek yang penting dan strategis, yaitu faktor manusianya. Lebih tepat kualitas manusianya.

“Nah, kualitas manusia inilah yang menjadi penentu dan pembeda bagi kemajuan, kesejahteraan, kebesaran dan kemuliaan sebuah bangsa,” ungkap TP Rachmat.

“Kita dapat menyaksikan banyak bangsa yang populasinya sedikit, tidak memiliki sumberdaya alam yang melimpah, tidak memiliki posisi geografis yang menguntungkan, tapi bangsa-bangsa tersebut memberikan dampak besar bagi dunia melalui beragam karyanya,” sambung Teddy, demikian panggilan akrab sejawatnya.

“Aspek kualitas manusia ini sering dibicarakan dan didiskusikan, tapi perwujudannya seringkali disisihkan. Dikalahkan oleh aspek-aspek lain yang lebih mendesak,” tuturnya.

Fokus kepada kualitas manusia, sudah menjadi komitmen awal TP Rachmat. Paling tidak semenjak dirinya menjabat Presiden Direktur PT Astra International pada tahun 1984 setelah sukses membesarkan Divisi Alat Berat Astra menjadi PT United Tractors.

Dia selalu memperhatikan pengembangan Sumber Daya Manusia atau sekarang dikenal dengan istilah Human Capital. Karena itu pula Astra mendirikan Astra Management Development Institute yang disingkat AMDI, termasuk program pelatihan berjenjang bagi para karyawannya.

Dimulai dengan ABTP atau Astra Basic Management Program, lanjut ke AMMP atau Astra Midle Management, AGMP atau Astra General Management Program, serta AEP alias Astra Executive Management.

Tentu saja bukan TP Rachmat bila tidak berkontribusi secara serius dan berkelanjutan pada bantuan pendidikan umumnya dan beasiswa pada khususnya. Karena itu baik Astra Group maupun Triputra Group dalam program CSR atau Corporate Social Responsibility-nya lebih fokus kepada dunia pendidikan.

Sebab, demikian kata Teddy, pendidikan itu adalah jembatan emas bagi kehidupan yang lebih baik dalam perjalanan hidup seorang manusia, terutama pendidikan tinggi. Setiap entitas perusahaan di Astra agar menyediakan beasiswa bagi komunitas sekitarnya sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat.

Di Triputra Group bantuan pendidikan beasiswa dilaksanakan di bawah bendera Yayasan A & A Rachmat. Setahun mencapai 2000 mahasiswa dengan nilai Rp 10 juta per mahasiswa per tahun. Jumlah tersebut akan terus ditingkatkan dari waktu ke waktu.

TP Rachmat merasa bersyukur karena pemerintah terus berupaya melakukan reformasi pendidikan secara intensif, merombak birokrasi, membangun kurikulum yang lebih utuh dan menyeluruh, serta menempatkan talenta-talenta hebat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Pihaknya berharap seluruh upaya itu dijalankan secara konsisten, tidak putus di tengah jalan. Sebab pendidikan itu butuh konsistensi. Karena pendidikan itu perlu waktu untuk berbuah. TP Rachmat mengingatkan kita semua memiliki harapan yang sama, yaitu kita semua ingin hidup di Indonesia yang lebih sejahtera, lebih beradab, lebih mulia, lebih langgeng.

“Kita semua menginginkan Indonesia yang Raya, yang eksis “Kita semua menginginkan Indonesia yang Raya, yang eksis sampai seribu tahun. Saya mengajak kita semua terlibat aktif dan berperan aktif menciptakan Indonesia yang Raya, melalui berbagai profesi kita, termasuk membangun pendidikan yang utuh dan menyeluruh,” kata alumni ITB dan penerima Gelar Doktor Honoris Causa dari ITB tersebut.**

Editor : Dindin Machfudz

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru