oleh

Milir (Bagian 3)

Oleh: Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Kembali ke sekitar tahun 1993. Sesampai saya di Pasar Kaget Manggarai, saya mendapati di salah satu masjid suara orang bergemuruh takbiran. Sontak seisi hati saya terasa ambrol mendengarnya.

Ketika saya berangkat, orang-orang Depok masih puasa hari terakhir (ibu saya menyebutnya hari pengabisan). Tidak disangka kawasan Manggarai, Tebet dan sekitarnya sudah lebaran duluan.

Yang menjadi pikiran saya itu adalah kulit ketupat yang saya bawa dari Depok: apa ada yang membeli kalau orang-orang sudah lebaran? Saat itu, saya shalat Subuh di tempat sumber suara takbiran.

Tujuan saya adalah untuk memastikan keadaan mereka. Ternyata saya dengar bahwa mereka belum sepenuhnya siap lebaran hari itu. Terbukti usai shalat Subuh kulit ketupat saya laris-manis.

Hati berbahagia namun diliputi juga rasa sedih sebab suara orang takbiran makin santer dan tidak putus-putus. Saya berpikir, apa di Parung Bingung juga sudah lebaran? Tidak. Saya menenangkan diri.

Saya yakin kalau di Parung Bingung hari ini adalah “arian motong kebo” jadi belum lebaran. Berbeda dengan di Sawangan “arian motong kebo” pada H-2, di Parung Bingung “arian motong kebo” pada H-1.

Tidak menunggu sore, seusai Dzuhur kulit ketupat yang saya jajakan ludes. Saya mengantongi uang sekitar 20an ribu. Saya berencana mau beli dua stel celana panjang di Pasar Lama di Depok.

Dengan senyum menyembul di bibir, saya menuju stasiun Manggarai. Suasana di sana tidak ada suasana puasa. Karena memang sudah lebaran. Saya akhirnya memutuskan untuk berbuka juga. Haha

Alasan saya tentu bukan karena tidak tahan. Tapi lebih karena tuntunan syariat yang menghendaki seseorang untuk berbuka manakala mendapati masyarakat di tempat itu sudah tidak berpuasa.

Di stasiun Manggarai saya membeli minuman dan kudapan sekadar untuk membatalkan puasa. Hati riang dan ringan menyelimuti sekujur badan. Kendati saya yakin, orang Parung Bingung masih puasa.

Sesampai di rumah saya memperlihatkan dua stel celana panjang dengan harga 15 ribu kepada ibu saya dan adik-adik saya. Sambil berbisik saya bilang kalau saya sudah tidak puasa. Inilah milir yang berwarna.

(Sumber Photo : Republika)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru