oleh

Seri Asmaul Husna : Al- Bashir (Yang Maha Melihat)

-Agama, Pendidikan-2.863 views

 

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA
Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Indonesia Kota Depok

 

Cinta, kata Erich Fromm, adalah tindakan yang aktif, bukan perasaan yang pasif. Sifat cinta itu memberi bukan menerima. Ia lahir dari sebuah keputusan yang bersendikan akal bukan khayal.

Karena itu, sebagai bukti takhalluq atau meneladani akhlak Allah yang al-Bashir, bisa dilakukan dengan memberikan sesuatu yang paling dicintai kepada sesama. Bukan hanya melihat mereka yang tertimpa musibah dan nestafa. Tetapi kita harus bersadar diri bahwa Sang Maha Melihat kerap memonitor: tindakan filantropi apa yang kita lakukan setelah melihat realita yang perih tak berperi.

Keyakinan bahwa Allah hadir dan melihat secara profan seperti inilah yang oleh filosof Jerman Max Scheler dikatakan menjadi dasar perilaku ruhaniah. Diawali dari melihat secara inderawi, lalu direspon secara rasional, kemudian mengendap menjadi cinta dan tindakan nyata.

Jadi, sifat Allah sebagai al-Bashir itu sejatinya harus melekat dalam diri manusia. Sebab Allah selain Theos Agnostos (yang tak terjangkau, the untouchable) juga Theos Relevatus, yakni Ia hadir dengan sifat-sifatnya dalam diri manusia. Al-Bashir bukan hanya diutak-atik dalam jumlah dan dunia angka. Tidak hanya menjadi wirid. Sebab Tuhan “tidak hanya menggantung di langit”, tetapi itu tadi, Theos Relevatus: berakar dengan kokoh di bumi.

Dalam konteks seperti ini, semangat teladan al-Bashir sedianya menjadi kritik dan koreksi terhadap model keberagamaan kita selama ini. Hendaknya semarak kehidupan spiritual-keagamaan yang menghentak dan diperagakan secara massif di muka publik, sebanding dengan solidaritas pada ranah kehidupan sosial-kemanusiaan.

Berbakti kepada al-Bashir tidak semata ditandai oleh kian banyaknya orang berhaji, tumbuhnya pendidikan Islam, meriahnya dakwah, menjamurnya tempat ibadah, ramainya perayaan keagamaan di istana negara, atau kian banyaknya artis dan selebritis yang beraksen keagamaan.

Namun semua ritual dalam Islam meliputi gerak fisik, batin dan karya nyata yang fungsional untuk menyelesaikan problem kemanusiaan, sosial, dan ekonomi. Inilah tujuan Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Termasuk, pernyataan Allah dalam sebuah hadits qudsi: “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku rindu untuk diketahui. Aku menciptakan makhluk supaya mereka mengenal-Ku”.

Dus, semakin kita kenali Allah, maka kian mampu menatap yang tampak dan sesuatu yang ada di balik yang tampak. Musibah dan segala cerita sedih bangsa ini tidak hanya dilihat secara sosiologis, akibat human error, atau lemahnya sistem komunikasi, tetapi dilihat dari kaca mata spiritual. Inilah mengapa Allah rindu untuk dikenal. Dia ingin agar kita melihat dengan mata dan mata hati sekaligus. Yang terakhir inilah yang disebut dengan bashirah.

Sebenarnya, dalam al-Qur’an, Allah kerap memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Maha Melihat. Banyak sekali ayat yang bertabur dengan hal itu. Tujuannya tentu untuk menjadi teladan bagi manusia dan kebahagiaan semua makhluk di alam mayapada.

Misalnya, “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-An’am/6: 103). “Apakah dia tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihatnya?” (QS. al-‘Alaq/96: 14). Dalam ayat lain, Allah katakan: “Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. al-Baqarah/2: 233). Pun makna ayat, “Kepunyaan-Nya lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya, dan alangkah tajam pendengaran-Nya” (QS. al-Kahfi/18: 26).

Sungguh, betapa indahnya bila kita, semua anak bangsa, ramai-ramai ber-tahalluq dengan al-Bashir. Sebagai pemimpin, kita tidak melihat perbedaan partai, golongan, aliran, dan aneka kepentingan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Mereka yang selama masa pemilu menjadi pendukung sama sekali tidak mendapat keistimewaan dengan yang berhaluan beda. Pembantu-pembantu dan pelaksana kebijakan yang diangkat adalah mereka yang benar-benar ahli, mengerti, dan mempunyai penglihatan yang terang. Ketika memimpin, kita tidak pernah merasa harus melulu dielu-elu secara meriah dan megah, memperbanyak staf khusus untuk hal-hal yang sebenarnya bisa dikerjakan sendiri. Seperti staf khusus pemegang kaca mata, teks pidato, dan pena yang sebenarnya mudah dibawa.

Pemimpin yang terbuka mata hatinya adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya dan sebaliknya. Pesan Nabi saw.: “Pemimpin terbaik bagi kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka. Pemimpin terburuk bagi kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka membenci kalian” (HR. Muslim).

Seperti apakah karakteristik pemimpin yang memiliki bashirah itu? Pertama, ketika menghadapi krisis multidimensi, ia tidak membebankan semua kesulitan dan segala resikonya kepada rakyat. Dengan ketajaman penglihatannya, ia berusaha untuk mengumpulkan semua potensi dan sumber daya yang ada untuk didayagunakan.

Misalnya, kelaparan, wabah penyakit, gagal panen, bencana alam, dan kebodohan tidak bakal terjadi bila semua anak negeri pandai berbagi. Karena itu, ia melihat kelaparan terjadi karena ada rakyat yang kenyang sendiri, penyakit kian berjangkit karena lemahnya sosialisasi hidup sehat dan sarana kesehatan yang tidak memadai. Keterpurukan terjadi lebih sebagai cermin pemerintahannya sendiri.

Kedua, ia selalu menjalin komunikasi yang harmonis kepada rakyatnya. Berteladan Allah, ia merupakan persona yang tidak bisa dilihat dan terjangkau oleh rakyatnya ketika melaksanakan keadilan. Tak ada lobi. Rakyatnya tidak bisa mempengaruhinya. Keputusannya “mutlak”, tak terbantah. Di sisi lain ia merupakan pribadi yang bersahaja, mudah menerima nasihat, selalu ada bersama-sama rakyat jelata, dan menyelami benar apa yang diinginkan dan dirasakan rakyatnya.

Termasuk, kepada rakyatnya, ia selalu memberikan keyakinan bahwa perubahan adalah keniscayaan dan pertolongan Tuhan sudah dekat. Seperti firman Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun yang ketakutan kepada Fir’aun, ia kutip kalam Tuhan: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua. Aku mendengar dan melihat” (QS. Thaha/20: 46).

Mari kita perkuat keyakinan bahwa Allah secara utuh melihat kita. Ia tak akan menelantarkan kita, sebesar apapun masalah kita. Ia melihat yang tak mampu kita lihat. Penglihatan Allah tak terhalang apapun. Pun tak tergantung apapun: gelap-terang, besar-kecil, dan jauh-dekat. Ia tak hanya melihat saat ini, atau yang lalu, masa depan yang tak terbatas pun bisa dilihat tanpa kiriman cahaya dari obyek yang dilihat. Jadi, apakah lagi yang kita khawatirkan untuk duduk merapat, mendekat kepada-Nya?

Allah peryakin kita, “Bertakwalah kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, yang melihat kamu ketika berdiri dan melihat juga perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. al-Syu’ara/26: 217-220).

Mari kita “pinjam” penglihatan Allah untuk mengeksplorasi minyak bumi yang katanya kian menipis. Bisa jadi sebenarnya masih banyak. Kita saja yang belum mampu melihat. Kalau ternyata masih banyak, tentu tidak ada bangsa adidaya yang menyerang sebuah negeri gemah ripah dengan dalih teroris. Konflik yang destruktif dapat diperkecil, karena masing-masing pihak tidak bersaing memperebutkan sumber daya alam yang terbatas ini. Begitu juga, bila saja ahli minyak kita mampu menembus dinding perut bumi dan mengetahui bahwa sebenarnya cadangan minyak kita masih banyak, maka keputusan kontroversial menaikkan bahan bakar minyak yang menimbulkan kemiskinan, konflik, maupun korban jiwa mungkin tidak terjadi.

Saatnya kita mengambil arah yang tepat untuk mengemudikan diri dan masa depan bangsa ini. Kita tidak hanya butuh pemimpin yang mengerti bahasa angin untuk menakhodai perahu negeri, tapi kita juga butuh rakyat dan masyarakat yang memiliki kecerdasan spiritual, beramal nyata, dan bisa bertahan dalam setiap kondisi.

Kita ambil ibrah sebuah hadits riwayat Bukhari bersumber dari Abu Musa, “Kami pernah bersama Rasulullah saw dalam sebuah perjalanan. Bila jalannya naik, kami bertakbir. Kata Rasulullah saw, ‘Berhentilah (mengeluh dengan berteriak-teriak). Sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada yang tuli dan buta, tetapi kepada Yang Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Dekat”.

Mudah-mudahan kita bisa melihat rahasia di balik yang kita lihat. Segala macam susah, gundah, derita, musibah, tidak kita lihat saat ini, tetapi apa yang melatarbelakanginya kemarin. Kita harus menatap hari esok dengan memperbaiki keadaan, mengambil pelajaran, dan siap menjadi teladan. Masa depan laksana pedang, kalau kita tak gunakan untuk menggores kebaikan, kita yang akan digoresnya. Kita tentu tak ingin tersayat, memerah, dan berdarah.*

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru