
SIARANDEPOK.COM — Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, menegaskan bahwa masifnya perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) serta eksploitasi lingkungan menuntut kehadiran inovasi baru untuk mengamankan ketersediaan air bersih. Seruan tersebut disampaikan berdasarkan siaran resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup (kemenlh.go.id) saat beliau berbicara di ajang “Seminar Guru: Water Innovation Festival” yang berlangsung di Universitas Indonesia, Sabtu (7/11/2026).
Dalam forum akademik tersebut, Wamen Diaz menyoroti bahwa persoalan tata kelola air kini kian rumit akibat tekanan ekologis serta lonjakan konsumsi energi dan air dari perangkat teknologi digital. Perguruan tinggi dinilai memegang peran krusial dalam melahirkan riset aplikatif demi mengatasi ancaman krisis air yang semakin nyata di tengah masyarakat.
Menyoroti dampak teknologi modern terhadap lingkungan, beliau memaparkan bahwa operasional pusat data (data center) dan pelatihan model AI memerlukan sistem pendinginan masif yang menyedot sumber daya air serta listrik dalam jumlah besar. “Apa masalahnya dengan AI? data center-nya, mungkin tidak seberapa kalau satu query tapi sebenernya bisa mencapai miliaran per hari dari satu model saja, dan setiap entry membutuhkan air, apalagi kalau AI nya lagi belajar atau training, pasti membutuhkan air dan listrik yang banyak sekali,” ungkap Wamen Diaz.
Selain menyoroti ancaman teknologi, Wamen Diaz juga membeberkan kondisi empiris terkait krisis air di tingkat tapak yang diperparah oleh kerusakan ekosistem dan eksploitasi berlebihan. “Manusia butuh air tapi sumber air sedikit dan kita juga merusak danau dan sungai, air tanah kita eksploitasi berlebihan, lalu kita pakai AI yang akan menghabiskan air, jadi memang kita butuh solusi seperti yang dihasilkan di kampus ini, solusi bagaimana cara konservasi air,” tegasnya merujuk pada karya inovasi sivitas akademika.
Sebagai langkah mitigasi ekologis yang konkret, pemerintah berkomitmen memperkuat pemulihan cadangan air nasional lewat restorasi lahan gambut. Praktik pengeringan lahan gambut melalui pembuatan kanal untuk alih fungsi lahan dinilai harus dihentikan demi memulihkan fungsi hidrologis dan cadangan air tanah. “Sekarang lagi banyak dibahas terkait karhutla di lahan gambut yang sebenernya bisa menampung air, tapi yang kita lakukan pada gambut adalah buat kanal, biar air nya keluar dan nanti bisa ditanam sawit, jadi kita harus hentikan ini dan kita buatkan sekat kanal supaya mengembalikan air lagi ke gambut,” papar Wamen Diaz.
Acara strategis yang turut dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup periode 1978–1993, Prof. H. Emil Salim, ini menggarisbawahi urgensi kolaborasi lintas sektor. Kementerian Lingkungan Hidup menekankan bahwa sinergi erat antara pemerintah, institusi pendidikan, dan publik menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian lingkungan serta keberlanjutan pasokan air demi masa depan Indonesia.















