Ngerahul 6

- Reporter

Selasa, 7 Mei 2024 - 09:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

DOKOH

Oleh: Syamsul Yakin

Ketua Umum Ikatan Cedekiawan Betawi (ICB)

Dokoh itu bukan doyan. Tapi lebih dari doyan. Dokoh termasuk kategori yang getem terhadap makanan. Dokoh tidak bisa disamakan dengan kemaruk. Sebab kemaruk diawali dengan satu peristiwa sebelumnya. Orang bangun sakit lalu getem sekali makannya, itulah yang disebut kemaruk. Persis seperti ayam yang baru turun dari petarangan, mengerami telurnya hingga menetas jadi pitik lalu makan. Anda pernah kemaruk?

Jadi dokoh lebih dekat maknanya dengan getem ketimbang kemaruk. Persamaannya, baik dokoh, getem, dan kemaruk bukan saja terhadap makanan, tapi juga terhadap harta, tahta, dan wanita. Orang yang doyan banget kepada semua itu, dapat dikatakan dia dokoh, getem, dan kemaruk. Orang yang kemaruk kekuasaan, bisa jadi dulunya tidak pernah punya kesempatan untuk duduk jadi pejabat, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

Dokoh dikatakan bukan hanya doyan. Alasannya, kalau doyan masih normal. Misalnya doyan terhadap makanan. Orang yang doyan terhadap sesuatu umumnya masih suka berbagi. Sementara dokoh itu selain doyan, juga koret dan serakah. Koret itu sifat tidak ingin memberi. Kalau serakah lebih dari pelit, sebab apa saja yang ada pada orang lain, ingin dikuasainya atau diambilnya untuk dimiliki. Dokoh itu suka nyubit tapi tidak mau dicubit.

Dokoh itu juga bisa dibayangkan dengan seseorang yang rakus, paling dulu di anterian makan. Usai makan, matanya melirik makanan lain yang bisa dijambaknya. Orang yang dokoh dapat digambarkan seperti monyet: di mulutnya masih ngapluk-ngapluk penuh makanan, sementara di tangan kanan dan kirinya digenggam erat berbagai macam minuman dan buah-buahan. Namun orang yang dokoh tidak bisa dibayangkan awaknya gembrot. Orang kecil dan tipis bisa jadi dokoh.

Orang yang dokoh ketika makan terburu-buru. Makannya menggunakan lima jari sekaligus. Sementara tangan kirinya memegangi kerupuk, gorengan, atau cabe rawit. Orang yang dokoh dapat dipastikan tidak memapak makanannya hingga 30 kali papakan, seperti dilakukan oleh seorang sastrawan Motinggo Boesje. Selanjutnya, dokoh bukanlah gembul. Lebih dari gembul. Bekas orang dokoh makan seperti bekas tentara perang, berantakan.*

Berita Terkait

Imbas Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Pemkot Depok Terapkan PJJ Dua Hari
Selama Dua Hari Kebijakan Sekolah Daring Diberlakukan untuk Siswa di Depok
Menyala! SDI Ramah Anak Raih Juara Dua Futsal Raden Patah Kreasi 2026
Dampak Erupsi Anak Krakatau, Polres Metro Depok Bagikan 1000 Masker
80 Persen Pengurus PPP Depok Periode 2026-2031 Didominasi Gen Z
Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Capai Depok, Berikut Langkah Pemkot Depok Tangani Ini.
Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Abu Vulkanik Mulai Guyur Wilayah Depok
Pemkot Depok Perkuat Ekosistem Toleransi hingga Tingkat RW

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 22:17 WIB

Imbas Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Pemkot Depok Terapkan PJJ Dua Hari

Minggu, 6 September 2026 - 20:45 WIB

Selama Dua Hari Kebijakan Sekolah Daring Diberlakukan untuk Siswa di Depok

Minggu, 6 September 2026 - 20:15 WIB

Menyala! SDI Ramah Anak Raih Juara Dua Futsal Raden Patah Kreasi 2026

Minggu, 6 September 2026 - 18:45 WIB

Dampak Erupsi Anak Krakatau, Polres Metro Depok Bagikan 1000 Masker

Minggu, 6 September 2026 - 17:54 WIB

80 Persen Pengurus PPP Depok Periode 2026-2031 Didominasi Gen Z

Minggu, 6 September 2026 - 17:34 WIB

Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Abu Vulkanik Mulai Guyur Wilayah Depok

Minggu, 6 September 2026 - 17:33 WIB

Pemkot Depok Perkuat Ekosistem Toleransi hingga Tingkat RW

Sabtu, 5 September 2026 - 18:50 WIB

Peluang Baru Industri Kreatif: Depok dan Banten Jajaki Kolaborasi Kerajinan Lokal

Berita Terbaru