Telemedicine Atasi Panik Akibat Varian Baru Omicron

- Reporter

Rabu, 9 Februari 2022 - 10:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siarandepok.com- Depok, 8 Februari 2022. Banyak pakar memprediksikan bahwa Indonesia sudah mulai memasuki gelombang ketiga Covid-19. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan jumlah kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir. Peningkatan kasus ini didorong oleh penyebaran cepat varian baru virus corona, yaitu omicron.

Dengan kasus positif Covid-19 yang terus meningkat, tentunya akan menimbulkan rasa cemas dan panik pada masyarakat. Hal ini merupakan masalah serius yang harus segera diidentifikasi dan ditangani. Diperlukan edukasi kepada masyarakat untuk mengatur gejala panik sehingga dapat terkendali dan meminimalisasi panik yang berlebihan. Oleh sebab itu, Divisi Psikosomatik dan Paliatif Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia–Rumah sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) menyelenggarakan Simposium Awam bertajuk “Manajemen Panik Akibat Covid-19 Varian Omicron dengan Telemedicine” pada, Jumat (04/02).

Panik dan rasa cemas berpotensi menimbulkan gangguan psikosomatik. Gangguan psikosomatik merupakan keluhan fisik (somatik) yang timbul atau dipengaruhi oleh pikiran atau emosi (psikis). Gangguan psikosomatik terbagi dua, yaitu psikis dan somatik. Gangguan psikis meliputi gangguan cemas (ansietas), depresi, gangguan tidur, dan fatigue (lelah) akut maupun kronik. Gangguan psikis akan merasakan keluhan seperti sakit kepala, pusing, jantung berdebar-debar. Lebih lanjut, gangguan ini dapat memicu kambuhnya penyakit somatik seperti maag, hipertensi, serangan jantung, dan stroke. Bahkan, jika stres terjadi terus menerus dapat berujung pada kematian.

dr. Hamzah Shatri, SpPD, K-Psi, M.Epid selaku dokter dari divisi psikosomatik dan paliatif FKUI-RSCM menuturkan bahwa pandemi Covid-19 varian omicron berhubungan dengan peningkatan terjadinya gangguan psikosomatik. Gangguan ini dapat terjadi pada mereka yang terinfeksi virus maupun yang tidak. Rasa khawatir akan tertular, khawatir mengenai stigma, pengalaman pandemi, isolasi sosial merupakan beberapa faktor yang dapat menimbulkan gangguan psikosomatik saat pandemi.

Pengabaian masalah psikosomatik akibat pandemi dapat memperparah kondisi tubuh. Oleh karenanya, gangguan ini perlu segera ditangani. Terdapat beberapa opsi terapi non farmakologi pada gangguan psikosomatik, diantaranya adalah psikoterapi suportif seperti perawatan diri, terapi relaksasi, cognitive behaviour therapy, dan olahraga.

“Masalah psikis bukanlah masalah kecil. Diperlukan dukungan psikologis dan sosial baik untuk masyarakat, keluarga, maupun individu,” ujar dr. Hamzah. Dalam penanganan, diperlukan kerja sama yang baik antara pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan untuk hasil yang maksimal. Ia menambahkan bahwa simposium ini merupakan salah satu bentuk dukungan FKUI-RSCM kepada masyarakat dalam bentuk edukasi.

Salah satu upaya untuk menangani rasa cemas adalah mengenal sumber kecemasan. Pada gelombang ketiga Covid-19, salah satu faktor pendorong kecemasan adalah penyebaran varian virus omicron yang sangat cepat melebihi varian delta pada gelombang sebelumnya. Dengan demikian, staf divisi dari Penyakit Tropik dan Infeksi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, dr. Robert Sinto, Sp.PD, KPTI., mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan vaksinasi. Vaksin memang tidak sepenuhnya mencegah terinfeksi, tetapi vaksin dapat mencegah terjadinya penyakit berat.

Sementara itu, dr. Robert juga mengimbau agar masyarakat melakukan klasifikasi diri dan gejala. Klasifikasi ini didasari oleh gejala Covid-19. Tidak semua gejala harus dilarikan ke rumah sakit. Jika masyarakat teridentifikasi positif tanpa gejala sebaiknya melakukan isolasi mandiri di rumah selama 10 hari. Orang dengan gejala sedang dapat melakukan isolasi di rumah sakit, sedangkan orang dengan gejala ringan dapat isolasi mandiri di rumah selama 10 hari ditambah 3 hari tanpa gejala. Hal ini dilakukan mengingat kapasitas rumah sakit yang terbatas. Masyarakat juga dapat berkonsultasi dengan dokter melalui telemedicine seperti website Kemenkes atau fasilitas lainnya. Dari konsultasi ini masyarakat dapat menentukan klasifikasi dirinya.

Untuk dapat melakukan hal sebagaimana imbauan dr. Robert, masyarakat harus tetap tenang dan tidak panik, dr. Rudi Putranto, SpPD, K-Psi, MPH dari Divisi Psikosomatik dan Paliatif Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM memberi masukan untuk mengatur cemas-panik tanpa obat-obatan. “Banyak hal yang dapat dilakukan secara mandiri. Pertama, membatasi membaca berita melalui handphone. Misalnya pagi dan sore membuka handphone, tidak terus menerus serta tidak terlibat pada kekhawatiran berlebihan,” ujar dr. Rudi.

Kedua, fokus pada peluang saat ini dan menjadi produktif. Dengan ini, kita akan terdistraksi dari pikiran negatif. Ketiga, tidak bereaksi berlebihan terhadap gejala fisik. Selanjutnya, berbaik hatilah kepada diri sendiri dan orang lain. Jika tips ini tidak berhasil, maka cari bantuan profesional.

Berita Terkait

Dies Natalis ke-18 Tahun, Polimedia Siapkan Talenta Kreatif yang Unggul, Berdaya Saing, dan Berdampak
Tak Berizin, 43 Bangli di Jalan Raya Bogor Cimanggis Ratakan Tanah oleh Satpol PP Depok
Pendidikan Kaderisasi OSIS Sekolah, SMP Sumbangsih Adakah Kegiatan LDKS bersama Dirgantara Outbond Training (DOT) Tahun Ajaran 2026-2027
SMP Insan Kamil Cikarang Gelar Parenting Bagi Orang Tentang “Membaca Hasil Potensi Anak Melalui Test PRIMAGEN” Bersama Dr Awaluddin Faj, M.Pd
Video Dugaan Aktivitas Sabu di Rutan Depok Ramai di Medsos, Netizen Heboh
TPS Liar di Sukatani Depok Dikeluhkan Warga, Tumpukan Sampah di Jalan Kapitan 3 Tak Kunjung Teratasi
Kembangkan Bakat & Kuatkan Karakter, Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Kembangkan 12 Ekstrakuriluler Bagi Santri dan Santriwati
Dr. Awaluddin Faj, M.Pd Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor yang menjadi Konsultan Sekolah di Indonesia

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:10 WIB

Pelebaran Simpang Parung Bingung Segera Dimulai, Pemkot Depok Minta Dukungan Warga

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:05 WIB

Mau Kacamata Gratis dari Program CIMORI? Simak Caranya!

Kamis, 8 Oktober 2026 - 16:59 WIB

Prefektur Hokkaido Buka Peluang Kerja Luas untuk Warga Depok, Janjikan Pendampingan dan Layanan Bahasa Indonesia

Kamis, 8 Oktober 2026 - 16:54 WIB

Depok Gaet Hokkaido Buka Peluang Kerja ke Jepang

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:45 WIB

Tingkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika, SMAN 4 Depok Gelar Pelatihan Metode GASING untuk Guru SD hingga SMA

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:19 WIB

Pemkot Depok Uji Coba Pengalihan Akses Masuk Kendaraan ke Balai Kota

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:15 WIB

Kelurahan Cilangkap Hadirkan Layanan CIMORI, Dekatkan Akses Rontgen Paru Hingga Tes IVA Gratis Bagi Warga

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:57 WIB

Cimanggis Night Festival: Wadah Promosi UMKM Sekaligus Hiburan Warga Depok

Berita Terbaru

Warga Cilangkap sedang melakukan pemeriksaan kesehatan mata di Aula Kelurahan Cilangkap beberapa waktu lalu. (Sumber foto: Diskominfo Depok)

Berita Depok

Mau Kacamata Gratis dari Program CIMORI? Simak Caranya!

Kamis, 8 Okt 2026 - 17:05 WIB

Momen pertemuan Wali Kota Depok Supian Suri (kiri) bersama Direktur Kebijakan Tenaga Kerja Asing Pemerintah Prefektur Hokkaido, Eiji Yamamoto, di LPK Koba Mirai Japan pada Kamis (8/10/2026). (Foto: Diskominfo Depok).

Berita Depok

Depok Gaet Hokkaido Buka Peluang Kerja ke Jepang

Kamis, 8 Okt 2026 - 16:54 WIB