
SIARANDEPOK.COM – Taman Merdeka Sukmajaya menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia dengan mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, Gian Tanjung Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kecamatan Sukmajaya, sukses menggagas dan menyelenggarakan Festival Pembauran Kecamatan Sukmajaya.
Mengusung nama tema “Merajut Keberagaman, Memperkuat Persatuan di Bumi Sukmajaya”, kegiatan ini digelar sebagai wujud implementasi nyata amanat Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 34 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pembauran Kebangsaan di Daerah.
Festival yang meriah ini tidak hanya menjadi ajang perayaan kebangsaan, tetapi juga menjadi momentum strategis melalui sesi toponimi Kampung Cikumpa. Giat ini difokuskan untuk menjaga jati diri Kota Depok agar nama besar Kampung Cikumpa tidak hilang tergerus perubahan zaman.
Perhatian khusus disoroti pada hilangnya salah satu ikon penting wilayah tersebut, yakni Setu Baru Cikumpa yang tiba-tiba berganti nama menjadi Situ Sidomukti. Perubahan sepihak ini dinilai mengaburkan sejarah autentik bagi generasi masa depan Kota Depok.
Suara tokoh lokal mengembalikan sejarah yang Kabur atau hilang, Baba Lamin selaku tokoh kampung Cikumpa sekaligus narasumber di kegiatan FPK yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Kood Kota Depok, menyampaikan kritik tajam dan sekaligus harapan besar mewakili warga Sukmajaya terkait perubahan nama tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa nama yang ada di Setu Baru Cikumpa Sukmajaya kini sudah melekat jauh sebelum dirinya lahir, sehingga pergantian nama Situ Sidomukti kini telah berubah nama lain tanpa melibatkan tokoh adat kampung sehingga warga setempat merupakan hal yang mencederai sejarah lokal.
”Nama Setu Baru Cikumpa Sukmajaya itu sudah ada sejak sebelum saya lahir, Aneh saja tiba-tiba berganti nama jadi Setu Sidomukti. Asal-usulnya siapa yang memberi nama kita tidak tahu, dan itu dilakukan tanpa sepengetahuan tokoh Kampung Cikumpa. Jadi, sudah hal yang wajar jika saat ini harus dikembalikan lagi menjadi Setu Baru Cikumpa Sukmajaya, agar sejarah tidak hilang,” tegas Baba Lamin.
Penguatan Budaya dan Asal-Usul Raden Sukmajaya
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Baba E. Manisah Boy, narasumber kedua yang menegaskan bahwa eksistensi nama kampung memiliki fungsi fundamental sebagai fondasi dasar kebudayaan.
Menurutnya, setiap peradaban dan kebudayaan yang lahir dari interaksi manusia pasti memiliki ruang publik dan tempat berpijak yang harus dihormati.
Tidak hanya berhenti pada aspek penamaan wilayah, festival ini juga menghadirkan wawasan sejarah yang mendalam dari tingkat nasional.
Fathan Mubaraq, perwakilan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenbud RI) hadir memperkaya informasi strategis dengan memaparkan rekam jejak historis Raden Sukmajaya salah satu tokoh yang menjadi asal-usul nama wilayah Sukmajaya.
Berdasarkan data dan arsip otentik dari Kasepuhan Cirebon, dipaparkan bagaimana akar sejarah kepemimpinan dan perjuangan Raden Sukmajaya yang berasal dari Cirebon.
Komitmen Merawat Persatuan dan Warisan Leluhur
Melalui rangkaian Festival Pembauran Kecamatan Sukmajaya dalam rangka menyambut HUT RI ke-81 ini, FPK Sukmajaya bersama para tokoh masyarakat dan pemerintah pusat berharap kesadaran kolektif warga semakin meningkat.
Penyelenggaraan toponimi ini diharapkan menjadi langkah awal yang konkret untuk merevitalisasi nama-nama historis di Depok, termasuk memperjuangkan kembali nama Setu Baru Cikumpa Sukmajaya demi tegaknya sejarah dan martabat budaya lokal di bumi pertiwi. tutupnya.















