EYD di Tengah Tren Mengetik Gaul: Menemukan Kembali Standar Berbahasa

- Reporter

Selasa, 23 Desember 2025 - 10:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Leoma Callista Fawwaz

Jujur, bagaimana rasanya jika kamu mendapatkan pesan WhatsApp seperti ini: “Hai, apakah kita jadi pergi besok? ” Pesan itu ditulis dengan huruf besar di awal dan diakhiri dengan tanda tanya.

Bagi banyak anak muda saat ini, melihat pesan yang terlalu rapi justru membuat mereka tidak nyaman. Banyak yang merasa jika chat yang dimulai dengan huruf besar itu terkesan kaku, seperti sedang ditegur, atau bahkan terlihat seperti pesan dari admin toko online. Di sisi lain, mengetik dengan huruf kecil semua (yang juga dikenal sebagai “typing ganteng”) dianggap lebih santai, ramah, dan keren.

Namun, mari kita pikirkan dengan jelas sejenak. Apakah kita mau mengabaikan aturan bahasa hanya karena takut dianggap kaku? Apakah kita mau terus membiarkan kesalahan menjadi hal biasa hanya karena tidak suka melihat huruf besar?

Bahasa itu untuk Komunikasi, Bukan untuk Mempercantik .

Kita harus ingat lagi apa fungsi utama bahasa: untuk menyampaikan informasi. Typing ganteng sering kali merugikan kejelasan hanya demi penampilan. Ketika tanda tanya dihilangkan, kalimat tanya bisa jadi terdengar seperti pernyataan atau bahkan perintah.
Bayangkan betapa sulitnya bagi lawan bicara yang harus menebak nada suara hanya karena si pengirim pesan ingin terlihat keren. Dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Benar, setiap tanda baca memiliki makna. Koma digunakan untuk jeda, sementara titik digunakan untuk berhenti. Menghilangkan tanda baca itu bukanlah seni, tetapi justru merusak cara berpikir yang logis.

Bahaya Memperlakukan Hal Ini Sebagai Biasa dan Menangkap Kebiasaan

Masalah utama dari tren ini adalah bagaimana kita menganggapnya sebagai hal yang biasa. Jika kita membiarkan kebiasaan ini terus berlanjut, otak kita akan menganggap kesalahan itu sebagai hal yang benar. Generasi muda mulai kesulitan untuk mengetahui perbedaan antara bahasa yang benar dan bahasa sehari-hari.

Dampaknya bisa sangat serius saat kita masuk ke lingkungan kerja. Dosen tidak akan menerima skripsi yang ditulis dengan gaya yang terlalu santai. Bagian HRD di perusahaan akan langsung menolak CV atau surat lamaran yang tidak menggunakan huruf besar di awal kalimat. Kebiasaan menulis di WhatsApp bisa saja terbawa ke dalam email resmi. Apakah kita ingin mengambil risiko masa depan hanya demi mendapatkan pengakuan di media sosial?

Ubah Cara Berpikir: Menulis dengan EYD Itu Keren

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang kita tentang apa yang terlihat keren. Banyak dari kita merasa tidak nyaman menggunakan huruf kapital karena takut dianggap berlebihan. Padahal, kita perlu tahu perbedaan antara bersikap tegas dan bersikap marah.

Kembali kepada EYD tidak berarti kita harus menulis dengan cara yang kaku. Kita harus mengubah cara berpikir kita: menggunakan huruf kapital di awal kalimat itu bukan tanda kita marah, tapi tanda cara berpikir yang teratur. Menggunakan “Aku” dan “Kamu” dengan huruf kapital yang tepat, serta menyelesaikan kalimat dengan titik, menunjukkan bahwa kita menghargai orang yang kita ajak bicara. Dari sudut pandang orang yang paham, tulisan yang rapi menunjukkan bahwa kita sudah dewasa secara intelektual.

Bukti Nyata: Mana yang Lebih Enak Dibaca?

Untuk lebih mudah dipahami, mari kita lihat perbandingan langsung. Perhatikan dua cara menulis di bawah ini:

Typing Ganteng (Kesan: Tidak Jelas, Malas)
“ywdh trserh u aj ikt g & bsk jd g?
EYD Sempurna (Kesan: Jelas, Dewasa)
ya sudah,terserah kamu, ikut ga & besok jadi pergi tidak?

Apakah kamu melihat perbedaannya? Tulisan di sisi bawah mungkin terasa lebih serius, tetapi jauh lebih nyaman dibaca, memiliki emosi yang jelas, dan mengurangi kesalahpahaman.

Jadi, mari kita berhenti merasa takut berlebihan terhadap huruf kapital. Jangan biarkan perasaan “risih” itu merusak keindahan Bahasa Indonesia yang telah ditata dengan baik. Mulailah mengetik dengan benar, hargai tanda baca, dan banggalah dengan kemampuan berbahasamu.

Karena pada akhirnya, penampilan yang menarik karena filter atau cara mengetik yang santai itu sementara, tetapi penampilan yang menarik karena pengetahuan dan tata bahasa yang baik, itu akan terus ada.

(Penulis : Leoma Callista Fawwaz, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah)

Berita Terkait

Ar-Rahman Islamic School Gelar Kegiatan Workshop Budaya Kerja 2026 Bersama Dirgantara Outbond Training (DOT)
SMK BUDHI WARMAN II Gelar LDKMB bersama Dirgantara Outbond Training Depok Tahun 2026
Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemkot Depok Berlakukan PJJ Mulai Hari Ini
80 Persen Pengurus PPP Depok Periode 2026-2031 Didominasi Gen Z
Pemkot Depok Perkuat Ekosistem Toleransi hingga Tingkat RW
80 Peserta PKA Mabes TNI Studi Lapangan di Kota Depok
JUSS Jadi Ruang UMKM Depok Perluas Pasar dan Naik Kelas
Pemkot Depok Sediakan Ruang Publik untuk Lansia Tetap Aktif dan Produktif

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 21:00 WIB

Ar-Rahman Islamic School Gelar Kegiatan Workshop Budaya Kerja 2026 Bersama Dirgantara Outbond Training (DOT)

Selasa, 8 September 2026 - 19:27 WIB

KBM Tatap Muka di Depok Kembali Normal Besok, Disdik Imbau Warga Sekolah Tetap Gunakan Masker

Selasa, 8 September 2026 - 19:10 WIB

Inovasi Pembelajaran SDN Anyelir 1 Depok Selama PJJ: Guru Tak Hanya Sekadar Beri Tugas

Selasa, 8 September 2026 - 19:08 WIB

Penyemprotan Air di Jalan Margonda Raya untuk Tekan Dampak Abu Vulkanik

Selasa, 8 September 2026 - 19:06 WIB

Atasi Sampah Kritis, Pemkot Depok Bangun RDF Plant di TPA Cipayung untuk Energi Alternatif

Selasa, 8 September 2026 - 18:59 WIB

Pemkot Depok Luncurkan Aplikasi Trans Depok untuk Kelola Biskita Secara Mandiri

Selasa, 8 September 2026 - 18:34 WIB

Diana Glory Futsal Academy Fasilitasi Siswa Tumbuhkan Bakat Futsal

Selasa, 8 September 2026 - 18:29 WIB

Biskita Trans Depok Makin Diminati, Jadi Pilihan Utama Warga untuk Kerja hingga Kuliah

Berita Terbaru