Oleh : Radhayana
Komentar negatif di media sosial kerap dianggap sebagai hal sepele. Banyak orang yang menganggap bahwa komentar hanya sebatas rangkaian kata tanpa dampak nyata. Pandangan ini timbul karena mereka belum berada di posisi sebagai korban, sehingga mereka tidak memahami dampak psikologisnya. Pemahaman psikologis terhadap komentar-komentar negatif yang didapat seseorang perlu untuk mendapatkan perhatian. Karena komentar negatif bukan hanya sekedar teks tertulis, melainkan menjadi suatu bentuk ekspresi emosional yang mampu mempengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Otak manusia mampu untuk melakukan pemprosesan komentar-komentar negatif karena bahasa lisan dan tulisan diproses melalui jalur yang berbeda dalam otak. Bahasa lisan akan diproses melalui lobus temporal sebelum diteruskan ke area bahasa Wernicke dan Broca. Sedangkan bahasa tulisan langsung diproses oleh korteks visual di lobus oksipital lalu diteruskan ke area Wernicke. Artinya, walaupun komentar di media sosial hanya berbentuk tulisan, otak masih menganggapnya sebagai pesan nyata yang bermakna.
Komentar negatif yang mengandung kata-kata kasar bisa memicu reaksi emosi yang kuat karena menyerang individu pada berbagai lapisan: secara biologis, kata-kata ini akan menimbulkan respon stres dan cemas karena kata-kata kasar seringkali dianggap sebagai ancaman. Secara psikologis, kata-kata kasar juga sering kali mengarah pada harga diri dan identitas seseorang yang lazimnya harus dijaga. Adapun secara sosial, kata-kata kasar dipandang sebagai pelanggaran norma kesopanan yang berlaku dalam masyarakat. Kombinasi inilah yang membuat komentar negatif terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang dibayangkan.
Satu komentar negatif sering kali lebih diingat daripada puluhan komentar positif karena otak manusia memiliki kecenderungan untuk lebih waspada terhadap informasi negatif. Otak akan memberikan sinyal bahaya yang memerlukan adanya perhatian khusus dan pengulangan. Ketika seseorang mendapat komentar negatif, akan memicu respon emosi yang kuat seperti rasa sakit hati, takut, cemas, sedih, dan marah yang kemudian tersimpan lebih kuat dalam memori. Tak jarang apabila korban akan terus mengingat, merenungi, bahkan mempertanyakan diri sendiri akibat komentar negatif tersebut. Sebaliknya, komentar positif cenderung cepat berlalu tanpa meninggalkan jejak emosional yang mendalam.
Perkembangan media sosial makin memperparah dampak komentar negatif. Komentar negatif akan menciptakan jejak digital permanen yang bisa dibaca dan disalin berulang kali. Penyebarannya pun sangat cepat, sehingga satu komentar negatif dapat dijangkau oleh jutaan bahkan ribuan orang dalam waktu yang singkat. Kondisi ini membuat korban terus berhadapan dengan bahasa yang sama, sehingga luka psikologis akan lebih dalam.
Dampak psikologis jangka panjang dari komentar negatif ini tidak bisa dianggap ringan. Korban dapat mengalami depresi dan stress berkepanjangan, penurunan harga diri, hingga kehilangan kepercayaan diri dan rasa aman dalam dirinya. Dampak yang lebih serius, komentar negatif dapat melemahkan motivasi hidup dan membuat seseorang mengisolasi dirinya dari dunia luar. Ia akan menjauhkan dirinya dari lingkungan sosial karena adanya rasa tidak pantas untuk tampil di ruang publik. Isolasi diri ini seringkali diikuti dengan penggunaan gawai yang berlebihan hingga menimbulkan kecanduan digital dan gangguan tidur yang justru semakin memperburuk kondisi mentalnya.
Karena itulah, kebebasan berbahasa di media sosial perlu disertai dengan rasa tanggung jawab. Etika berbahasa menjadi hal yang tidak bisa untuk diabaikan begitu saja. Penggunaan bahasa yang santun, penghindaran kata-kata yang mengandung ujaran kebencian, pengecekan fakta dan berpikir ulang sebelum mengunggah, serta menghargai privasi orang lain, merupakan beberapa langkah sederhana dalam etika berbahasa. Bahasa mencerminkan cara berpikir dan sikap seseorang, sehingga baik penulis komentar maupun pembacanya harus memiliki tanggung jawab moral atas kata-kata yang dilontarkan dan diterima. Oleh karena itu, berita-berita yang tersebar juga harus diterima dan diolah dengan bijak terlebih dahulu.
Pada akhirnya, masyarakat perlu diberikan pemahaman bahwasannya memberikan komentar bukan hanya sekedar aktivitas mengetik. Kata-kata merupakan bentuk ekspresi emosional yang diproses secara kognitif dan psikologis oleh orang lain. Kesadaran ini penting agar media sosial tidak menjadi tempat untuk saling melukai, melainkan menjadikannya sebagai ruang komunikasi yang lebih manusiawi.
(Penulis : Radhayana, Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Tarbiyah)










