Dari Layar ke Pikiran: Ketika Komentar Negatif Menyentuh Mental

- Reporter

Jumat, 19 Desember 2025 - 10:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Radhayana

Komentar negatif di media sosial kerap dianggap sebagai hal sepele. Banyak orang yang ‎menganggap bahwa komentar hanya sebatas rangkaian kata tanpa dampak nyata. Pandangan ‎ini timbul karena mereka belum berada di posisi sebagai korban, sehingga mereka tidak ‎memahami dampak psikologisnya. Pemahaman psikologis terhadap komentar-komentar ‎negatif yang didapat seseorang perlu untuk mendapatkan perhatian. Karena komentar ‎negatif bukan hanya sekedar teks tertulis, melainkan menjadi suatu bentuk ekspresi ‎emosional yang mampu mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. ‎

Otak manusia mampu untuk melakukan pemprosesan komentar-komentar negatif karena ‎bahasa lisan dan tulisan diproses melalui jalur yang berbeda dalam otak. Bahasa lisan akan ‎diproses melalui lobus temporal sebelum diteruskan ke area bahasa Wernicke dan Broca. ‎Sedangkan bahasa tulisan langsung diproses oleh korteks visual di lobus oksipital lalu ‎diteruskan ke area Wernicke. Artinya, walaupun komentar di media sosial hanya berbentuk ‎tulisan, otak masih menganggapnya sebagai pesan nyata yang bermakna. ‎

Komentar negatif yang mengandung kata-kata kasar bisa memicu reaksi emosi yang ‎kuat karena menyerang individu pada berbagai lapisan: secara biologis, kata-kata ini akan ‎menimbulkan respon stres dan cemas karena kata-kata kasar seringkali dianggap sebagai ‎ancaman. Secara psikologis, kata-kata kasar juga sering kali mengarah pada harga diri dan ‎identitas seseorang yang lazimnya harus dijaga. Adapun secara sosial, kata-kata kasar ‎dipandang sebagai pelanggaran norma kesopanan yang berlaku dalam masyarakat. ‎Kombinasi inilah yang membuat komentar negatif terasa jauh lebih menyakitkan daripada ‎yang dibayangkan. ‎

Satu komentar negatif sering kali lebih diingat daripada puluhan komentar positif ‎karena otak manusia memiliki kecenderungan untuk lebih waspada terhadap informasi ‎negatif. Otak akan memberikan sinyal bahaya yang memerlukan adanya perhatian khusus ‎dan pengulangan. Ketika seseorang mendapat komentar negatif, akan memicu respon emosi ‎yang kuat seperti rasa sakit hati, takut, cemas, sedih, dan marah yang kemudian tersimpan ‎lebih kuat dalam memori. Tak jarang apabila korban akan terus mengingat, merenungi, ‎bahkan mempertanyakan diri sendiri akibat komentar negatif tersebut. Sebaliknya, ‎komentar positif cenderung cepat berlalu tanpa meninggalkan jejak emosional yang ‎mendalam. ‎
Perkembangan media sosial makin memperparah dampak komentar negatif. Komentar ‎negatif akan menciptakan jejak digital permanen yang bisa dibaca dan disalin berulang kali. ‎Penyebarannya pun sangat cepat, sehingga satu komentar negatif dapat dijangkau oleh ‎jutaan bahkan ribuan orang dalam waktu yang singkat. Kondisi ini membuat korban terus ‎berhadapan dengan bahasa yang sama, sehingga luka psikologis akan lebih dalam. ‎

Dampak psikologis jangka panjang dari komentar negatif ini tidak bisa dianggap ringan. ‎Korban dapat mengalami depresi dan stress berkepanjangan, penurunan harga diri, hingga ‎kehilangan kepercayaan diri dan rasa aman dalam dirinya. Dampak yang lebih serius, ‎komentar negatif dapat melemahkan motivasi hidup dan membuat seseorang mengisolasi ‎dirinya dari dunia luar. Ia akan menjauhkan dirinya dari lingkungan sosial karena adanya ‎rasa tidak pantas untuk tampil di ruang publik. Isolasi diri ini seringkali diikuti dengan ‎penggunaan gawai yang berlebihan hingga menimbulkan kecanduan digital dan gangguan ‎tidur yang justru semakin memperburuk kondisi mentalnya. ‎

Karena itulah, kebebasan berbahasa di media sosial perlu disertai dengan rasa tanggung ‎jawab. Etika berbahasa menjadi hal yang tidak bisa untuk diabaikan begitu saja. Penggunaan ‎bahasa yang santun, penghindaran kata-kata yang mengandung ujaran kebencian, ‎pengecekan fakta dan berpikir ulang sebelum mengunggah, serta menghargai privasi orang ‎lain, merupakan beberapa langkah sederhana dalam etika berbahasa. Bahasa mencerminkan ‎cara berpikir dan sikap seseorang, sehingga baik penulis komentar maupun pembacanya ‎harus memiliki tanggung jawab moral atas kata-kata yang dilontarkan dan diterima. Oleh ‎karena itu, berita-berita yang tersebar juga harus diterima dan diolah dengan bijak terlebih ‎dahulu. ‎

Pada akhirnya, masyarakat perlu diberikan pemahaman bahwasannya memberikan ‎komentar bukan hanya sekedar aktivitas mengetik. Kata-kata merupakan bentuk ekspresi ‎emosional yang diproses secara kognitif dan psikologis oleh orang lain. Kesadaran ini ‎penting agar media sosial tidak menjadi tempat untuk saling melukai, melainkan ‎menjadikannya sebagai ruang komunikasi yang lebih manusiawi.

(Penulis : Radhayana, Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Tarbiyah)

Berita Terkait

Ar-Rahman Islamic School Gelar Kegiatan Workshop Budaya Kerja 2026 Bersama Dirgantara Outbond Training (DOT)
SMK BUDHI WARMAN II Gelar LDKMB bersama Dirgantara Outbond Training Depok Tahun 2026
Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemkot Depok Berlakukan PJJ Mulai Hari Ini
80 Persen Pengurus PPP Depok Periode 2026-2031 Didominasi Gen Z
Pemkot Depok Perkuat Ekosistem Toleransi hingga Tingkat RW
80 Peserta PKA Mabes TNI Studi Lapangan di Kota Depok
JUSS Jadi Ruang UMKM Depok Perluas Pasar dan Naik Kelas
Pemkot Depok Sediakan Ruang Publik untuk Lansia Tetap Aktif dan Produktif

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 21:00 WIB

Ar-Rahman Islamic School Gelar Kegiatan Workshop Budaya Kerja 2026 Bersama Dirgantara Outbond Training (DOT)

Selasa, 8 September 2026 - 19:27 WIB

KBM Tatap Muka di Depok Kembali Normal Besok, Disdik Imbau Warga Sekolah Tetap Gunakan Masker

Selasa, 8 September 2026 - 19:10 WIB

Inovasi Pembelajaran SDN Anyelir 1 Depok Selama PJJ: Guru Tak Hanya Sekadar Beri Tugas

Selasa, 8 September 2026 - 19:08 WIB

Penyemprotan Air di Jalan Margonda Raya untuk Tekan Dampak Abu Vulkanik

Selasa, 8 September 2026 - 19:06 WIB

Atasi Sampah Kritis, Pemkot Depok Bangun RDF Plant di TPA Cipayung untuk Energi Alternatif

Selasa, 8 September 2026 - 18:59 WIB

Pemkot Depok Luncurkan Aplikasi Trans Depok untuk Kelola Biskita Secara Mandiri

Selasa, 8 September 2026 - 18:34 WIB

Diana Glory Futsal Academy Fasilitasi Siswa Tumbuhkan Bakat Futsal

Selasa, 8 September 2026 - 18:29 WIB

Biskita Trans Depok Makin Diminati, Jadi Pilihan Utama Warga untuk Kerja hingga Kuliah

Berita Terbaru