Bahasa yang Hilang di Balik Cahaya Layar Gadget

- Reporter

Rabu, 17 Desember 2025 - 15:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Siti Humairah

Layar gadget tampak seperti “teman setia” balita di banyak rumah Indonesia saat ini. Sementara ayah dan ibu sibuk dengan pekerjaan mereka atau rutinitas rumah tangga, anak kecil duduk manis di sofa, matanya terpaku pada ponsel. Perangkat yang dulu dipandang sebagai alat edukasi dan hiburan ringan itu perlahan menjelma menjadi semacam penenang darurat, solusi cepat setiap kali anak rewel. Praktis? Tentu saja. Namun di balik kemudahan tersebut, tersembunyi ancaman yang tidak kecil yaitu perkembangan bahasa anak yang bisa terganggu tanpa disadari.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah lama menegaskan bahwa anak di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak terpapar layar sama sekali, sedangkan anak usia 2–5 tahun dibatasi maksimal satu jam sehari dengan pendampingan orang tua. Namun kenyataan di lapangan berbeda jauh. Banyak anak yang terpapar layar selama 3–5 jam setiap hari, bahkan ada yang diberi ponsel sejak bangun tidur hingga menjelang tidur kembali. Ironisnya, semua berlangsung tanpa pengawasan kualitas konten maupun interaksi.
Gadget tampak seperti solusi instan bagi orang tua yang menghadapi tekanan pekerjaan dan kesibukan. Anak itu langsung diam setelah satu klik pada video kartun. Namun, setiap jam tambahan yang dihabiskan anak untuk menatap layar berarti mereka kehilangan kesempatan untuk berinteraksi, yang merupakan komponen penting dalam proses pemerolehan bahasa.
Dari perspektif psikolinguistik, bahasa tidak hanya terbentuk dari mendengar suara atau melihat gambar. Anak membutuhkan interaksi langsung, percakapan dua arah, dan serve-and-return antara orang dewasa dan anak. Kontak mata, nada suara, penyesuaian intonasi, ekspresi wajah, dan jeda adalah semua aspek interaksi ini yang memungkinkan anak merespons. Semua komponen ini tidak bisa diberikan oleh layar yang sifatnya satu arah.
Berbagai ruang kelas PAUD dan klinik tumbuh kembang telah melihat hasilnya. BAhwa keterlambatan bicara telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Banyak anak menyebutkan kata, tetapi tidak memahami artinya. Selain itu, ada orang yang menggunakan echolalia digital, yaitu mengulang-ulang percakapan yang diambil dari video. Mereka menggunakan bahasa yang fasih, tetapi mereka tidak memahaminya. Ini menunjukkan bahwa mereka lebih suka meniru daripada memaknai.

Kemampuan fokus terpengaruh oleh konten digital yang bergerak cepat. Anak-anak terbiasa dengan ritme visual yang cepat, jadi ketika mereka menghadapi percakapan nyata yang lebih lama, mereka cepat bosan dan kehilangan fokus. Salah satu alasan mengapa anak-anak tampak tidak merespons ketika diajak bicara adalah bukan karena tidak mengerti, tetapi karena otaknya terlatih untuk mencari rangsangan yang lebih cepat dari layar.

Sayangnya, banyak orang tua percaya bahwa tontonan edukatif dapat menggantikan interaksi. Padahal penelitian berulang kali menunjukkan bahwa video edukatif tidak bisa menggantikan peran orang dewasa dalam membangun bahasa. Anak-anak menonton secara pasif jika mereka tidak dibantu. Tidak ada tantangan untuk bertanya, menjawab, atau menafsirkannya. Anak tidak memiliki kesempatan untuk berunding.

Justru, kualitas interaksi sederhana seperti membacakan buku, bermain peran, atau bercakap tentang benda yang ada di sekitar, jauh lebih efektif dalam membangun bahasa. Melalui aktivitas ini, anak belajar memahami konteks, menghubungkan kata dengan pengalaman nyata, dan mempelajari bagaimana cara bergiliran dalam percakapan.
Namun bukan berarti teknologi harus dijauhkan sepenuhnya. Gadget tetap bisa menjadi media pembelajaran, selama orang tua mengatur, mendampingi, dan membatasi penggunaannya. Literasi digital dalam keluarga menjadi kunci agar screen time tidak merusak perkembangan bahasa anak.
Ada beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan:
Pertama, tetapkan batas screen time sesuai usia dan terapkan secara konsisten. Orang tua harus menjadi teladan; tidak mungkin anak mengurangi penggunaan layar jika orang tua setiap saat memegang gadget.
Kedua, pilih konten yang berkualitas. Utamakan tayangan yang bersifat interaktif atau mendorong anak berpikir, bukan konten pasif yang hanya menghibur tanpa stimulasi bahasa.
Ketiga, terapkan co-viewing atau menonton bersama. Bertanyalah: “Apa yang terjadi selanjutnya?”, “Dia sedang apa?”, “Kenapa dia marah?”. Pertanyaan sederhana dapat mengubah layar menjadi pemicu percakapan, bukan pengganti interaksi.
Keempat, perbanyak aktivitas tanpa layar. Bermain balok, menggambar, memasak bersama, atau berlari di halaman rumah memberikan pengalaman bahasa yang lebih kaya dan nyata.
Pada akhirnya, perkembangan bahasa tidak lahir dari cahaya layar, tetapi dari hubungan manusia. Anak belajar berbicara karena diajak berbicara. Ia memahami makna dari ekspresi, intonasi, dan respons orang lain. Ia belajar tentang sosial bukan dari animasi, melainkan dari interaksi nyata dengan orang yang mencintainya.
Kemampuan komunikasi yang kuat sangat penting bagi generasi berikutnya. Ini termasuk kemampuan untuk membaca situasi, memahami orang lain, dan memberikan penjelasan tentang pendapat mereka. Mengembalikan ruang interaksi yang hilang di tengah derasnya digitalisasi adalah langkah pertama dalam menyiapkan generasi yang cerdas secara bahasa.
Layar boleh hadir dalam hidup anak. Tetapi jangan sampai ia mengambil alih suara yang paling penting: suara anak itu sendiri.

(Penulis : Siti Humairah mahasiswi UIN Jakarta jurusan Pendidikan Bahasa Arab)

Berita Terkait

Hujan Deras Picu Tanah Bergerak di Sukamakmur Bogor: 15 Rumah Rusak, Puluhan Warga Mengungsi!
Massa Buruh Kepung Kantor PBB di Jakarta, Tegas Tolak Keterlibatan RI dalam ‘Board of Peace’ Gaza
BMKG Rilis Peringatan Dini Cuaca Ekstrem di Jabodetabek, Waspadai Wilayah Ini
Depok Siapkan 10 Venue Sambut Porprov XV Jabar 2026
Lurah Grogol Resmikan Posyandu Wijaya RW 06, Perkuat Layanan Kesehatan Dasar Warga
Kadisnaker Depok Paparkan Program Ketenagakerjaan kepada ASN
Dirut Bursa Efek Indonesia Iman Rachman Mengundurkan Diri
TNI AD Resmi Tahan Serda Heri Usai Tuduh Pedagang Es Gabus Jualan Pakai Spons

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 13:22 WIB

Hujan Deras Picu Tanah Bergerak di Sukamakmur Bogor: 15 Rumah Rusak, Puluhan Warga Mengungsi!

Jumat, 30 Januari 2026 - 13:11 WIB

Massa Buruh Kepung Kantor PBB di Jakarta, Tegas Tolak Keterlibatan RI dalam ‘Board of Peace’ Gaza

Jumat, 30 Januari 2026 - 13:04 WIB

BMKG Rilis Peringatan Dini Cuaca Ekstrem di Jabodetabek, Waspadai Wilayah Ini

Jumat, 30 Januari 2026 - 11:01 WIB

Depok Siapkan 10 Venue Sambut Porprov XV Jabar 2026

Jumat, 30 Januari 2026 - 10:58 WIB

Lurah Grogol Resmikan Posyandu Wijaya RW 06, Perkuat Layanan Kesehatan Dasar Warga

Jumat, 30 Januari 2026 - 10:35 WIB

Dirut Bursa Efek Indonesia Iman Rachman Mengundurkan Diri

Jumat, 30 Januari 2026 - 10:35 WIB

TNI AD Resmi Tahan Serda Heri Usai Tuduh Pedagang Es Gabus Jualan Pakai Spons

Jumat, 30 Januari 2026 - 10:30 WIB

WFH ASN Tak Ganggu Pelayanan Publik, Dishub Depok Pastikan Layanan Tetap Berjalan

Berita Terbaru

Berita

Depok Siapkan 10 Venue Sambut Porprov XV Jabar 2026

Jumat, 30 Jan 2026 - 11:01 WIB