Buku dan Pemikiran: Senjata yang Lebih Ampuh daripada Pedang

- Reporter

Kamis, 25 September 2025 - 10:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siarandepok.com – Pentingnya Buku dalam Perjuangan Kemerdekaan

Sejarah mencatat bahwa para pendiri bangsa Indonesia adalah pembaca yang haus akan pengetahuan. Mohammad Hatta, saat diasingkan ke Boven Digoel oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1927, membawa serta 16 peti buku. Alasannya sederhana namun mendalam: “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” Pengasingan ini justru menjadi ruang bagi Hatta untuk terus belajar dan merumuskan pemikiran tentang kemerdekaan.

Kolonialisme Belanda takut terhadap pemikiran bebas dan kelompok terdidik yang menuliskan visi merdeka. Tulisan memiliki kekuatan membuka kesadaran, mengubah cara pandang, dan membebaskan manusia dari penindasan. Pemikiran manusia tidak bisa dikendalikan sepenuhnya, tetapi perilaku destruktifnya dapat dibatasi. Dengan kata lain, pemikiran adalah sarana pembelajaran dan pembebasan, bukan tindakan merusak.

Kekuatan Narasi dalam Mengubah Kesadaran Kolektif

Yang ditakuti dari pemikiran bebas adalah kekuatan narasi yang mampu membangkitkan kesadaran kolektif. Contohnya terlihat dalam novel Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker (Multatuli), diterbitkan pada 1860. Buku ini menggambarkan penderitaan rakyat Nusantara akibat sistem tanam paksa (cultuurstelsel) di bawah kolonialisme Belanda.

Karya ini bukan sekadar fiksi; ia memicu perubahan pandangan di Belanda, menimbulkan kegemparan, dan mendorong reformasi. Perasaan malu elite Belanda mendorong perubahan kebijakan, termasuk munculnya Politik Etis pada 1901. Kebijakan ini memberikan program pendidikan, irigasi, dan emigrasi sebagai bentuk tanggung jawab terhadap rakyat bumiputra. Dampak jangka panjangnya masih terlihat, termasuk permintaan maaf resmi Belanda atas perbudakan dan eksploitasi kolonial.

Pendidikan dan Kritik terhadap Pendudukan

Perbandingan menarik muncul saat pendudukan Jepang (1942–1945). Sutan Sjahrir, tokoh intelektual dan Perdana Menteri pertama Indonesia, mengkritik sistem pendidikan fasis militer Jepang yang diterapkan pada pemuda Indonesia. Pendidikan menekankan disiplin militer tanpa ruang berpikir kritis.

Sjahrir khawatir fasisme ini akan bergabung dengan sisa-sisa feodalisme lokal dan menghambat kemerdekaan sejati. Ia menekankan bahwa revolusi Indonesia harus bersih dari unsur fasisme Jepang agar pemimpin dapat merumuskan dasar negara demokratis. Tanpa kelompok terdidik yang berpikir kritis dan menuliskan gagasan tentang Pancasila dan UUD 1945, kemerdekaan Indonesia mungkin tidak akan tercapai.

Kaderisasi dan Pendidikan Politik

Hal ini relevan dalam konteks kaderisasi partai politik. Partai dengan sistem rekrutmen dan pendidikan kader yang baik mencerminkan kualitas pemimpinnya. Contohnya adalah Partai Indonesia Raya (Parindra), didirikan pada 1935 sebagai fusi organisasi seperti Budi Utomo dan Persatuan Bangsa Indonesia.

Di Jambi, pendiri Parindra adalah Dr. Sagaf Yahya, dokter asal Minangkabau yang mendirikan cabang partai ini pada 1935 sebagai ketua pengurus, yang juga merupakan residen pertama Jambi. Parindra menekankan kaderisasi melalui pendidikan nasionalis dan kooperatif, termasuk merekrut intelektual muda untuk memperkuat perjuangan anti-kolonial. Kemampuan membaca dan menulis dengan dasar pengetahuan yang kuat menjadi syarat penting untuk menjadi kader kompeten. Buku menyediakan dunia di mana seseorang menemukan fondasi pemikirannya.

Pengaruh Keluarga dalam Pembentukan Pemikiran

Motivasi membaca dan menulis juga dipengaruhi oleh keluarga. Ayah saya, Dr. Enir Reni Sagaf Yahya, lulusan Universitas Andalas, pernah bertugas sebagai dokter di Kelantan, Malaysia (1979–1988), terdaftar di Malaysian Medical Council (MMC) di bawah Kementerian Kesihatan Malaysia. Beliau adalah pembaca tekun, menyantap sepuluh koran sehari dan beberapa majalah dari Indonesia. Kebiasaan ini membentuk pola pikir kritis sejak dini.

Setiap anak cenderung meniru figur ayahnya. Jika seorang ayah gemar membaca, putrinya akan tumbuh dalam lingkungan berpikir kritis. Sebaliknya, jika fokus ayah hanya materi atau menganggap buku berbahaya, anak akan terbiasa dengan pola pikir konsumtif atau takut terhadap pemikiran. Hal ini menunjukkan relevansi gagasan Bung Hatta: “Dengan buku, aku bebas.”

Kesimpulan

Sejarah menunjukkan bahwa buku dan pemikiran memiliki kekuatan strategis dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan bangsa. Dari pengaruh Multatuli terhadap reformasi Belanda hingga peran Sjahrir dan kaderisasi politik nasional, buku membentuk kesadaran, strategi, dan kualitas pemimpin. Pendidikan dan kebiasaan membaca membentuk individu yang kritis dan mampu menulis gagasan substantif. Membaca dan menulis bukan sekadar hobi, tetapi investasi jangka panjang bagi kualitas pemikiran dan kebebasan intelektual bangsa.

Daftar Referensi

Nasruddin. (1989). Restorasi Kesultanan Jambi dan Persatuan Negara Republik Indonesia. Nazharat: Jurnal Kebudayaan.

Zainuddin. (1979/1980). Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi. Repositori Kemendikdasmen.

Soedarsono. (1975). Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi. Repositori Kemendikdasmen.

Zed, M. (2005). Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi. Repositori Kemendikdasmen.

Sejarah DPRD Provinsi Jambi. (n.d.). Residen Jambi: Dr. Segaf Yahya (1945). Diakses dari dprd-jambiprov.go.id.

Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi. (n.d.). Pengurus Parindra pada tahun berdirinya. Diakses dari repositori.kemendikdasmen.go.id.

Pemerintah Provinsi Jambi. (n.d.). Sejarah Jambi: Masa Kemerdekaan Republik Indonesia. Diakses dari jambiprov.go.id.

Malaysian Medical Council (MMC). (n.d.). Search for Registered Doctor: Enir Reni Sagaf Yahya. Diakses dari merits.mmc.gov.my.

Sjahrir, S. (1945). Perjuangan Kita. Jakarta: Pustaka Rakjat.

Multatuli. (2014). Max Havelaar (Terjemahan H.B. Jassin). Yogyakarta: Narasi.

Rutte, M. (2022). Permintaan Maaf atas Kekerasan Ekstrem 1945–1950 di Indonesia. Berita Detik.com, 18 Februari 2022.

Berita Terkait

Dinas Pendidikan Kota Depok Gelar Bimtek Digitalisasi Pembelajaran bagi SPNF Se-Kota Depok di PKBM Primago Indonesia
PKBM Primago Indonesia Ikuti Kegiatan Latihan Gabungan (Latgab) Pramuka Kwarran Limo Depok Tahun 2026
PELUANG EMAS! Wakaf 100 Buku + Gratis Pelatihan Bisnis untuk Siswa & Santri Untuk Pesantren di Kota Depok 2026
DPRD Beri Lampu Hijau, Pemkot Depok Targetkan Fasilitas RDF Beroperasi pada 2027
DLHK Depok Dorong Budaya Clean Up Rutin Melalui Program Depok ASRI
Wawalkot Depok Ajak Warga Jadikan Gerakan Indonesia ASRI Kebiasaan Sehari-hari
KLH Beberkan Kondisi Mayoritas Danau di Indonesia Rusak dan Tercemar
Peringati World Lake Day 2026, Pemkot Depok Tegaskan Larangan Mengeruk Danau untuk Perumahan

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 17:55 WIB

PKBM Primago Indonesia Ikuti Kegiatan Latihan Gabungan (Latgab) Pramuka Kwarran Limo Depok Tahun 2026

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 17:45 WIB

DPRD Beri Lampu Hijau, Pemkot Depok Targetkan Fasilitas RDF Beroperasi pada 2027

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 16:16 WIB

DLHK Depok Dorong Budaya Clean Up Rutin Melalui Program Depok ASRI

Jumat, 28 Agustus 2026 - 13:41 WIB

KLH Beberkan Kondisi Mayoritas Danau di Indonesia Rusak dan Tercemar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 20:24 WIB

Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Sukses Gelar Reuni Akbar Alumni 2026 di Pesona Square Mall Depok

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:42 WIB

Butuh Layanan Cepat? Layanan Adminduk De’ Geplak Hadir di D’Mall Akhir Pekan Ini

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Tebar Jala Calon Pekerja, Pemkot Depok Gelar Walk in Interview Bersama BTPN Syariah

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:34 WIB

Mau Berjualan di Pasar Cisalak? Ada Diskon Retribusi Bagi Pedagang

Berita Terbaru