oleh

Meski Angka Rendah Stunting, BKKBN dan Wenny Haryanto antusias Bantu Wujudkan Depok Zero Stunting

Siarandepok.com- Meski angka rendah Stunting di Kota Depok, namun BKKBN bersama Mitra dari Komisi IX DPR RI antusias melakukan sosialisasi pencegahan dan penurunan stunting guna mewujudkan Kota Depok Zero Stunting.

Acara tersebut dilakukan di gedung Toba Depok town square lantai 3 Sabtu 12 November 2022.

Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Komisi IX, Wenny Haryanto, perwakilan dari BKKBN, Wiwin dan Martin, Kepala Dinas DP3AP2KB Kota Depok, Nessi serta masyarakat, para kader dan para suaminya.

Mengawali sambutannya anggota Komisi IX DPR RI, Wenny Haryanto menjelaskan bahwa Indonesia akan mengalami bonus demografi di tahun 2045.

Bonus demografi itu sendiri adalah suatu kondisi di mana mayoritas penduduknya berada dalam usia produktif mulai umur 15 tahun sampai 64 tahun.

Namun sayangnya bonus demografi ini bisa terhambat karena angka stunting Indonesia tahun 2002 ini sekitar 24,4%.

Wenny melanjutkan Kondisi seperti ini mengakibatkan presiden Jokowi meminta kepada BKKBN untuk menjadi leader secara nasional dalam pencegahan dan penurunan stunting tahun 2024 nanti menjadi 14%.

“Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan dan perkembangan akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama, yaitu mulai pada 1000 hari pertama,” ujar Wenny Haryanto.

Wenny Haryanto salut bangga dan memberikan apresiasi kepada pemerintah kota Depok karena angka stunting Kota Depok merupakan yang terendah se-jawa Barat dengan nilai 12,3%.

“Meski demikian DP3AP2KB Kota Depok jangan lengah dan tetap harus berusaha menurunkan stunting sampai 0 persen,” harap Wenny Haryanto.

Wenny Haryanto pun memberikan kisi-kisi kepada peserta yang hadir bagaimana cara mencegah stunting.

Sementara itu pemateri kedua perwakilan dari BKKBN, Martin mengungkapkan keberhasilan program BKKBN selama ini ini terbukti dari jumlah kelahiran keluarga yang berkisar 2 sampai 3 anak.

“Tagline BKKBN saat ini adalah dua anak lebih sehat dan jangan lupa usia pernikahan wanita 21 tahun dan pria 25 tahun,”ujar Martin.

Tak mau ketinggalanWiwin, perwakilan dari BKKBN juga mengapresiasi Kota Depok yang angka stuntingnya 12,3 persen.

Wiwin juga menambahkan Stunting itu tidak saja dimulai di awal 1000 hari, atau ketika ibu sedang hamil tapi stunting juga bisa terjadi pada seluruh fase kehidupan.

“Stunting bisa diawali pada saat remaja, lalu saat calon pengantin, lalu saat menikah (pada usia subur) lalu saat hamil lalu saat lahir dan saat menyusui lalu saat anak berkembang umur 2 tahun (Baduta) atau saat Balita,” ujar Wiwin.

Terakhir Nessi, Kadis dp3ap2kb Kota Depok, Mencegah stunting itu penting jangan pening, ibarat Ayu tingting makan Opak,yang penting kita kompak dalam penanganan stunting.

“Peran penguatan keluarga bukan hanya peran ibu-ibu tapi juga bapak-bapak, tokoh agama, tokoh masyarakat, guru ngaji, guru sekolah dan semua pihak,” ujar Nessi.

Nessi pun mengakhiri sambutannya Mudah-mudahan ini menjadi bagian dari ikhtiar kami untuk mencegah stunting sehingga Kota Depok menjadi Zero Stunting

 

<

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru