Meriahkan HUT Ke-6 , Hotel Santika Depok Gelar Batik Expo Selama Satu Bulan Penuh dan Menampilkan Batik Khas Depok

- Reporter

Senin, 26 Agustus 2019 - 09:20

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siarandepok.com – Dalam rangka lebih membumikan corak batik khas Kota Depok, Hotel Santika menggandeng pembatik sekaligus pencipta batik lukis khas Depok, Ratna Septiana Wulandari untuk menyelenggarakan acara Batik Expo di Lobby lt.3 Hotel Santika Depok. Batik Expo tersebut juga diselenggarakan dalam rangka memeriahkan HUT ke-6 Hotel Santika Depok.

Pameran batik yang digelar sepanjang bulan Agustus 2019 tersebut mendapat respon positif dari para tamu hotel yang datang, baik dari dalam maupun luar daerah Kota Depok yang seringkali mencari oleh-oleh khas Kota Depok untuk dibawa pulang.

“Seringkali tamu hotel yang datang menanyakan apa sih oleh-oleh khas Depok? Karena yang mereka tahu selama ini hanya buah belimbing dewa saja, dengan diadakannya pameran ini tentunya sangat membantu kami dalam mengenalkan batik khas Depok yang bisa dijadikan buah tangan atau oleh-oleh untuk mereka bawa pulang,” ungkap Jordy.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jordy juga mengatakan jika para tamu bahkan dirinya dan staf di Hotel Santika pun baru menyadari kalau Kota Depok juga memiliki beberapa corak batik khasnya.

“Ternyata ada sekitar 24 corak batik khas Kota Depok, selama ini kan kami tahunya hanya corak belimbing saja,” ujarnya.

Dalam kesempatan wawancara bersama, Ratna Septiana Wulandari, pembatik yang juga pencipta batik lukis khas Depok menjelaskan jika saat ini sudah ada 24 corak batik yang dibuatnya, 4 diantaranya sudah didaftarkan HAKI oleh Pemkot Depok.

“Dalam hidup ini saya ingin meninggalkan jejak sejarah yang bermanfaat, adanya pengakuan dari Pemerintah Kota tersebut tentunya menjadi jejak sejarah yang saya sumbangsihkan, ada 4 corak batik yang sudah di-HAKI-kan oleh Dekranasda Kota Depok yaitu motif Tari topeng, Gong si bolong, Penari, dan Si Benggol, masih ada 20 lagi masih milik saya,” jelas Ratna.

Ratna mengisahkan jika dirinya pertama kali mengenalkan batik Depok dalam acara Wonderful Indonesia di Ukraina. Dirinya sengaja memakai strategi mengenalkan hasil kreasinya tersebut mulai dari luar negeri karena justru di luar negeri respon dan antusiasme terhadap seni budaya sangat tinggi dibanding di dalam negeri sendiri.

“Mereka disana itu lebih care terhadap kekayaan seni budaya, dan biasanya jika di luar negeri sudah familiar baru bisa diterima didalam negeri,” kata Ratna.

Terkait dukungan dari Pemerintah Kota Depok sendiri, Ratna mengakui jika komunikasinya dengan Walikota Depok, khususnya dengan Bunda Elly (istri Walikota Depok) cukup intens.

“Tanpa kepedulian beliau tidak akan mungkin pengenalan batik Depok ini bisa sampai selevel saat ini, jadi memang dukungannya sangat luar biasa,” terang Ratna.

“Alhamdulillaah ASN juga sudah banyak yang menggunakan batik ini, termasuk di lingkungan Dinas Pendidikan yang setidaknya sudah menganjurkan para guru untuk turut mengenakan batik khas Depok,” lanjut pengrajin batik asal Yogyakarta yang sudah menetap di Depok sejak tahun 2003 ini.

Ratna berharap dengan Batik Expo ini bisa semakin menguatkan motif-motif batik yang dibuatnya sekaligus agar lebih memperkenalkan dan menegaskan bahwa Batik Depok memang ada.

“Keberadaan kami masih antara ada dan tiada, nah begitu ada pameran disini semua melihat, oh ternyata ada ya batik Depok,” imbuhnya.

“Saat ini saya ingin lebih konsen mengenalkan batik, ke sekolah mengenalkan workshop bagaimana cara mencanting batik, beberapa kali di daerah Limo Depok diikuti oleh ibu-ibu guru SD diadakan di rumah salah satu gurunya, kalau di luar Depok mengajari ibu-ibu rumah tangga yang senang merajut,” jelasnya lagi.

Lebih lanjut Ratna juga menginginkan agar proses edukasi dan sosialisasi terhadap kekayaan seni budaya atau kearifan local dapat terus digalakkan agar generasi milenial saat ini tetap aware dan peduli terhadap nilai-nilai budaya leluhurnya.

<

Berita Terkait

SMPIK AL-Khoeriyah Depok Adakan Kegiatan Trip to Yogyakarta Bersama Dirgantara AIA Tour Travel
PKBM PRIMAGO Indonesia Adakan Asesmen Sumatif Siswa Kelas 6 SDI & 9 SMPI Tahun 2024 di Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Depok
SMP Tirtajaya Depok Adakan Tour Wisuda to Yogyakarta Bersama Dirgantara AIA Tour Travel
Mengulik Kedalaman Pasukan Tim Atalanta dan Leverkusen Jelang Final Liga Eropa 2024
Punya Skema Permainan Sama, Sanggupkah Tim Liga Italia Atalanta Patahkan Rekor Tim Liga Jerman Leverkusen di Final Liga Eropa 2024 ?
Perkuat Sinergitas Lintas Sektor, Komitmen BIN Sukseskan WWF ke-10 di Bali Banjir Apresiasi
85 Tahun, Puluhan Ribu Alumni Pesantren Darunnajah Dedikasikan Untuk Bangsa dan Agama
Deklarasi Menteri WWF ke-10 Angkat Pengelolaan Air Terpadu pada Pulau Kecil

Berita Terkait

Kamis, 23 Mei 2024 - 22:03

SMPIK AL-Khoeriyah Depok Adakan Kegiatan Trip to Yogyakarta Bersama Dirgantara AIA Tour Travel

Kamis, 23 Mei 2024 - 21:58

PKBM PRIMAGO Indonesia Adakan Asesmen Sumatif Siswa Kelas 6 SDI & 9 SMPI Tahun 2024 di Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Depok

Kamis, 23 Mei 2024 - 21:56

SMP Tirtajaya Depok Adakan Tour Wisuda to Yogyakarta Bersama Dirgantara AIA Tour Travel

Kamis, 23 Mei 2024 - 21:53

Mengulik Kedalaman Pasukan Tim Atalanta dan Leverkusen Jelang Final Liga Eropa 2024

Kamis, 23 Mei 2024 - 21:51

Punya Skema Permainan Sama, Sanggupkah Tim Liga Italia Atalanta Patahkan Rekor Tim Liga Jerman Leverkusen di Final Liga Eropa 2024 ?

Kamis, 23 Mei 2024 - 12:00

85 Tahun, Puluhan Ribu Alumni Pesantren Darunnajah Dedikasikan Untuk Bangsa dan Agama

Rabu, 22 Mei 2024 - 12:38

Deklarasi Menteri WWF ke-10 Angkat Pengelolaan Air Terpadu pada Pulau Kecil

Selasa, 21 Mei 2024 - 17:47

Kenapa Klub Seri-A Como 1907 Tidak Tertarik Rekrut Tom Haye ? ini Alasannya

Berita Terbaru