Produk Lokal Masih Kalah Dari Produk Asing

- Reporter

Minggu, 24 Februari 2019 - 20:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siarandepok.com – Bisnis waralaba atau franchise produk lokal masih kalah dari franchise produk asing.

Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) memprediksi pertumbuhan franchise produk lokal akan stagnan, sedangkan franchise produk mancanegara tumbuh sekitar 5 persen.

Melihat kondisi ini, Ketua Kehormatan AFI, Anang Sukandar meminta pemerintah agar memperhatikan keberadaan dan nasib penggerak franchise produk. Pasalnya, selama ini pemerintah tidak pernah mengalokasi anggaran di sektor ini.

“Dari dulu saya sudah bilang, mau endak mau pemerintah harus memegang peranan. Jadi, jawabannya selalu kita tidak punya budget. Kita tidak punya anggaran,” kata Anang di Jakarta, Sabtu (23/2).

Menurut Anang, kondisi ini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan negar-negara lain. Seperti Amerika Serikat, Australia, Malaysia hingga Singapura yang menganggarkan dana untuk mendukung keberadaan franchise produk lokal.

Malaysia misalnya, sejak 2003 silam sudah mempunyai program untuk memajukan dan mendukung sekira 500-an franchise produk lokal. Bahkan anggarannya mencapai 500 ringit Malaysia.

“Kita bilang aja Singapura, 75 persen biaya konsultan dipikul oleh pemerintah. Kalau mereka mau keluar negeri ikut pameren itu dibiayai oleh pemerintah,” katanya memberi contoh.

Meskipun demikian, Anang tak berharap banyak kepada pemerintah supaya mengucurkan dana untuk hal ini. Tetapi, sisi lain Anang menilai bisnis waralaba merupakan bagian dari ekonomi kerakyatan yang memberikan dampak perekonomian Indonesia secara umum.

“Di Indonesia, kita enggak punya anggaran. Baru belakangan ini saya lihat pak Jokowi mulai (memahami) bahwa franchise itu cocok Indonesia. Kenapa? karena di Indonesia 70-80 persen dari pelaku bisnis itu adalah usaha-usaha kecil,” sebutnya.

“Sebetulnya franchise adalah ekonomi kerakyatan. Kerena ekonomi kerakyatan diselenggarakan dari orang banyak dan untuk orang banyak,” tambah Anang.

Minim dan rendahnya pertumbuhan itu tidak hanya dipengaruhi oleh persaingan dengan asing, akan tetapi karena faktor sikap yang tidak sabar oleh pelaku usaha. Bahkan tak jarang yang harus berguguran.

“Banyak industri, terutama di kuliner. Makanan dan minuman, terutama memang di kuliner banyak sekali,” pungkasnya.

 

Penulis : Dian Mutia Sari

Editor : Muthia Dewi Safira

 

Berita Terkait

Pemkot Depok Targetkan UGK 93 Bidang Tanah Parung Bingung Rampung Desember 2026
143 SPPG di Depok Sudah Kantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi
Pemkot Depok Usulkan 9 Hektare Lahan untuk Pertanian Pangan
DLHK Depok Benahi Fasilitas Alun-alun Barat, Pagar Retak Jadi Perhatian
DLHK Pastikan Kualitas Udara Depok Aman Sepekan Pascapaparan Abu Vulkanik
Penduduk Depok Tembus 2,05 Juta Jiwa, Perekaman KTP-el Capai 99,60 Persen
Chandra Rahmansyah Hadiri Hari Tenun Nasional 2026 di UI, Dorong Pelestarian Budaya
Satpol PP Depok Amankan 1.972 Botol Miras Ilegal

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 13:30 WIB

Pemkot Depok Targetkan UGK 93 Bidang Tanah Parung Bingung Rampung Desember 2026

Rabu, 16 September 2026 - 13:20 WIB

143 SPPG di Depok Sudah Kantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi

Rabu, 16 September 2026 - 13:02 WIB

Pemkot Depok Usulkan 9 Hektare Lahan untuk Pertanian Pangan

Rabu, 16 September 2026 - 13:00 WIB

DLHK Depok Benahi Fasilitas Alun-alun Barat, Pagar Retak Jadi Perhatian

Selasa, 15 September 2026 - 20:37 WIB

DLHK Pastikan Kualitas Udara Depok Aman Sepekan Pascapaparan Abu Vulkanik

Selasa, 15 September 2026 - 20:32 WIB

Chandra Rahmansyah Hadiri Hari Tenun Nasional 2026 di UI, Dorong Pelestarian Budaya

Selasa, 15 September 2026 - 20:30 WIB

Satpol PP Depok Amankan 1.972 Botol Miras Ilegal

Selasa, 15 September 2026 - 20:27 WIB

Bagian dari Pendidikan, Santriwati Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Nobar Film ISTIMEWA di Bogor Trade Mall

Berita Terbaru