Mengikis Cinta Dunia dengan Berpuasa

- Reporter

Jumat, 25 Mei 2018 - 11:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Kita kerap kali lupa bahwa hidup ini begitu sementara. Selalu saja kita congkak, merasa benar sendiri, dan tak jarang menguasai milik saudara sendiri secara zalim. Ukuran kebenaran dan keberhasilan hanya sebatas yang membuat kita senang. Jadilah kita orang yang hanya mengejar dan mengumpulkan dunia dan isinya.

Sangkaan kita harta itu kekal dan membahagiakan, kekuasaan membuat kita dimuliakan, dan kebesaran itu membuat kita tersanjung. Padahal kita hanya membutuhkan sedikit saja dari apa yang ada di dunia. Benar kiranya yang dikatakan Socrates, “Alangkah banyaknya yang tidak saya butuhkan di dunia ini.”.

Entah, seperti apa masa depan manusia bila ukuran kebahagiaan dan kebenaran adalah dunia. Anehnya, mengapa puasa belum juga membuahkan kesadaran keruhanian? Bukankah puasa itu ibadah personal yang bermakna spiritual? Sebuah hubungan kepada Allah yang dibangun secara khusus untuk menggapai kebenaran dan kebahagiaan hakiki.

Tetapi mengapa kita sering kali membohongi Allah dengan berpura-pura mencintai-Nya, padahal selama ini kita hanya mencintai dunia dan diri kita sendiri? Tidakkah kita sadar bahwa tujuan utama puasa yang dimaksudkan Allah itu ada tiga, yaitu agar kita bertakwa, supaya kita selalu bersyukur, dan mudah-mudahan kita selalu mendapat petunjuk.

Agar puasa kita mampu mengikis dunia dari hati kita dan menjadikan kita pribadi yang merasa cukup dengan dunia, penting kiranya kita perhatikan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Abu Hurairah, maukah engkau aku tunjukkan tentang dunia ini?” Abu Hurairah menjawab “Mau, wahai Rasulullah”. Sejurus, Rasulullah memegang tanganku dan pergi mengajakku. Tepat, beliau berhenti di suatu tempat yang penuh dengan kotoran. Bukan hanya itu, tengkorak manusia dan tulang-belulang berserakan di situ. Bahkan juga ada kain-kain yang berlumur kotoran.

Lalu Rasulullah bersabda kepadaku, “Wahai Abu Hurairah, seperti engkau lihat sendiri, tengkorak manusia ini sama seperti kepala-kepala kalian. Kepala-kepala ini dipenuhi dengan nafsu dan angan-angan  untuk mengumpulkan dunia dan menguasai seluruh isinya. Tetapi kini, seperti engkau saksikan, tulang-belulang mereka berserakan, pun jasad mereka hancur berantakan. Dan kain-kain itu adalah pakaian yang mereka gunakan semasa di dunia sebagai perhiasan dan kebanggaan. Namun sekarang, kain-kain itu telah dihembuskan angin dan berlumur dengan kotoran ini . Tulang-tulang ini dahulu mereka gunakan dengan sesuka hati untuk mengelilingi dunia dan segala penjurunya.

Sedangkan tumpukan kotoran ini adalah makanan lezat semasa di dunia. Mereka mendapatkannya dengan berbagai cara. Dengan cara yang tidak benar pun mereka lakukan, yang penting keinginan terlaksana. Sebagian mereka merebutnya dari sebagian yang lain, maka kini mereka dilemparkan ke dalam kebusukan yang luar biasa, sehingga tak ada seorang pun yang mau berdekat-dekatan dengannya, karena baunya yang begitu menyengat dan membuat dada sesak”.

Dengan sangat santun, Allah menyuruh kita untuk menahan lapar, dahaga  dan melakukan hubungan seksual di siang hari tak lain agar kita bisa kembali menjadi manusia suci. Suci dari segala macam angan-angan yang bertabur kemegahan, pesta pora, dan menuruti nafsu angkara murka.

Lapar saat berpuasa bisa bermakna pembakaran kotoran. Menahan hasrat seksual hakikatnya menjadi pembeda antara hewan dan manusia. Lapar, kata Sang Hujjatul Islam al-Ghazali, dapat menjernihkan hati dan pikiran. Bahkan lapar, kata Rasulullah SAW,  dapat mempertajam hati dan pikiran. Saudaraku, dengan begitu berpuasa bisa menjadikan hati kita jernih dan pikiran kita tajam. Mungkinkah, hati yang jernih dan pikiran yang tajam bisa terus menerus membuat kita jadi cinta dunia?

Kiranya, di bulan suci ini, mari kita membersihkan diri. Kalau kita cermati, sabda Sang Nabi di atas, menerangkan betapa kita telah pergi jauh meninggalkan kebenaran dan kesucian. Pada sangkaan kita, diri kita selalu suci padahal nyatanya begitu kotor dan berlumur dosa. Sungguh, Maha Benar Engkau Ya Allah, “Janganlah kamu anggap dirimu itu suci padahal hanya Allah yang paling tahu siapa (yang sebenarnya) bertakwa.” (QS. al-Najm/53: 32).

Mereka yang berhasil puasa Ramadhan adalah mereka yang bisa mensucikan dirinya dari mencintai dunia dan takut akan kematian. Memilih akhirat dari dunia adalah bukti bahwa kita benar-benar mau menjadi pribadi yang bersih diri secara lahir dan batin.

Allah berfirman, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan (kebaikan dan keburukan). Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. al-Syams/91: 9-10).  Mudah-mudahan Ramadhan tahun ini menjadi “titik hidayah”  bagi kita agar bisa mengikis cinta dunia di hati kita. Aamin.*

 

Editor: Nadia

 

Berita Terkait

Mengetahui Perbedaan lama Waktu berpuasa diberbagai Negara
Meski Berpuasa, Gigi Tetap harus Sehat dan mulut Tidak Bau, Ini Caranya 
Tradisi Unik diberbagai negara dalam menyambut Ramadhan
Fiesta Bintang Lima gelar Fun Gathering Road To Ramadan 2024
Aksi Sosial Ramadan 1445 H, PERSIS dan PERSISTRI Kota Tangerang Ajak Masyarakat Realisasikan Target 1000 Paket Sembako dan Berbagi Takjil
Sibuk namun Ingin Khatam Al-Qur’an di Bulan Ramadhan? Ini Strateginya
Memahami Kehadiran Malam Lailatul Qadar dan Keistimewaannya
Bulan Puasa Ramadhan Segera Tiba, Apa yang perlu disiapkan dan Dilakukan?

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 06:59 WIB

HUT ke 18, PIRA Depok Peduli Kompak Bergerak dan Berdampak

Selasa, 13 Oktober 2026 - 09:52 WIB

PRIMAGEN kenalkan Tes Minat Bakat di Event Pramono SPEKIX 2026 di JCC Senayan Jakarta, Dorong Anak Disabilitas Mapping Talent Mapping Sejak Dini

Senin, 12 Oktober 2026 - 21:34 WIB

Dana RW Rp300 Juta Bukan Sekadar Bangun Jalan! RW 10 Kelurahan RJB Pancoran Mas Kota Depok Depok Pilih Mobil Siaga, Ini Alasannya

Senin, 12 Oktober 2026 - 07:32 WIB

PRIMAGEN dan FORKESI Hadirkan Tes Pemetaan Minat Bakat Anak Spesial di SPEKIX 2026

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:25 WIB

Al Siddiq International School Pondok Gede Bekasi Hadirkan Pembicara Parenting Alumni Gontor Dr Awaluddin Faj, M.Pd

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:27 WIB

Rasakan Banyak Manfaat, Warga Sukatani Tapos Ingin Wisata Keberagaman terus Berlanjut

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:31 WIB

Rinso dan Othman Sulap Noda Pakaian Jadi Karya Fashion di Kopikalyan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 07:39 WIB

Calon Ketua Umum HIPPI Kota Depok Beserta Calon Pengurus Memperkuat Konsolidasi Bersama Ketua DPD HIPPI Jawa Barat Sebelum Pelantikan

Berita Terbaru

Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Depok saat ini sedang menata area Jalan Cinere Raya yang berlokasi di Kecamatan Cinere. (Foto: Dok. DPUPR)

Berita Depok

Wajah Baru Jalan Cinere Raya, Bebas Macet Akhir 2026!

Rabu, 14 Okt 2026 - 20:07 WIB

Pada Rabu (14/10/26), DPUPR Kota Depok mendatangi kawasan Grand Depok City (GDC) untuk melakukan peninjauan bersama BKD dan instansi terkait. (Foto: Dok. DPUPR)

Berita Depok

Siap-Siap! Kawasan GDC Depok Bakal Dibikin Lebih Paten.

Rabu, 14 Okt 2026 - 20:04 WIB

Penandatanganan Perjanjian Bersama antara Serikat Pekerja PT Bumiputera Wisata (Hotel Bumi Wiyata) dan pihak manajemen berlangsung di Ruang Bougenville pada Selasa (13/10/26), disaksikan langsung oleh Wali Kota Depok, Supian Suri. (Sumber foto: Diskominfo Depok)

Berita Depok

Damai di Bumi Wiyata: Pemkot Depok Banjir Apresiasi

Rabu, 14 Okt 2026 - 17:13 WIB