Saatnya Iktikaf

- Reporter

Jumat, 16 Juni 2017 - 18:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hikmah Puasa Hari Ke-22

 

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA

Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Indonesia Kota Depok
dan Dosen Pascasarjana FIDKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dalam riwayat Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada iktikaf tanpa puasa”. Jadi iktikaf sangat ditekankan oleh Nabi kepada umatnya dalam bulan puasa. Iktikaf yang dimaksud, dilakukan Nabi dengan meninggalkan keluarga untuk berdiam diri di masjid (QS. al-Baqarah/2: 187).

Suasana I’tikaf Eksekutif Pejabat Kota Depok di Masjid Balaikota Depok, Kamis (15/06/2017)

Masalahnya, kalau Nabi saja melakukan iktikaf dan meramaikan masjid, mengapa masjid di tempat kita saat ini kian sepi, malah banyak ditinggalkan orang?

Secara bahasa, iktikaf itu berarti berdiam diri di masjid. Iktikaf dimaksudkan untuk mengosongkan semua urusan keduniaan dan berkonsenterasi sepenuhnya kepada Allah SWT. Tujuan tertinggi dari iktikaf tak lain agar seseorang bisa menyingkap hakikat kemanusiaan dan ketuhanan. Dengan demikian iktikaf disebut juga khalwat Rabbaniyah (keinginan menyendiri bersama Tuhan).

Berdasarkan hadits yang bersumber dari Ibnu Umar, Nabi SAW melakukan iktikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan. Hadits yang terdapat dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim ini dipertegas oleh Aisyah yang mengatakan: “Rasulullah SAW beriktikaf dalam sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan hingga Allah memanggilnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebenarnya berdiam diri di tempat suci untuk berkontempelasi tidak hanya dilakukan Nabi SAW. Allah berfirman: “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang thawaf, iktikaf, ruku’ dan sujud” (QS. al-Baqarah/2: 125).

Nabi Ibrahim sendiri berhasil “menemukan” Tuhan setelah ia menyepi dan berkonsenterasi. Rangkaian pencarian Nabi Ibrahim menyingkap tabir kebenaran, berawal dari memperhatikan alam, matahari, bulan, dan ciptaan-Nya. Hingga akhirnya ia memahami bahwa ada yang menguasai dan mengatur alam, manusia, dan pergantian siang dan malam.

Inilah fragmen al-Qur’an itu: “Ketika malam gelap mulai menyelimuti alam raya, Ibrahim melihat bintang-gemintang di langit. Beliau lantas berkata, ‘inilah tuhanku’. Namun tidak berselang lama, bintang itu lenyap ditelan awan. Beliau lalu berucap, ‘aku tidak menyukai tuhan yang lenyap dan hilang’. Setelah itu, datanglah rembulan yang bersinar cukup terang. Ibrahim berkata, ‘inilah tuhanku’. Namun rembulan itupun akhirnya lenyap. Melihat hal itu, Ibrahim kemudian berkata, ‘kalau Tuhan tidak memberikan petunjuk-Nya kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang zalim’.

Esok harinya, Ibrahim melihat matahari yang bersinar sangat terik dan panas, melebihi cahaya rembulan. Ia lalu berujar, ‘inilah tuhanku, karena ia jauh lebih besar’. Namun di sore hari, matahari itu pun menghilang. Setelah menyaksikan fenomena itu Ibrahim akhirnya berkata, ‘wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kalian persekutukan” (QS. al-An’am/6: 76-78).

Kini saatnya untuk iktikaf. Mari kita raih petunjuk Ilahi. Mohon agar diri kita dibersihkan. Minta agar kita tidak dibiarkan begitu saja tersesat dalam keadaan tidak menyadarinya. Selama ini, hasyrat kita masih bercampur nafsu. Dalam iktikaf kita minta agar semua hasyrat disucikan, tidak membuat kita terlena, dan semua ibadah kita diterima.

”Ya Allah, bila Engkau tidak beri kepada kami petunjuk-Mu, maka pasti kami termasuk orang yang zalim. Ya Allah, takdirkan kami termasuk orang mendapat petunjuk-Mu”.***

Berita Terkait

Telah Dibuka! Penerimaan Santri Baru Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Tahun Ajaran 2026-2027
Awali Tahun Baru Islam, MUI Kecamatan Pancoran Mas Gelar Subuh Keliling di Masjid Taman Firdaus Depok Jaya
Usai Musim Haji, KIAS Travel Adakan Umroh Awal Musim 1447 H:Catat Tanggalnya!
Telah Dibuka Pendaftaran Bimbel Persiapan Masuk Ma’had Al-Azhar Cairo Tahun 2025 Bersama Bimbel Primago
SMP Tirtajaya Gelar Isra Mi’raj, Sambut Kemenangan Palestina Dengan Imani Sejarah Isra’ Mi’raj
“SMP Tirtajaya dan Siaran Depok Sepakat Sinergi Promosi Sekolah Berkualitas dan Terjangkau”
Pesantren Leadership Primago adakan Seminar Kepesantrenan Tentang Mendidik Anak di Era Digital & Kunci Sukses dalam Mendidik
8 Daftar Pesantren di Depok untuk Anak, Mana yang Jadi Pilihan Parents?

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 15:15 WIB

Buku Panduan Cara Unik Promosi Sekolah Karya Dr Awaluddin Faj, M.Pd

Rabu, 29 April 2026 - 15:12 WIB

Best Seller Buku Panduan Masuk Pondok Modern Darussalam Gontor

Rabu, 29 April 2026 - 09:45 WIB

Kecamatan Pancoran Mas bersama FKUB dan Kemenag Kota Depok Gelar Harmonisasi Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat 

Rabu, 29 April 2026 - 09:43 WIB

Warga Sampaikan Keluhan Air, Lurah Pondok Cina Jembatani dengan PT Tirta Asasta Depok (Perseroda)

Rabu, 29 April 2026 - 09:41 WIB

Wawalkot Depok Hadiri Pelantikan PGPI, Dorong Penguatan Pelayanan Umat

Rabu, 29 April 2026 - 09:19 WIB

Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Depok Bangun Ekosistem Transaksi Cashless dan Digitalisasi Program Pesantren

Selasa, 28 April 2026 - 15:23 WIB

SMK Keluarga Widuri Gelar Tour Wisata Edukasi Bromo, Malang Jogja Tahun 2026 Bersama Dirgantara IAI Tour Travel Depok

Selasa, 28 April 2026 - 15:20 WIB

Jabar Perkuat Kolaborasi Lintas Lembaga untuk Perlindungan Perempuan dan Anak

Berita Terbaru

Berita Pilihan

Buku Panduan Cara Unik Promosi Sekolah Karya Dr Awaluddin Faj, M.Pd

Rabu, 29 Apr 2026 - 15:15 WIB

Berita Pilihan

Best Seller Buku Panduan Masuk Pondok Modern Darussalam Gontor

Rabu, 29 Apr 2026 - 15:12 WIB