Puasa dan Etos Kerja

- Reporter

Senin, 12 Juni 2017 - 09:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hikmah Puasa Hari Ke-17

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA
Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Indonesia Kota Depok
dan Dosen Pascasarjana FIDKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ketika Ramadhan tiba, masyarakat Arab pra-Islam menyambutnya dengan penuh gairah. Mereka menjadikan Ramadhan sebagai bulan latihan untuk menguji kekuatan fisik di tengah matahari yang begitu terik. Seperti makna dasarnya, “ramadhan” yang berarti “panas membakar”, menandai mereka untuk berlatih tempur di tengah gurun.

Harapan mereka, bila di bulan “panas membakar” itu mereka bisa berlatih-tempur dengan baik, maka di bulan lain bisa dipastikan mereka akan digdaya mengalahkan musuh yang berasal dari suku atau kabilah lain.

Parameter ini, dalam batasan yang hampir sama tetapi dengan tujuan yang sangat berbeda terus berlaku di tengah masyarakat Arab pada masa Islam. Ramadhan tetap berarti bulan yang terik-menyengat, di dalamnya kaum muslim berlatih, tapi bukan untuk bertempur di medan laga melawan musuh di bulan lain. Tetapi untuk tujuan yang bersifat holistik, yakni medis-psikologis dan metafisik-spiritual.

Dalam masa Islam “semangat” itu terus tumbuh. Misalnya, seperti terukir indah dalam sejarah Islam, bahwa pada bulan Ramadhan banyak peristiwa spektakuler dan heroisme terjadi.

Misalnya, pada tanggal 17 Ramadhan Nabi SAW untuk pertama kali menerima wahyu di Gua Hiro dan untuk pertama kali pula pecah perang Badar di mana kaum Muslim memperoleh kemenangan pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 H. Lalu, pembebasan kota Mekah yang dikenal dengan Fathu Makkah terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 H.

Begitu pula perang terakhir yang diikuti Nabi, yakni Perang Tabuk terjadi pada Ramadhan 9 H. Episode selanjutnya, kaum Muslim berhasil menaklukkan Hulaghu Khan pada 15 Ramadhan 658 H.

Termasuk penaklukan Romawi dalam Perang Buwaib pun terjadi pada Ramadhan 13 H. Pada Ramadhan 91 H, kaum Muslim pun berhasil merebut kota Andalusia, kini Spanyol, dan setahun kemudian Thariq bin Ziyad mengalahkan Roderick, panglima kaum Salib. Dan masih banyak lagi, termasuk kemerdekaan negeri ini dari bangsa penjajah terjadi pada tanggal 8 Ramadhan 1364 H.

Becermin pada semua kisah nyata di atas, tidak sepantasnya bila pada bulan suci ini kita bermalas-malasan, tidak produktif, dan banyak tidur karena puasa. Ramadhan sejatinya mampu memicu optimisme untuk meningkatkan semangat dan produktivitas kerja.

Karena pada bulan ini, kita mendapatkan suntikan energi batin yang luar biasa di samping kesehatan jasmani yang kian stabil. Tetapi, energi batin itulah sebenarnya yang lebih berperan memacu optimisme. Bahkan Jalaluddin Rumi mengatakan, “mata hati memiliki kemampuan 70 kali lebih besar untuk melihat kebenaran daripada dua mata jasmani (indera)”.

Optimisme bukan kepercayaan diri yang berlebihan tanpa kontrol. Bukan pula memaksakan jiwa dan menyiksanya dengan beban berat. Tetapi optimisme merupakan semangat lahir-batin untuk berupaya dan terus berusaha mendapatkan yang terbaik.

Optimisme, dengan begitu, menyingkirkan kesulitan untuk menggapai kemudahan. Mematahkan rasa malas, bosan, penat dan menggantikannya dengan semangat, keyakinan, dan harapan. Optimisme muncul karena janji Tuhan: “Sesungguhnya sesudah kesulitan (yang mendera) itu (akan datang) kemudahan” (QS. Alam Nasyrah/94: 5).

Dengan semangat Ramadhan, mari kita balut diri kita dengan optimisme dan etos kerja. Realisasikan setumpuk konsep menjadi karya yang bermanfaat. Tinggalkan kesan klasik, bahwa banyak tidur di bulan Ramadhan sebagai ibadah.

Padahal hadits Nabi SAW itu dimaksudkan bagi orang yang kelelahan setelah banyak bekerja dan beribadah. Nabi pernah mewanti-wanti kita dengan mengatakan: “Masalah yang paling aku takutkan terjadi pada umatku adalah besar perut atau hobi makan, terus-menerus tidur, kemalasan, dan lemah keyakinan” (HR. Daruquthni).

Jadi, masih pantaskah kita malas, banyak tidur, dan tidak bergairah karena puasa? Masihkah kita katakan banyak tidur sebagai ibadah?

Sebagai makhluk yang sempurna dan memiliki potensi tangguh, mestinya kita mampu melahirkan karya nyata. Puasa datang justru untuk melepaskan belenggu ketidakmungkinan dan ketidakbisaan. Terus menerus bekerja, mencoba, mengulangi kegagalan, dan berlatih adalah terapinya. Kendati kita gagal, tetapi terus mencoba. Bila gagal lagi, terus saja kita semangat untuk mencoba lagi. Setidak-tidaknya kegagalan itu lebih baik dari kegagalan sebelumnya.

Inilah motivasi Allah kepada manusia: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui terhadap yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. al-Taubah/9: 105).

Saudaraku, mari kita jadikan hari ini lebih dari hari-hari yang telah berlalu. Dan kita mohon kepada Allah mulai hari ini hingga akhir hayat nanti, hari-hari yang kita jalani bertabur kebaikan dan perbaikan, harapan dan optimisme, bekerja dan beribadah.*⁠⁠⁠⁠

Berita Terkait

Telah Dibuka! Penerimaan Santri Baru Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Tahun Ajaran 2026-2027
Awali Tahun Baru Islam, MUI Kecamatan Pancoran Mas Gelar Subuh Keliling di Masjid Taman Firdaus Depok Jaya
Usai Musim Haji, KIAS Travel Adakan Umroh Awal Musim 1447 H:Catat Tanggalnya!
Telah Dibuka Pendaftaran Bimbel Persiapan Masuk Ma’had Al-Azhar Cairo Tahun 2025 Bersama Bimbel Primago
SMP Tirtajaya Gelar Isra Mi’raj, Sambut Kemenangan Palestina Dengan Imani Sejarah Isra’ Mi’raj
“SMP Tirtajaya dan Siaran Depok Sepakat Sinergi Promosi Sekolah Berkualitas dan Terjangkau”
Pesantren Leadership Primago adakan Seminar Kepesantrenan Tentang Mendidik Anak di Era Digital & Kunci Sukses dalam Mendidik
8 Daftar Pesantren di Depok untuk Anak, Mana yang Jadi Pilihan Parents?

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 14:31 WIB

Kajian Subuh Pagi (KSP) “Vibe Positif, Prestasi Melejit: Rahasia 24 Jam Membangun Karakter Pemimpin di Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago” Bersama Dr Awaluddin Faj, M.Pd

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:15 WIB

Big Field Trip MI Mumtaza Islamic School 2026

Rabu, 3 Juni 2026 - 07:19 WIB

Lurah Cilangkap Galih Catur Prasetya.S.STP dan DSS Kota Depok tinjau mix Farming di Rusunawa Cilangkap Tapos,Depok

Selasa, 2 Juni 2026 - 17:36 WIB

Program Kelas Persiapan Masuk Gontor Terbaik di Jabodetabek Bersama Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Depok

Selasa, 2 Juni 2026 - 17:20 WIB

Gak Cuma Jago Ngaji, Santri Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Borong 11 Medali di IPB Championship 2026!

Senin, 1 Juni 2026 - 23:04 WIB

MI AL Hidayah Rawadenok Depok Adakan Kegiatan Goes To Bandung Tahun 2026 Bersama Dirgantara AIA Tour Travel

Senin, 1 Juni 2026 - 16:25 WIB

SMP Kemala Bhayangkari 2 Jakarta Selatan Gelar Kegiatan Goes To Yogyakarta 2026 Bersama Dirgantara AIA Tour Travel

Sabtu, 30 Mei 2026 - 09:48 WIB

DKM Mushola Al-Mu’min, Sukatani Tapos Depok Tebar Semangat Keikhlasan dan Kepedulian Melalui Pemotongan Hewan Kurban

Berita Terbaru

Berita

Big Field Trip MI Mumtaza Islamic School 2026

Jumat, 5 Jun 2026 - 22:15 WIB