
SIARANDEPOK.COM – DEPOK – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak kesehatan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mengalami erupsi sejak Jumat (4/9/2026) malam.
Penanganan difokuskan pada pemantauan kualitas udara dalam ruangan oleh sanitarian puskesmas serta mengantisipasi kemungkinan peningkatan gangguan saluran pernapasan di masyarakat.
Berdasarkan data yang terlaporkan melalui aplikasi RI DHIS2 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, tercatat 281 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Depok pada 7 September 2026.
Jumlah tersebut meningkat menjadi 1.619 kasus pada 8 September, sebelum turun menjadi 1.435 kasus pada 9 September 2026.
Kepala Dinkes Kota Depok, Devi Maryori, mengatakan peningkatan kasus tersebut menjadi sinyal untuk memperketat pemantauan kesehatan di wilayah.
“Peningkatan gangguan pernapasan tersebut menjadi sinyal kewaspadaan epidemiologis, terutama dalam situasi adanya potensi paparan abu vulkanik. Abu vulkanik mengandung partikel halus yang dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperberat keluhan pada kelompok rentan,” ujarnya.
Meski terjadi peningkatan kasus, Devi menegaskan jumlah tersebut belum dapat langsung disimpulkan sebagai dampak paparan abu vulkanik.
Menurutnya, ISPA dapat disebabkan berbagai faktor, seperti infeksi virus atau bakteri, kondisi cuaca, kualitas udara, hingga pola kunjungan dan kelengkapan pelaporan fasilitas pelayanan kesehatan.
Karena itu, Dinkes Depok akan melakukan surveilans aktif dan analisis lebih lanjut untuk mengetahui perkembangan kasus di masing-masing wilayah.
“Kami akan memantau tren kasus ISPA harian di masing-masing Puskesmas dan wilayah. Serta, membandingkan dengan baseline periode sebelumnya, serta mengidentifikasi peningkatan kasus yang tidak biasa,” pungkasnya.














